Sabtu, 17 Desember 2016

SEJARAH MUI

Sudut Hukum | MUI atau Majelis Ulama Indonesia adalah lembaga swadayamasyarakat yang mewadahi ulama, zu'ama, dan cendekiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia. Majelis Ulama Indonesia berdiri pada tanggal, 7 Rajab 1395 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, Indonesia.

Sekilas Tentang Majelis Ulama Indonesia MUI
MUI berdiri sebagai hasil dari pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan dan zu’ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air, antara lain meliputi dua puluh enam orang ulama yang mewakili 26 Provinsi di Indonesia pada masa itu, 10 orang ulama yang merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti. Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan Al Ittihadiyyah, 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang merupakan tokoh perorangan. Dari musyawarah tersebut, dihasilkan sebuah kesepakatan untuk membentuk wadah tempat bermusyawarahnya para ulama. Zuama dan cendekiawan muslim, yang tertuang dalam sebuah “Piagam Berdirinya MUI,” yang ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yang kemudian disebut Musyawarah Nasional Ulama I.

Momentum berdirinya MUI bertepatan ketika bangsa Indonesia tengah berada pada fase kebangkitan kembali, setelah 30 tahun merdeka, di mana energi bangsa telah banyak terserap dalam perjuangan politik kelompok dan kurang peduli terhadap masalah kesejahteraan rohani umat. Dalam perjalanannya, selama dua puluh lima tahun, Majelis Ulama Indonesia sebagai wadah musyawarah para ulama, zu’ama dan cendekiawan muslim berusaha untuk :
1. Memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat Islam Indonesia dalam mewujudkan kehidupan beragama dan bermasyarakat yang diridhoi Allah SWT.
2. Memberikan nasihat dan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada Pemerintah dan masyarakat, meningkatkan kegiatan bagi terwujudnya ukhwah Islamiyah dan kerukunan antar-umat beragama dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa serta;
3. Menjadi penghubung antara ulama dan umaro (pemerintah) dan penterjemah timbal balik antara umat dan pemerintah guna mensukseskan pembangunan nasional meningkatkan hubungan serta kerjasama antar organisasi, lembaga Islam dan cendekiawan muslimin dalam memberikan bimbingan dan tuntunan kepada masyarakat khususnya umat Islam dengan mengadakan konsultasi dan informasi secara timbal balik.

Sebagai organisasi yang dilahirkan oleh para ulama, zuama dan cendekiawan muslim serta tumbuh berkembang di kalangan umat Islam, Majelis Ulama Indonesia adalah gerakan masyarakat. Dalam hal ini, Majelis Ulama Indonesia tidak berbeda dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan lain di kalangan umat Islam, yang memiliki keberadaan otonom dan menjunjung tinggi semangat kemandirian. Semangat ini ditampilkan dalam kemandirian dalam arti tidak tergantung dan terpengaruh kepada pihak-pihak lain di luar dirinya dalam mengeluarkan pandangan, pikiran, sikap dan mengambil keputusan atas nama organisasi.

Dalam kaitan dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan di kalangan umat Islam, Majelis Ulama Indonesia tidak bermaksud dan tidak dimaksudkan untuk menjadi organisasi supra-struktur yang membawahi organisasi-organisasi kemasyarakatan tersebut, dan apalagi memposisikan dirinya sebagai wadah tunggal yang mewakili kemajemukan dan keragaman umat Islam. Majelis Ulama Indonesia, sesuai niat kelahirannya adalah wadah silaturrahmi ulama, zuama dan cendekiawan Muslim dari berbagai kelompok di kalangan umat Islam.

Kemandirian Majelis Ulama Indonesia tidak berarti menghalanginya untuk menjalin hubungan dan kerjasama dengan pihak-pihak lain baik dari dalam negeri maupun luar negeri, selama dijalankan atas dasar saling menghargai posisi masing-masing serta tidak menyimpang dari visi, misi dan fungsi Majelis Ulama Indonesia. Hubungan dan kerjasama itu menunjukkan kesadaran Majelis Ulama Indonesia bahwa organisasi ini hidup dalam tatanan kehidupan bangsa yang sangat beragam, dan menjadi bagian utuh dari tatanan tersebut yang harus hidup berdampingan dan bekerjasama antar komponen bangsa untuk kebaikan dan kemajuan bangsa. Sikap Majelis Ulama Indonesia ini menjadi salah satu ikhtiar mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin (Rahmat bagi Seluruh Alam).

2. Visi dan Misi MUI
MUI sebagai organisasi yang dilahirkan oleh para ulama, dan cendikiawan muslim adalah gerakan masyarakat. Dalam hal ini, MUI tidak berbeda dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan lain di kalangan umat Islam, yang menjunjung tinggi semangat kemandirian, oleh karena itu, MUI juga mempunyai visi, misi dan peran penting MUI sebagai berikut :
1. Visi
Terciptanya kondisi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang baik, memperoleh ridlo dan ampunan Allah SWT (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur) menuju masyarakat berkualitas (khaira ummah) demi terwujudnya kejayaan Islam dan kaum muslimin (izzul Islam wal-muslimin) dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai manifestasi dari rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin)

2. Misi
a. Menggerakkan kepemimpinan dan kelembagaan umat secara efektif dengan menjadikan ulama sebagai panutan (qudwah hasanah), sehingga mampu mengarahkan dan membina umat Islam dalam menanamkan dan memupuk aqidah Islamiyah, serta menjalankan syariah Islamiyah;
b. Melaksanakan dakwah Islam, amar ma'ruf nahi mungkar dalam mengembangkan akhlak karimah agar terwujud masyarakat berkualitas (khaira ummah) dalam berbagai aspek kehidupan; 
c. Mengembangkan ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan umat Islam dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. Orientasi dan Peran MUI
Majelis Ulama Indonesia mempunyai sembilan orientasi perkhidmatan, yaitu:
1) Diniyah
Majelis Ulama Indonesia merupakan wadah perkhidmatan yang mendasari semua langkah dan kegiatannya pada nilai dan ajaran Islam yang kaffah.

2) Irsyadiyah
Majelis Ulama Indonesia merupakan wadah perkhidmatan dakwah wal irsyad, yaitu upaya untuk mengajak umat manusia kepada kebaikan serta melaksanakan amar makruf dan nahi munkar dalam arti yang seluasluasnya. Setiap kegiatan Majelis Ulama Indonesiadimaksudkan untuk dakwah dan dirancang untuk selalu berdimensi dakwah.

3) Istijabiyah
Majelis Ulama Indonesia merupakan wadah perkhidmatan yang berorientasi istijabiyah, senantiasa memberikan jawaban positif dan responsif terhadap setiap permasalahan yang dihadapi masyarakat melalui prakarsa kebajikan (amal saleh) dalam semangat berlomba dalam kebaikan (istibaq fi al-khairat).

4) Hurriyah
Majelis Ulama Indonesia merupakan wadah perkhidmatan independen yang bebas dan merdeka serta tidak tergantung maupun terpengaruh oleh pihak-pihak lain dalam mengambil keputusan, mengeluarkan pikiran, pandangan dan pendapat.

5) Ta'awuniyah
Majelis Ulama Indonesia merupakan wadah perkhidmatan yang mendasari diri pada semangat tolong menolong untuk kebaikan dan ketakwaan dalam membela kaum dhu'afa untuk meningkatkan harkat dan martabat, serta derajat kehidupan masyarakat. Semangat ini dilaksanakan atas dasar persaudaraan di kalangan seluruh lapisan umat Islam (ukhuwwah Islamiyah). Ukhuwah Islamiyah ini merupakan landasan bagi Majelis Ulama Indonesia untuk mengembangkan persaudaraan kebangsaan (ukhuwwah wathaniyyah)dan memperkukuh persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah basyariyyah).

6) Syuriyah
Majelis Ulama Indonesia merupakan wadah perkhidmatan yang menekankan prinsip musyawarah dalam mencapai permufakatan melalui pengembangan sikap demokratis, akomodatif dan aspiratif terhadap berbagai aspirasi yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat.

7) Tasamuh
Majelis Ulama Indonesia merupakan wadah perkhidmatan yang mengembangkan sikap toleransi dan moderat dalam menghadapi masalahmasalah khilafiyah.

8) Qudwah
Majelis Ulama Indonesia merupakan wadah perkhidmatan yang mengedepankan kepeloporan dan keteladanan melalui prakarsa kebajikan yang bersifat perintisan untuk kemaslahatan umat.

9) Addualiyah
Majelis Ulama Indonesia merupakan wadah perkhidmatan yang menyadari dirinya sebagai anggota masyarakat dunia yang ikut aktif memperjuangkan perdamaian dan tatanan dunia sesuai dengan ajaran Islam. 
Sedangkan dalam perannya MUI mempunyai lima peran utama yaitu:
1. Sebagai pewaris tugas-tugas para Nabi (Warasatul Anbiya)
Majelis Ulama Indonesia berperan sebagai ahli waris tugas-tugas para Nabi, yaitu menyebarkan ajaran Islam serta memperjuangkan terwujudnya suatu kehidupan sehari-hari secara arif dan bijaksana berdasarkan Islam.
2. Sebagai pemberi fatwa (Mufti)
Majelis Ulama Indonesia berperan sebagai pemberi fatwa bagi umat Islam baik diminta maupun tidak diminta. Sebagai lembaga pemberi fatwa Majelis Ulama Indonesiamengakomodasi dan menyalurkan aspirasi umat Islam Indonesia yang sangat beragam aliran paham dan pemikiran serta organisasi keagamaannya.
3. Sebagai pembimbing dan pelayan umat (Ri’ayat wa khadim al ummah)
Majelis Ulama Indonesia berperan sebagai pelayan umat (khadim al-ummah), yaitu melayani umat dan bangsa dalam memenuhi harapan, aspirasi dan tuntutan mereka. Dalam kaitan ini, Majelis Ulama Indonesia senantiasa berikhtiar memenuhi permintaan umat, baik langsung maupun tidak langsung, akan bimbingan dan fatwa keagamaan. Begitu pula, Majelis Ulama Indonesia berusaha selalu tampil di depan dalam membela  dan memperjuangkan aspirasi umat dan bangsa dalam hubungannya
dengan pemerintah.
4. Sebagai pelopor gerakan pembaharuan (al Tajdid)
Majelis Ulama Indonesia berperan sebagai pelopor al Tajdid yaitu gerakan pembaharuan pemikiran Islam.
5. Sebagai penegak amar ma'ruf nahi munkar
Majelis Ulama Indonesia berperan sebagai wahana penegakan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu dengan menegaskan kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan dengan penuh hikmah dan istiqomah

Diskusi malam, ketika saya ditanya itu orang di Penjara atau engak?

Bismillahirrahmanirrahim,,
Sebelum tulisan ini panjang lebar, mudah mudahan penulis dengan segala kekurangannya mencoba mengulang cerita diskusi malam sepulang ngajar.

Ketika pulang dan saya mau pamitan, ditanya oleh orang tua murid, menurut lu Ahok ditangkep atau engga ?
Jawaban saya enggak mungkin karena ada rahasia yang dia pegang, kalo bocor bisa kemana nanti.

pertanyaan kedua menurut lu Al Maidah 51 kasus penistaan apa bukan ?
saya jawab iya lah penistaan

ortu menyanggah bahwa itu kan yang buat MUI, lo tau ga siapa aja orang yang ada di dalam MUI?
saya jawab ga tau pak, wah kurang baca lo lang. Lu S1? S2?

saya ditanya lagi lu tau apa arti ulama<orang soleh>ustad ?
saya cuma bisajawab yang ustad karena itu guru setau saya, keduanya jawaban saya kurang tepat menurut sang ortu.

ketiga lu tau siapa yang bikin MUI ?
ga gtau pak

Itu di buat zaman Soeharto lang, jaman orde lama, dimana PPP sebagai partai politik islam siapa yang milih ketuanya > ya Soeharto, ada Muhammadiyah, NU dan ormas ormas yang tidak ternanungi itu digabungkan kedalam MUI (ini pendengaran jelas yang saya dengar) bahwa ini saya coba garis bawahi. 

Karena bodohnya saya yang kurang baca dan selalu dianggap bodoh dihadapan ortu tersebut, maka percumalah saya jwb apapun karna selalu salah cuma dia yang benar.
Namun sebelum diskusi malam selesai,
dia tanya lagi lang
Fatwa MUI lu ikut?
ya ikut lah pak

toh kan lo tau tadi itu isinya orangnya siapa aja,harusnya MUI tuh diisi sama semua multidisplin ilmu, bukan hanya orang orang tertentu. kan tadi dah gua jelasin. Oh gitu pak,

saya sanggah maap pak saya beda, karena setahu saya MUI mengeluarkan fatwa tidak sembarangan, karena pasti melalui musyawarah yang intinya dicari dalam Al Quran dan Hadis, maka dari musyawarah itu disampaikannya fatwa atau berupa Ijtihad alim ulama. Itu pak (gw jawab agak emosi)

gw tanya balik pak menurut bapk Ahok dipenjara atau tidak ? jawabannya pak I ntar dulu lang
(lucu ini serangan pertama dari saya ga mau jawab dia seolah ingin membangun opini)

gw tanya lang lu tau ga gelar KH yang ada di MUI itu bisa aja didapat dengan 4 cara, saya jawab oh gitu pak apa aja ?
KH dari Pemerintah
KH dari Media
KH dari Masyarakat
KH dari dirinya sendiri

dia punya pendapat bahwa ga kapabel MUI buat fatwa bahwa kasus Ahok adalah kasus penistaan
sebelum panjang lebar, gw langsung upper cut, pak adakah contoh KH (kiyai Haji) yang bapak tau biar saya cari di Google, beliau jawab saya lupa namanya siapa)
(lagi lagi unik, gak bisa jawab umpan balik saya )

Terus ada pertanyaan lagi, lang lu tau siapa yang paling mengerti Al Quran?
saya jawab Allah SWT pak,
pak I melanjutkan statement dengan menyebut nama orang yang paling gw benci yakni Nusron. wah si N pak, saya nonton kok yang di ILC (saya jawab dengan ceria) (Seolah olah saya sudah  mulai yakin kemana arah omongannya ini)

Lang lo tau ustad ustad dadakan yang ada di Youtube yang jenggotan (dia berbicara sambil tertawa lebar dengan gayak arogannya) itu ga bener itu,

yang benar itu dari 0 dari bawah baru keatas keliatan kepermukaan.

Ok disitu saya gak mau sanggah apa apa, karena saya tau bacaan solat beliau seperti apa, sehingga dengan ngomong kyk gtu menurut saya gak ngefek)

Uniknya lagi, kok ada ya kayak gitu banget, padahal beliau yang beli opini itu dibangun di media, tapi kok siapa yang termakan opini....


sebelum usai karena saya udah ngantuk bagnet karena perjalanan pulang memakan waktu 1 jam.

setelah ini saya amat sangat bersyukur jadi saya tahu opini dimana para pendukung ahok punya catatan apa saja untuk yang ada di perdebatkan,,,

Kalimat yang paling saya gak suka

ini ada orang baik bener tapi sayang nya bukan muslim, tapi ada pemimpin muslim malah korupsi (itu gw cuma ketawa karena bodohnya saya gak bisa membalikkannya)
Namun hari ini 17 Desember sya dapat jawaban yakni, TIDAK FER MEMBANDINGKAN DENGAN PEMIMPIN MUSLIM YANG KORUP, HARUSNYA MAU BANDINGIN SAMA PEMIMPIN ISLAM YANG BERHASIL DAN GAK KORUP ITU BARU FER

SETELAH INI SAYA AKAN MEMPOST SEJARAH MUI UNTUK MENJAWAB ATAS KEBODOHAN SAYA YANG GA TAHU SEJARAH MUI...

MUDAH MUDAHAN BAPAK SELALU BENAR DIMATA BAPAK!

Kamis, 01 Desember 2016

Dimensi akhir bulan lalu,,,

Berjalanlah walau sedih, ketika engkau yakin akan menemukan keberhasilan.
Sesuai dengan jumlah waktu yang tidak lebih dari 24 jam, kehidupan ibarat semua roda yang terus berputar. Porosnya tak berubah namun, jumlah jari jari dengan panjang yang berbeda menandakan akan adanya perbedaan serta dinamika putaran berbeda.
Walau posisi burung ketika terbang tidak menandakan dia nikmat atau tidak nya dalam melakukan kegiatan terbang. Burung tetaplah burung yang memaksimalkan apa yang ada di dalam diri nya yakni kedua sayapnya. Pertanda, kedua sayap dengan ukuran panjang yang sama harus bisa seirama menentukan berapa jumlah kepakkan sayap untuk sampai tujuannya.
Jumlah angka matematika yang tidak berubah sampai kapanpun dimulai dari sejarah penemuan angka sampai saat ini pula angka masih digunakan dalam hal apapun. Mau bagi kali tambah atau kurang tetaplah menjadi suatu keutuhan hasil yang terdeskripsikan dengan angka. Angka pula yang tidak pernah memberi tanda akan benar atau salah, karena hanya merupakan simbol pemrakarsa penentu suatu hasil. Digdaya angka sebesar apapun kalkulasinya tetap saja hanya memberikan satu jawaban pasti entah itu benar atau salah.
Preambul kebebasan sebuah tulisan membuktikan akan tidak adanya kekosongan kata kata dalam merangkai suatu cerita. Kembali ke inti persoalan, kali ini penulis ingin menggaris bawahi tentang nikmat untuk setiap orang berbeda.
Berbeda, tapi tetap satu juga (isu kebhinekaan yang sedang hangat di bahas di Indonesia)
Rejeki orang pastinya berbeda tergantung rizki yang Allah SWT berikan kepada setiap makhluknya. Menguping kutipan seorang ustad bahwa burung yang terbang berangkat di pagi hari ketika dia pulang kembali di sore hari dalam keadaan kenyang. Atau kalau ada yang pernah membaca buku lapis lapis keberkahan, Cicak diciptakan oleh Allah sudah dijamin rizkinya. Maksudnya ada nya nyamuk yang berterbangan disekitar area terirtori cecak  itu sudah menjadi rizkinya cecak. Dengan kemampuan memanjangkan lidah yang cukup panjang serta lengket, tidak jarang nyamuk nyakmuk itu terperangkap akhirnya dengan mudah menjadi santapan sang cecak. Padahal jika ditelisik lebih lanjut nyamuk terbang loh dan sang cecak hanya menempel di dinding atau langit langit. Namun disini ada hikmah nikmat yang khidmat, cecak tetap yakin akan rizkinya dengan kemampuan sederhana yang dimilikinya. Maka tinggal bagaimana usaha sang cecak untuk menjemput rizkinya dengan berhusnudzon kepada Allah SWT.
Ada beberapa pemikiran yang ada di cerbellum penulis diantaranya yakni, mengenai rizki, usaha serta iri hati. 3 kata yang memang korelasinya cukup jauh namun memiliki ikatan hidrogen yang sangat pas melihat kebutuhan sehari hari manusia sungguh sangat luar biasa adannya. Penulis menandakan curahaan tulisan ini sebagai bentuk literasi pemaknaan hakikat hidup orang banyak, Jakarta khususnya.
1. Pertama sudah jelas bahwa Rizki sudah dijamin oleh Allah SWT, tinggal bagaimana menjemputnya. Dalam Al Quran ( Q.S Ibrahim ; 7) dijelaskan "bahwa barang siapa yang mensyukuri nikmatku maka aku akan menambahkan nikmat kepadanya dan barang siapa kufur atas nikmat Ku, maka sesungguhnya adzabku sangatlah pedih". Rumus sering terlontar dari Ustad Yusuf Mansur, ente pengen rezeki ente nambah ya ente banyakin sedekah dah.  Dimana permasalahannya ?
2. Usaha, setiap pekerjaanya yang nilainya positif untuk berjuang bagi keluarganya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya itu dinilai ibadah oleh Allah SWT. Usaha yang maksimal pastinya akan menuai buah hasil maksimal. Usaha tanpa doa maka tidak akan barokah serta usaha jadi meninggalkan salat (ibadah) tentu akan seret hasilnya. Usaha orang untuk mendapatkan sesuatu bergantung pula pada daya juang mereka untuk bagaimana mendapatkannya dengan halal dan toyib. Dimana permasalahannya?
3. Iri hati, tidak dipungkiri ketika sebagai manusia kita melihat orang lain lebih baik dari kita, lebih tampan, lebih kaya atau yang paling sensitif adalah dengan kondisi gaji yang lebih tinggi dari kita. Maka daripada itu munculah penyakit iri hati dalam harta. Iri hati ketika melihat orang lain bisa mendapatkan lebih dibandingkan dirinya, selalu dirinya tidak merasa cukup akan nikmatnya bahkan ketakutan akan kehabisan harta karena selalu membandingkan dengan orang lain. Penulis menulis ini selain dialami oleh penulis, penyakit ini juga menggerogoti seluruh lapisan masyarakat dari kalangan receh sampai kalangan elit.  Semakin iri, maka semakin sibuk juga kita menimbun keruk lupa akan rasa syukur. Namun,, dimana permasalahannya?



Mohon para pembaca bisa menjawab ketiga pertanyaan diatas dengan jujur ?

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...