Kamis, 01 Desember 2016

Dimensi akhir bulan lalu,,,

Berjalanlah walau sedih, ketika engkau yakin akan menemukan keberhasilan.
Sesuai dengan jumlah waktu yang tidak lebih dari 24 jam, kehidupan ibarat semua roda yang terus berputar. Porosnya tak berubah namun, jumlah jari jari dengan panjang yang berbeda menandakan akan adanya perbedaan serta dinamika putaran berbeda.
Walau posisi burung ketika terbang tidak menandakan dia nikmat atau tidak nya dalam melakukan kegiatan terbang. Burung tetaplah burung yang memaksimalkan apa yang ada di dalam diri nya yakni kedua sayapnya. Pertanda, kedua sayap dengan ukuran panjang yang sama harus bisa seirama menentukan berapa jumlah kepakkan sayap untuk sampai tujuannya.
Jumlah angka matematika yang tidak berubah sampai kapanpun dimulai dari sejarah penemuan angka sampai saat ini pula angka masih digunakan dalam hal apapun. Mau bagi kali tambah atau kurang tetaplah menjadi suatu keutuhan hasil yang terdeskripsikan dengan angka. Angka pula yang tidak pernah memberi tanda akan benar atau salah, karena hanya merupakan simbol pemrakarsa penentu suatu hasil. Digdaya angka sebesar apapun kalkulasinya tetap saja hanya memberikan satu jawaban pasti entah itu benar atau salah.
Preambul kebebasan sebuah tulisan membuktikan akan tidak adanya kekosongan kata kata dalam merangkai suatu cerita. Kembali ke inti persoalan, kali ini penulis ingin menggaris bawahi tentang nikmat untuk setiap orang berbeda.
Berbeda, tapi tetap satu juga (isu kebhinekaan yang sedang hangat di bahas di Indonesia)
Rejeki orang pastinya berbeda tergantung rizki yang Allah SWT berikan kepada setiap makhluknya. Menguping kutipan seorang ustad bahwa burung yang terbang berangkat di pagi hari ketika dia pulang kembali di sore hari dalam keadaan kenyang. Atau kalau ada yang pernah membaca buku lapis lapis keberkahan, Cicak diciptakan oleh Allah sudah dijamin rizkinya. Maksudnya ada nya nyamuk yang berterbangan disekitar area terirtori cecak  itu sudah menjadi rizkinya cecak. Dengan kemampuan memanjangkan lidah yang cukup panjang serta lengket, tidak jarang nyamuk nyakmuk itu terperangkap akhirnya dengan mudah menjadi santapan sang cecak. Padahal jika ditelisik lebih lanjut nyamuk terbang loh dan sang cecak hanya menempel di dinding atau langit langit. Namun disini ada hikmah nikmat yang khidmat, cecak tetap yakin akan rizkinya dengan kemampuan sederhana yang dimilikinya. Maka tinggal bagaimana usaha sang cecak untuk menjemput rizkinya dengan berhusnudzon kepada Allah SWT.
Ada beberapa pemikiran yang ada di cerbellum penulis diantaranya yakni, mengenai rizki, usaha serta iri hati. 3 kata yang memang korelasinya cukup jauh namun memiliki ikatan hidrogen yang sangat pas melihat kebutuhan sehari hari manusia sungguh sangat luar biasa adannya. Penulis menandakan curahaan tulisan ini sebagai bentuk literasi pemaknaan hakikat hidup orang banyak, Jakarta khususnya.
1. Pertama sudah jelas bahwa Rizki sudah dijamin oleh Allah SWT, tinggal bagaimana menjemputnya. Dalam Al Quran ( Q.S Ibrahim ; 7) dijelaskan "bahwa barang siapa yang mensyukuri nikmatku maka aku akan menambahkan nikmat kepadanya dan barang siapa kufur atas nikmat Ku, maka sesungguhnya adzabku sangatlah pedih". Rumus sering terlontar dari Ustad Yusuf Mansur, ente pengen rezeki ente nambah ya ente banyakin sedekah dah.  Dimana permasalahannya ?
2. Usaha, setiap pekerjaanya yang nilainya positif untuk berjuang bagi keluarganya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya itu dinilai ibadah oleh Allah SWT. Usaha yang maksimal pastinya akan menuai buah hasil maksimal. Usaha tanpa doa maka tidak akan barokah serta usaha jadi meninggalkan salat (ibadah) tentu akan seret hasilnya. Usaha orang untuk mendapatkan sesuatu bergantung pula pada daya juang mereka untuk bagaimana mendapatkannya dengan halal dan toyib. Dimana permasalahannya?
3. Iri hati, tidak dipungkiri ketika sebagai manusia kita melihat orang lain lebih baik dari kita, lebih tampan, lebih kaya atau yang paling sensitif adalah dengan kondisi gaji yang lebih tinggi dari kita. Maka daripada itu munculah penyakit iri hati dalam harta. Iri hati ketika melihat orang lain bisa mendapatkan lebih dibandingkan dirinya, selalu dirinya tidak merasa cukup akan nikmatnya bahkan ketakutan akan kehabisan harta karena selalu membandingkan dengan orang lain. Penulis menulis ini selain dialami oleh penulis, penyakit ini juga menggerogoti seluruh lapisan masyarakat dari kalangan receh sampai kalangan elit.  Semakin iri, maka semakin sibuk juga kita menimbun keruk lupa akan rasa syukur. Namun,, dimana permasalahannya?



Mohon para pembaca bisa menjawab ketiga pertanyaan diatas dengan jujur ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...