23 Februari
2015 tepat 10 Tahun Papa Meninggal
Kondisi tahun 2015 yang menggambarkan
tahun penuh sensasi serta semangat yang bersatu padu menentukan satu tujuan
yakni bahagia. Terlepas dari itu semua ada hal unik nan bersejarah yang tidak
bisa ditinggalkan begitu saja ketika memasuki bulan Februari 2015. Pagi itu
disela sela keberangkatan saya kekantor dan gina ke kampus, mama sempat
menyampaikan nanti tanggal 23 Februari papa sudah 10 tahun yank. Kalimat
tersebut terucap begitu saja di sela sela waktu singkat tanpa memperdulikan
suasana yang ada. Begitulah keluarga saya yang terdiri mama, saya dan si gendut
Gina. Sesekali berbicara serius, sesekali berbicara santai namun tidak pernah
direncanakan. Bayangkan 10 tahun di tanggal 23 Februari 2015 itu menandakan 10
tahun perjuangan mama sebagai single
fighter dalam mengurusi kehidupan saya dan Gina.
Jika di lihat ulang 10 tahun yang lalu
ketika Gina masih 4 SD dan saya kelas 3 SMP beberapa pekan akan menghadapi
Ujian Nasional. Papa meninggalkan kami dengan beberapa cerita singkat serta
kisah seorang ayah kepada para anak-anaknya. Keras, tegas, pemarah dan
mengayomi itu warna yang begitu rumit selalu ada dalam kehidupan kami. Papa
selalu mengajarkan Ibadah nomor 1, salat dll itu menjadi prioritas yang harus
dibiasakan ketika saya dan Gina masih kecil. Disaat kondisi kaki papa sedang
enakan(kondisi papa sakit rematik) papa langsung mengajak kami sekeluarga untuk
bisa salat berjamaah. Beberapa surah Al Quran yang menjadi favorit papa ketika
menjadi Imam, alhamdulillah sudah saya taklukan. Hal ini memberikan satu contoh
dasar yang tanpa diberitahukan kita sebagai seorang anak laki laki yang kelak
nanti menjadi Imam di keluarga harus bisa. Ad Dhuha menjadi salah satu surat di
dalam Al Qur’an yang saya sangat ingat sekali dikarenakan papa langsung yang
mengajarkan untuk saya hafal pada saat SD, saat itu ketika di mobil papa selalu
mengetes saya.
Papa sebagai seorang PNS yang bekerja di
RSPAD Jakarta, bekerja cukup santai dan sesekali pernah mengajak saya ke
kantornya, meskipun disaat itu saya masih kecil serta memiliki penyakit asma
yang cukup akut. Rekan rekan papa hampir semua perokok jadi ketika saya
keruangan papa, pasti saya tidak tahan lama berada disana. Ketika pergi ke
Mabes TNI di Cilangkap, papa pernah bilang Iyank, kamu salam ke orang yang
lebih tua nanti ketika papa suruh ya, kalo papa ga bilang, ga usah sun tangan.
Gilang kecil meskipun bandel selalu berusaha mengikuti perintah papa. Dahulu
jika dibandingkan dengan Gina si gendut. Saya lebih mendapat perhatian lebih
baik dibanding dia, ketika itu setiap ada Happy Meal di MCD pasti saya minta
dibelikan oleh Papa sepulang dari kantor. Saya masih ingat ketika saya masih
Tk, di malam itu saya, mama dan papa pergi ke mangga dua kalo tidak salah, saya
tertidur di mobil, lalu ketika saya bangun saya kaget karena didepan muka saya
sudah ada game SEGA (console game di zamannya). Ketika kelas 4 SD pun setelah
saya di sunat, papa menjanjikan untuk membelikan Play Station. Saya ketika
kecil memang sudah dijejali untuk bermain game, tanpa saya sadari sampai sekarang
game yang saya suka yakni bola memang terbawa ketika dulu saya kecil. Bahkan teringat
dahulu ketika bermain game Grand Turismo bersama papa. Mungkin hanya sekali
main karena setelah itu jarang sekali bermain bersama papa lagi.
Berlanjut,,
