Ini merupakan tulisan yang diambil dari buku Janji para lelaki karya Saiful Ardi Imam,
Cuplikan tulisan ini tidak serta nyerta mengkritik tubuh, justru saya banyak berterimakasih kepada penulis yang menggugah semagat dalam rangka memenuhi janji seorang lelaki.
Di awali dengan seseorang yang bernama Syahdan, beliau diziinkan untuk menikah apabila sudah membelikan tanah untuk adiknya Salma oleh ibunya. Ini merupakan syarat yang tidak mudah berhubung suasana dalam cerita buku ini berlatar perang Paderi di Sumatera Barat.
Perdagangan yang begitu deras dilingkupi oleh para kompeni Belanda yang ingin mengambil alih Indonesia.
Susah sulit menjadi gambaran jelas titik nadir seorang Syahdan yang rela bekerja keras demi menuntaskan janjinya kepada sang Ibu. Padahal ibarat keringat sudah di ujung ingin sekali Syahdan melamar untuk menikahi wanita impiannya. Namun tetap saja sang Ibu selalu mengingatkan dengan tegas akan janji seorang Syahdan.
Saya sebagai pembaca akhirnya menemukan titik jelas dalam isi buku ini , pertanyaan Mengapa Syahdan harus memenuhi dulu janjinya kepada Ibu nya sebelum menikah?
Ini jawabannya :
Rustam (isteri Salma) tidak mengerti jalan pikir mertuanya. Walaupun Syahdan pernah berjanji. Tetapi sangat susah untuk menepatinya. Salah satu sebab lelaki lingkar janji adalah karena sudah menikah. Setelah menikah, lelaki akan sibuk dengan urusan keluarganya. Dengan isterinya, dengan anaknya. Sudah banyak kasus laki-laki yang lupa pada keluarga besarnya setelah menikah. Ia tenggelam dalam kesibukan hidupnya.
Andai kehidupannya nanti susah, menepati janji itu akan semakin sulit. Anaknya mungkin sakit, istrinya mungkin hamil dan seterusnya. Amak memaksa Syahdan membelikan sawah sebelum menikah hanya karena menyayangingya. Agar ia kelak bisa menikah tanpa beban. Agar ia tidak terganggu lagi dengan janji yang belum ia penuhi.
Itulah jawabnya, oleh sang Ibu....
Minggu, 23 Juli 2017
Selasa, 04 Juli 2017
28 & 29
Kita lanjutkan cerita 2 hari terakhir sebelum mudik.
Apa yang saya lakukan ?
2 hari ini menunggu malam ganjil, nongkrong di At Takwa bareng anak2, walau beberapa ada yang lagi bagahia ada juga yang sedang durjana.
Tak apa lah, terpenting kita bisa kumpul sebelum lebaran tetap menguatkan persaudaraan.
so bijak ye,,,
Klise dalam fase akhir perjuangan puasa di bulan penuh berkah menjadikan gw serasa orang yang paling menikmati rasa syukur yang Allah kasih. Perihal kesehatan, rezeki bahkan keluarga yang diberikan kenikmatan sehat walafiat. Teruntuk yang baca tulisan gw di blog, sebelumnya gw mengucapkan Taqbalallahu minna wa minkum, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
Mengacu pada buku pedoman yang gw jarang baca. Biasanya mudik itu identik dengan wangi kampung. Maksudnya apa bang wangi kampung? Nih jiwa raga kita masih di Jakarta Negara Indonesia WIB akan tetapi nyawa kita serasa sudah di kampung halaman. Kalian berasa ga? gw sih dulu ngerasa ketika masih ada nenek,kakek, saudara saudara sepuh yang ingin dijenguk dan lain halnya.
Secara sadar 1 per satu orang pergi meninggalkan kita di dunia ini tanpa sisa atau sajak perantara. Hanya pesan pesan kebaikan yang terekam dalam ingatan singkat ini. Kita bukan apa apa tanpa kata, tetapi kita bisa hidup dalam sisa kematian dalam rangkai pesan. Saat ini kita hanya ingin bertemu orang orang baru yang keluar dari mulut rahim ke dalam dunia maya ini. Inget banget ketika konsep manajemen, ada input proses dan output. Begitu pula hidup ada yang lahir (natalitas), mati (mortalitas), pindah tempat (migrasi) ketiganya serumpun seirama memiliki kekuatan batasan yang hingga.
Tak apa tidak bersua fisik, tapi doa tetaplah menjadi jembatan kalimat kebaikan yang selalu diberikan kepada orang yang sudah tiada.
Aduh terlalu serius,
begini aja,
2 hari ini (waktu itu #latepost) bener bener prepare segala kebutuhan untuk pulang mudik, walau hanya ke Bandung. Tapi gw bener-bener seriusi itu ya namanya juga laki satu satunya, kalo bukan kite ye siape lagi..????
Kita sekeluarga memiliki kebiasaan membawa kerupik bawang yang belinya di dekat SMA 16 Jakbar. Handai taulan di Bandung senang jika di bawa keripik bawang ini.
Lain halnya, ketika tidak bawa apa apa tuh kayak gimana gitu.
Intinya sih ketika senang berbagi maka berbagilah, walau hanya 1 biji kerupuk.
Setiap hari saya mengikuti berita via Twitter, TV atau media online yang menginfokan tentang arus mudik. Sebetulnya karena mendengarkan saran untuk pergi mudik pada saat malam takbiran ternyata lowong dan hanya 2,5 jam beserta buka puasa di rest area. Berangkat pukul 17.00 - 20.00 dengan istirahat salat magrib dan buka puasa selama 30 menit. Bandung pun terlampaui ketika malam tiba, bahkan ketika nge drop ibu dan adik, saya lanjutkan sendiri ke Buah Batu (disitu perjalanan nya memakan waktu hampir 1 jam dikarenakan macet banget) padahal banyak polisi yang berlalu lalang, namun agak kurang efektif.
Sesampainya disana, seperti biasa bercerita tentang perjalanan serta rencana esok Lebaran.
Kita keluarga di Bandung memiliki kebiasaan sejak zaman dahulu saya SD, salah kami usahakan di Masjid Raya Bandung. Sebenarnya sih sudah usul ke ibu supaya tahun ini lebaran dulu di Jakarta , salat di Lap Hankam, namun ibu bilang kasian di Bandung sekarang sudah tidak banyak orang.
Lanjut besok hari...masih ada 2 atau 3 tulisan yang mau gw share di awal bulan Juli ini.
Apa yang saya lakukan ?
2 hari ini menunggu malam ganjil, nongkrong di At Takwa bareng anak2, walau beberapa ada yang lagi bagahia ada juga yang sedang durjana.
Tak apa lah, terpenting kita bisa kumpul sebelum lebaran tetap menguatkan persaudaraan.
so bijak ye,,,
Klise dalam fase akhir perjuangan puasa di bulan penuh berkah menjadikan gw serasa orang yang paling menikmati rasa syukur yang Allah kasih. Perihal kesehatan, rezeki bahkan keluarga yang diberikan kenikmatan sehat walafiat. Teruntuk yang baca tulisan gw di blog, sebelumnya gw mengucapkan Taqbalallahu minna wa minkum, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
Mengacu pada buku pedoman yang gw jarang baca. Biasanya mudik itu identik dengan wangi kampung. Maksudnya apa bang wangi kampung? Nih jiwa raga kita masih di Jakarta Negara Indonesia WIB akan tetapi nyawa kita serasa sudah di kampung halaman. Kalian berasa ga? gw sih dulu ngerasa ketika masih ada nenek,kakek, saudara saudara sepuh yang ingin dijenguk dan lain halnya.
Secara sadar 1 per satu orang pergi meninggalkan kita di dunia ini tanpa sisa atau sajak perantara. Hanya pesan pesan kebaikan yang terekam dalam ingatan singkat ini. Kita bukan apa apa tanpa kata, tetapi kita bisa hidup dalam sisa kematian dalam rangkai pesan. Saat ini kita hanya ingin bertemu orang orang baru yang keluar dari mulut rahim ke dalam dunia maya ini. Inget banget ketika konsep manajemen, ada input proses dan output. Begitu pula hidup ada yang lahir (natalitas), mati (mortalitas), pindah tempat (migrasi) ketiganya serumpun seirama memiliki kekuatan batasan yang hingga.
Tak apa tidak bersua fisik, tapi doa tetaplah menjadi jembatan kalimat kebaikan yang selalu diberikan kepada orang yang sudah tiada.
Aduh terlalu serius,
begini aja,
2 hari ini (waktu itu #latepost) bener bener prepare segala kebutuhan untuk pulang mudik, walau hanya ke Bandung. Tapi gw bener-bener seriusi itu ya namanya juga laki satu satunya, kalo bukan kite ye siape lagi..????
Kita sekeluarga memiliki kebiasaan membawa kerupik bawang yang belinya di dekat SMA 16 Jakbar. Handai taulan di Bandung senang jika di bawa keripik bawang ini.
Lain halnya, ketika tidak bawa apa apa tuh kayak gimana gitu.
Intinya sih ketika senang berbagi maka berbagilah, walau hanya 1 biji kerupuk.
Setiap hari saya mengikuti berita via Twitter, TV atau media online yang menginfokan tentang arus mudik. Sebetulnya karena mendengarkan saran untuk pergi mudik pada saat malam takbiran ternyata lowong dan hanya 2,5 jam beserta buka puasa di rest area. Berangkat pukul 17.00 - 20.00 dengan istirahat salat magrib dan buka puasa selama 30 menit. Bandung pun terlampaui ketika malam tiba, bahkan ketika nge drop ibu dan adik, saya lanjutkan sendiri ke Buah Batu (disitu perjalanan nya memakan waktu hampir 1 jam dikarenakan macet banget) padahal banyak polisi yang berlalu lalang, namun agak kurang efektif.
Sesampainya disana, seperti biasa bercerita tentang perjalanan serta rencana esok Lebaran.
Kita keluarga di Bandung memiliki kebiasaan sejak zaman dahulu saya SD, salah kami usahakan di Masjid Raya Bandung. Sebenarnya sih sudah usul ke ibu supaya tahun ini lebaran dulu di Jakarta , salat di Lap Hankam, namun ibu bilang kasian di Bandung sekarang sudah tidak banyak orang.
Lanjut besok hari...masih ada 2 atau 3 tulisan yang mau gw share di awal bulan Juli ini.
Langganan:
Komentar (Atom)
Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...
-
..............................................................................................................................................
-
Ada hikmah dalam kebersamaan Ada nikmat dalam bingkai silaturahmi Ada cinta dalam dekapan ukhuwah Bukber rasa baru, karena bebe...
