Jumat, 09 Mei 2014

Cerita hari ini, berusaha untuk menyadari bahwa ketika kita jatuh, itu sudah sekenario ALLAH SWT

Assalammualaikum,, akhirnya pada hari ini mencoba untuk kembali membuat tulisan stelah beberapa lama vakum dalam dunia penulisan ini. Bulan setelah kepulangan dari negeri Sakura. Saya mulai belajar apa itu cara hidup, cara bahagia dan juga cara kerja. Sepengetahuan saya semua ini bisa terhimpun menjadi satu asalkan kita memiliki satu keinginan yang tersadarkan. Tersadarkan akan pola hidup realita kita hari ini, ini mnejadi bagian terpenting sebelum nanti dilanjutkan ke ikhtisar yang selanjutnya. Penulis kini mencoba untuk menjadi orang yang biasa, lari dari keramaian riuh angin, serta tidak bersandar pada pohon beringin yang begitu sejuk, bahkan bukan kelinci yang pandai meloncat untuk mencari pasangannya.

Awal ini tulisan berani dibuat dikarenakan hari ini sudah bisa mengalami sedikit perubahan keadaan hidup, menjadi orang yang bisa bahagia walaupun.... Ini bahasa anak anak SEFT tapi saya tidak peduli, karena saya bukan SEFTer. Mencoba memahami kondisi sekitar bahkan sempat terhindar dari indahnya dunia, sekarang ini bukan menjadi orang yang keras kepala dalam hal cita, namun lupa akan rimba yang menata keadaan personal.

Kerasnya hidup, kita yang alamin, sepakat sih cuma ada alasan lain kerasnya hidup kita yang hadapi, pasti lebih oke dan keren. Para tokoh terkadang lupa akan sejarahnya, atau bahkan sejarah diri pribadi pun sempat tidak pernah diingat. Pepatah tua bilang bangsa yang besar bangsa yang tidak akan melupakan sejarah. Dalam hal ini kita tidak akan tahu siapa kita ketika kita tidak pernah sadar sejarah hidup kita seperti apa.

Lingkup tulisan ini berbicara hati, hati yang cukup mahal jika dibandingkan dengan hinaan ataupun cacian. Merengek minta untuk diberi, namun lupa akan harga diri.

Dini hari, menjadi waktu terbaik untuk bisa membicarakan sejarah diri kita pada sang pencipta.
wahai kau yang disana anggunkanlah dirimu, hidupmu bukan untuk hari ini, hidup bukan untuk dilihat orang sambil menutupi keadaan sesungguhnya agar sapaan serta pujian mengalir deras ke dirimu, wahai yang disana tidak ada tanduk penyesalan karena ini pilihan anda, pilihan yang mudah mudahan bukan dikarenakan kebohongan hati yang melewati kondisi diri. Jadilah diri mu dan perbaikilah dirimu. Tegas rangkaian kata ini terucap,bukan alas gurau namun sabar tanpa harap.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...