Selasa, 04 Mei 2021

Hari 20 (Sahabat lebih tinggi dibanding teman)

 Gw bersasumsi tinggi mengenai definisi ini. Gw punya teman tapi gak kayak teman, malah saling membunuh (kiasan). Teman memiliki beberapa divisi nya, ada teman sekolah, teman rumah, teman kantor dll. Gw akan highlight teman kantor, gw lebih tepatnya bilang teman 1 perusahaan. Gila sih, lo sakit udah sembuh ada surat pernyataan bisa kembali ke lingkungan tapi lo dilarang masuk ke kantor karena mereka takut diri mereka tertular dan mereka menularkan ke keluarga mereka masing-masing. 

Gw percaya banget sama doa, di sela itu gw akhrinya masuk di hari pertama setelah selesai isolasi 2 bulan. Bos bilang, makan nya nanti traktiran sekalian syukuran gw masuk katanya. Gw happy sih, gila nih baik  banget mereka sampe traktir gw. 

Tahu ga apa yang terjadi setelah selesai makan?

Gw diinterogasi mengenai masa isolasi karena memutus kontak dengn teman2 1 perusahaan. Gw jawab teges ya karna gw udah kecewa disaat butuh bantuan atau support bos malah memberikan penjelasan ke satuan covid RSm dengan selembar kertas yang menunjukan keterangan gw isolasi gak lengkap. Bayangin coba, temen deket semeja lu larang lu masuk padahal atasan RSM udah izinin masuk. Ada yang baru nikah berdalih sampe takut istrinya kena, padahal selama dikantor atau diruangan beliau tidak atau jarang mengguakan masker. Satu lagi takut ortu dan anak istrinya ketularan. Gw pahami itu dengna tenang tapi ada beberapa yang bertentangan dengan hati gw, n apa yang gw lakukan ? gw hanya berdoa sama Allah mudah2an mereka di jauhi  Corona.

Tapi apa yang terjadi 3 bulan setelah gw selesai isolasi, mereka berdua pada positif. Bos gw malah lebih parah dengan kondisi ct yang rendah. Gw cuma berdoa yang terbaik, tapi mereka malah positif.


Jadi teman kantor ini gw anggap sebagai hanya teman perlu, diluar itu ya anggap aja orang. Ga ada untung malah banyak rugi berteman dengan orang seperti itu.

Hari 19 (.....................................)

 ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Day 18 ( Terlanjur)

 Hari yang biasa saja, tanpa keinginan. 

Ini yang biasa saya alami ketika sudah Terlanjur bingung mesti ngapain. Memang ada waktu dimana kita harus berfikir sendiri cari waktu untuk sendiri. Tatkala itu terjadi belum tentu memberikan jawaban yang kita inginkan. Lagi lagi karena Terlanjur sudah dilakukan makanya baru berpikir itu baik atau enga. 

Pernah ga gitu? udah terlanjur ngomong tapi baru mikir omongan saya baik atau kurang baik ya diterima sama lawan bicara kita

Day 17 (Panik bikin keringetan)

 Satu cerita yang terjadi disekitar saya, bagaimana orang panik. Panik adalah peristiwa dalam diri yang tergerak langsung tanpa butuh difikirkan oleh otak malah menguras tenaga hormon untuk bisa mengalir deras untuk menentukan langkah apa yang bisa kita lakukan. Salah satu contohnya  adalah hormon adrenalin, beliau mengubah glikogen menjadi glukosa. Apa itu glikogen? glikogen adalah gula yang tersimpan didalam tubuh, dengan seketika saat panik tuh glikogen dirubah jadi glukosa. 

Kok keringetan> iyalah, orang panik, bingung mesti ngapain, emosi masuk, sabar menipis, ragu ragu, eh setan masuk. Ngapain dia masuk iyalah menghasut, apalagi? biar yang lagi panik jadi emosi, jadi kurang pahala puasanya atau bahkan bisa batal. 

Terkadang ujian di bulan ramadan itu bukan cuma lapar dan haus, orang yang bikin kita kesel, marah, sebel n bikin panik juga merupakan godaan nyata..

Jadi kalo panik ngapain? tenang? susah? emang. Trus, ya sabar, susah? emang. Trus ngapain? ya Istighfar dan tarik napas dalam. Biar apa? Ketika Oksigen kurang di otak bikin kita susah mikir jadinya panik, maka ketika oksigen masuk ke otak secara maksimal kita jadi bisa berpikir jernih jadinya menenangkan.

Day 16 ( Mentaati Protokol Kesehatan adalah Kebaikan)

 Pahala identik dengan kebaikan. 

Mengacu pada tausyiah Ust. Salim A Fillah mengenai " Antara Corona, Nuzulul Quran dan Lailatul Qadr".

Semua memiliki keterakaitan keterikatan karena memang pandemi masih ada dan kita sedang ada di dalam masa beribadah di bulan suci ramadan, mengejar lailatul qadr dan memaksimalkan ibadah di sisa bulan ramadan ini. 

Saya pribadi tidak ingin menulis panjang, hanya saja ada pesan yang Ust Salim sampaikan, bahwa mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker, jaga jarak dan tidak kemana kemana apabila tidak darurat itu merupakan salah satu amal kebaikan. Wallahi bayangkan apabila karena kesalahan kita orang disekitar kita menjadi tertular, mereka positif covid dan teryata nyawanya tidak terselamatkan, berarti jika kita tidak mematuhi prokes kita ikut dalam proses orang yang diceritakan tadi. Begitu pun sebaliknya apabila kita menjaga dan orang sekitar kita menjadi sehat, pahala untuk kita, serta semua menjadi bisa maksimal beribadah di bulan ramadan. 


  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...