Rabu, 25 Februari 2015

23 Februari 2015

23 Februari 2015 tepat 10 Tahun Papa Meninggal

Kondisi tahun 2015 yang menggambarkan tahun penuh sensasi serta semangat yang bersatu padu menentukan satu tujuan yakni bahagia. Terlepas dari itu semua ada hal unik nan bersejarah yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja ketika memasuki bulan Februari 2015. Pagi itu disela sela keberangkatan saya kekantor dan gina ke kampus, mama sempat menyampaikan nanti tanggal 23 Februari papa sudah 10 tahun yank. Kalimat tersebut terucap begitu saja di sela sela waktu singkat tanpa memperdulikan suasana yang ada. Begitulah keluarga saya yang terdiri mama, saya dan si gendut Gina. Sesekali berbicara serius, sesekali berbicara santai namun tidak pernah direncanakan. Bayangkan 10 tahun di tanggal 23 Februari 2015 itu menandakan 10 tahun perjuangan mama sebagai single fighter dalam mengurusi kehidupan saya dan Gina.
Jika di lihat ulang 10 tahun yang lalu ketika Gina masih 4 SD dan saya kelas 3 SMP beberapa pekan akan menghadapi Ujian Nasional. Papa meninggalkan kami dengan beberapa cerita singkat serta kisah seorang ayah kepada para anak-anaknya. Keras, tegas, pemarah dan mengayomi itu warna yang begitu rumit selalu ada dalam kehidupan kami. Papa selalu mengajarkan Ibadah nomor 1, salat dll itu menjadi prioritas yang harus dibiasakan ketika saya dan Gina masih kecil. Disaat kondisi kaki papa sedang enakan(kondisi papa sakit rematik) papa langsung mengajak kami sekeluarga untuk bisa salat berjamaah. Beberapa surah Al Quran yang menjadi favorit papa ketika menjadi Imam, alhamdulillah sudah saya taklukan. Hal ini memberikan satu contoh dasar yang tanpa diberitahukan kita sebagai seorang anak laki laki yang kelak nanti menjadi Imam di keluarga harus bisa. Ad Dhuha menjadi salah satu surat di dalam Al Qur’an yang saya sangat ingat sekali dikarenakan papa langsung yang mengajarkan untuk saya hafal pada saat SD, saat itu ketika di mobil papa selalu mengetes saya.
Papa sebagai seorang PNS yang bekerja di RSPAD Jakarta, bekerja cukup santai dan sesekali pernah mengajak saya ke kantornya, meskipun disaat itu saya masih kecil serta memiliki penyakit asma yang cukup akut. Rekan rekan papa hampir semua perokok jadi ketika saya keruangan papa, pasti saya tidak tahan lama berada disana. Ketika pergi ke Mabes TNI di Cilangkap, papa pernah bilang Iyank, kamu salam ke orang yang lebih tua nanti ketika papa suruh ya, kalo papa ga bilang, ga usah sun tangan. Gilang kecil meskipun bandel selalu berusaha mengikuti perintah papa. Dahulu jika dibandingkan dengan Gina si gendut. Saya lebih mendapat perhatian lebih baik dibanding dia, ketika itu setiap ada Happy Meal di MCD pasti saya minta dibelikan oleh Papa sepulang dari kantor. Saya masih ingat ketika saya masih Tk, di malam itu saya, mama dan papa pergi ke mangga dua kalo tidak salah, saya tertidur di mobil, lalu ketika saya bangun saya kaget karena didepan muka saya sudah ada game SEGA (console game di zamannya). Ketika kelas 4 SD pun setelah saya di sunat, papa menjanjikan untuk membelikan Play Station. Saya ketika kecil memang sudah dijejali untuk bermain game, tanpa saya sadari sampai sekarang game yang saya suka yakni bola memang terbawa ketika dulu saya kecil. Bahkan teringat dahulu ketika bermain game Grand Turismo bersama papa. Mungkin hanya sekali main karena setelah itu jarang sekali bermain bersama papa lagi.

Berlanjut,,

Rabu, 11 Februari 2015

efek membaca buku Sabtu Bersama Bapak karya Adithya Mulya

Dalam beberapa hal peran ayah tidak akan mungkin dengan mudahnya diganti oleh seorang ibu. Hal ini jelas sekali ketika seorang sahabat bertanya kepada Nabi Besar Muhammad SAW, wahai rosul siapakah orang pertama yang harus saya hormati ? Umi. Yang kedua ? Umi. Yang ketiga ? Umi. Barulah yang keempat Abi (ayah). Konteks jelas ini menggambarkan arti kata sesungguhnya dalam etika serta aspek penting dalam berkeluarga.

Jangankan sebagai orang tua, kita sebagai anak pun kadang suka banyak melakukan dosa kepada orang tua , padahal jasa atau hal yang kita berikan kepada orang tua ketika nanti sudah bekerja atau berpenghasilan TIDAK AKAN PERNAH terganti jika dibandingkan perjuangan orang tua dengan ikhlas merawat kita hingga umur sekarang ini. Ada kisah seorang sahabat yang memiliki orangtua yang lumpuh. Setiap hari selalu digendong oleh anak tersebut, anak tersebut tidak menggendong ibu nya disaat ia sedang melakukan salat. Begitu ikhlas dan baktinya anak itu pada ibunda tercintanya. Suatu ketika sahabat tersebut bertanya pada Rasulullah SAW , wahai rasul setiap hari aku gendong ibu untuk melakukan hal yang baik untuknya. Aku hanya menaruh ibu (tidak mengendong) diwaktu aku melakukan salat, wahai Rasul apakah yang saya kerjakan ini setimpal atau bisa membalas kasih sayang ibu kita ? rasul menjawab tidak akan bisa hal apapun untuk membalas jasa jasa orang tua yang melahirkan kita.

Orang tua saya khusunya ayah selalu memberikan satu gertakan pembelajaran yang keras, meskipun disaat kecil saya agak kurang suka cara seperti itu. Namun pada akhirnya setelah hampir 10 tahun tanpa ayah, saya berfikir apabila pada waktu itu tidak dididik seperti itu bagaimana saya hari ini. Hikmah yang datang bukan tanpa perantara atau cerita alur yang deras. Hikmah akan terus datang dikala kita mensyukuri apa yang kita dapatkan disetiap harinya. Saya pada umur 11 tahun diajak ayah ke depan kursi teras, beliau bilang ayo sini nak ngobrol berdua secara laki laki. ( ketika menulis ini pun ingin sekali menangis) karena momen tersebut momen yang cukup mahal karena disaat sakit ayah masih ingin berdiskusi berdua secara jantan. ingin sekali rasanya di umur sekarang ada bahasan seperti itu, sini nak ayo kita diskusi berdua secara laki-laki, pasti saya bisa lebih baik karena mendapatkan arahan hidup yang jelas dari seorang ayah. Ayah yang emosi dan keras dalam berbicara ini memberikan arti ketegasan dalam bersikap. Sewaktu SMP saya ingin sekali merasakan memiliki ayah yang sehat, yang selalu ada untuk anak laki lakinya. Kisah air mata yang tidak akan saya lupa adalah ayah menangis (menitihkan air mata) ketika saya di SUNAT. Ini memen yang indah, dimana di hari itu ayah tidak sama sekali marah, hanya hari itu saja sih. Ketika melihat sebuah keluarga yang setiap pekannya bisa pergi berjalan jalan keluar dengan kendaraan mobil yang nyaman, ini sangat indah. Teringat dulu sewaktu kecil dikala memiliki mobil ayah sengaja mengajak mama, gendut dan supir nya rekan papah untuk pergi ke Bogor hanya untuk makan SOP Kaki Bang Kumis (sop yang sampai hari ini masih berjualan dan saya melihatnya). Jika hal yang dikenang memang sangat sangat indah. Mama pun selalu berulang mengatakan yang kalo ayah masih ada mungkin sekarang mama belum bisa berjualan serta urus Posyandu dll. Kerjaan mama yang urus papah saja. Kalimat unik pengandaian yang sebenarnya tidak boleh ada dalam kamus kehidupan. Namun mama sebagai seorang yang single fighter selama 10 tahun begitu senang ketika diceritakan tentang ayah pada masa dulu. Cerita bagaimana mama dikejar ayah sampai naik angkot ketika di Bandung. Serta pada akhirnya selepas SPG(SMA Guru) atas nasihat nenek (mama nya mama) mama pun nerima lamaran ayah. Saya berfikir bisa gitu ya,,,

24 menuju 25, di Februari ini akhirnya anak anak mama dan ayah semua setidaknya mencicipi menjadi seorang guru, meskipun si gendut baru saja mendapatkan 2 murid dan dia mengajar privat. Saya jujur sungguh senang karena dia bisa mendapatkan kesibukkannya yang lebih baik dibanding harus hanya tidur di rumah. Saya bilang ke mama, mah, kan mama yang sekolah guru ko anak anaknya sekarang pada jadi guru. mama juga tidak tahu yang, mama juga dulu tidak ingin jadi guru ya tapi masuk SPG karena mama bisa masuk SPG(Sekolah Pendidikan Guru)

sekilas cerita pribadi yang sangat berkesan yang harus ditulis di blog ini
selanjutnya buku Sabtu bersama bapak karya Adithya Mulia, merupakan buku yang pertama kali saya baca tentang bagaimana seorang ayah yang berjuang melawan kangker namun sudah yakin pasti sebentar lagi akan meninggal, maka mencari cara agar di saat anak anaknya besar nanti segala nasihat yang ingin ia sampaikan bisa terekam dalam Handycam ini.

kasih ayah sepanjang masa
anak tanpa ayah bukan anak tanpa arah
anak tanpa ayah adalah anak yang mencari arah
anak tanpa ayah adalah anak yang kuat untuk keluarganya
anak tanpa ayah bukan anak yang pasrah pada keadaan
anak tanpa ayah bukan anak yang tidak memiliki iman
anak tanpa ayah akan selalu membuat bangga ayahnya meskipun ayah nya telah tiada.


sekian,,
Ainan


  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...