Berjalanlah walau sedih, ketika engkau yakin akan menemukan
keberhasilan.
Sesuai dengan jumlah waktu yang tidak lebih dari 24 jam,
kehidupan ibarat semua roda yang terus berputar. Porosnya tak berubah namun,
jumlah jari jari dengan panjang yang berbeda menandakan akan adanya perbedaan
serta dinamika putaran berbeda.
Walau posisi burung ketika terbang tidak menandakan dia
nikmat atau tidak nya dalam melakukan kegiatan terbang. Burung tetaplah burung
yang memaksimalkan apa yang ada di dalam diri nya yakni kedua sayapnya.
Pertanda, kedua sayap dengan ukuran panjang yang sama harus bisa seirama
menentukan berapa jumlah kepakkan sayap untuk sampai tujuannya.
Jumlah angka matematika yang tidak berubah sampai kapanpun
dimulai dari sejarah penemuan angka sampai saat ini pula angka masih digunakan
dalam hal apapun. Mau bagi kali tambah atau kurang tetaplah menjadi suatu
keutuhan hasil yang terdeskripsikan dengan angka. Angka pula yang tidak pernah
memberi tanda akan benar atau salah, karena hanya merupakan simbol pemrakarsa
penentu suatu hasil. Digdaya angka sebesar apapun kalkulasinya tetap saja hanya
memberikan satu jawaban pasti entah itu benar atau salah.
Preambul kebebasan sebuah tulisan membuktikan akan tidak
adanya kekosongan kata kata dalam merangkai suatu cerita. Kembali ke inti
persoalan, kali ini penulis ingin menggaris bawahi tentang nikmat untuk setiap
orang berbeda.
Berbeda, tapi tetap satu juga (isu kebhinekaan yang sedang
hangat di bahas di Indonesia)
Rejeki orang pastinya berbeda tergantung rizki yang Allah
SWT berikan kepada setiap makhluknya. Menguping kutipan seorang ustad bahwa
burung yang terbang berangkat di pagi hari ketika dia pulang kembali di sore
hari dalam keadaan kenyang. Atau kalau ada yang pernah membaca buku lapis lapis
keberkahan, Cicak diciptakan oleh Allah sudah dijamin rizkinya. Maksudnya ada
nya nyamuk yang berterbangan disekitar area terirtori cecak itu sudah menjadi rizkinya cecak. Dengan
kemampuan memanjangkan lidah yang cukup panjang serta lengket, tidak jarang
nyamuk nyakmuk itu terperangkap akhirnya dengan mudah menjadi santapan sang
cecak. Padahal jika ditelisik lebih lanjut nyamuk terbang loh dan sang cecak
hanya menempel di dinding atau langit langit. Namun disini ada hikmah nikmat
yang khidmat, cecak tetap yakin akan rizkinya dengan kemampuan sederhana yang
dimilikinya. Maka tinggal bagaimana usaha sang cecak untuk menjemput rizkinya
dengan berhusnudzon kepada Allah SWT.
Ada beberapa pemikiran yang ada di cerbellum penulis
diantaranya yakni, mengenai rizki, usaha serta iri hati. 3 kata yang memang
korelasinya cukup jauh namun memiliki ikatan hidrogen yang sangat pas melihat
kebutuhan sehari hari manusia sungguh sangat luar biasa adannya. Penulis
menandakan curahaan tulisan ini sebagai bentuk literasi pemaknaan hakikat hidup
orang banyak, Jakarta khususnya.
1. Pertama sudah jelas bahwa Rizki sudah dijamin oleh Allah
SWT, tinggal bagaimana menjemputnya. Dalam Al Quran ( Q.S Ibrahim ; 7) dijelaskan
"bahwa barang siapa yang mensyukuri nikmatku maka aku akan menambahkan
nikmat kepadanya dan barang siapa kufur atas nikmat Ku, maka sesungguhnya
adzabku sangatlah pedih". Rumus sering terlontar dari Ustad Yusuf Mansur,
ente pengen rezeki ente nambah ya ente banyakin sedekah dah. Dimana permasalahannya ?
2. Usaha, setiap pekerjaanya yang nilainya positif untuk
berjuang bagi keluarganya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya itu dinilai
ibadah oleh Allah SWT. Usaha yang maksimal pastinya akan menuai buah hasil
maksimal. Usaha tanpa doa maka tidak akan barokah serta usaha jadi meninggalkan
salat (ibadah) tentu akan seret hasilnya. Usaha orang untuk mendapatkan sesuatu
bergantung pula pada daya juang mereka untuk bagaimana mendapatkannya dengan
halal dan toyib. Dimana permasalahannya?
3. Iri hati, tidak dipungkiri ketika sebagai manusia kita
melihat orang lain lebih baik dari kita, lebih tampan, lebih kaya atau yang
paling sensitif adalah dengan kondisi gaji yang lebih tinggi dari kita. Maka
daripada itu munculah penyakit iri hati dalam harta. Iri hati ketika melihat
orang lain bisa mendapatkan lebih dibandingkan dirinya, selalu dirinya tidak
merasa cukup akan nikmatnya bahkan ketakutan akan kehabisan harta karena selalu
membandingkan dengan orang lain. Penulis menulis ini selain dialami oleh
penulis, penyakit ini juga menggerogoti seluruh lapisan masyarakat dari
kalangan receh sampai kalangan elit.
Semakin iri, maka semakin sibuk juga kita menimbun keruk lupa akan rasa
syukur. Namun,, dimana permasalahannya?
Mohon para pembaca bisa menjawab ketiga pertanyaan diatas
dengan jujur ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar