Sore itu, di tempat bulu tangkis. Kami seperti biasa latihan sesuai dengan jadwal dan hari nya. Adzan Magrib berkumandang, kami pun langsung mengambil air wudhu kemudian melakukan salat. Saya, Al dan salah satu orang yang berjenggot menjadi makmum (masbuk tapinya) sebut saja X. Memang apabila melihat ke arah kenyataannya, kami pun melakukan kesalahan.
Begini ceritanya, Al menjadi imam salat magrib ketika itu. Makmum nya saya, mas Fajar kemudian X ikut gabung menjadi makmum masbuk. Namun setelah salam, X melanjutkan salat nya disaat mas Wahyu mulai masuk setelah wudhu sambil menunggu om Rk. Kami pun kloter pertama setelah selesai solat keluar kembali ke area lapangan.
Permasalahannya disini, mas Whyu di dalam ngobrol agak teriak dan becanda bareng Al yang di lapangan berbarengan dengan X yang masih salat. Saya sedang menggunakan sepatu di lapangan melihat ke arah mushola dimana mas Whyu seperti sedang ditegur. Saya ketawa, kenapa ketawa karena melihat ekspresi muka mas Whyu. Setelah selesai Mr X pun mengarahkan pandangannya ke kami agak ketus memang. Saya menanyakan pertannyaan tersebut ke Mas Whyu, apa yang terjadi? "Iya, gw di tegor sama orang itu (mr X), dia bilang orang lagi ngaji aja berhenti menghargai orang solat, lah kok ente malah bercanda." Yah menurut saya itu wajar sih.
Om RK pun datang setelah mas Whyu ke lapangan. Di saat mas Whyu pergi ngerokok sejenak. Saya tanyakan ke om Rk apa yang terjadi. Begini ceritanya versi om Rk, Ente kok ga ngelihat orang lagi salat malah bercanda teriak teriak dan ketawa tawa yang mengaji aja diem kalo orang lagi salat, kayak orang KAFIR ENTE! Ente ngaji ga?
Setelah itu saya sendiri agak kacewa sih, kenapa ya?
Padahal orang tersebut berjenggot dan celana isbal, mukanya bersih dan terlihat soleh rajin salat.
Pendapat saya sih, harusnya orang tersebut bisa menegur dengan etika yang lebih sopan dengan kapasitas penampilan dia yang lebih baik secara akhirat. Karena sudah barang tentu kapasitas orang yang ditegur memang tidak lebih baik dari beliau (mr X) akan tetapi apa harus menyebut kata kata itu.
Saya hanya berpendapat, karena penulis pun masih belajar.
Semoga permasalahan ini bisa selesai karena pekan depan pun akan ketemu Mr X karenan latihan bultang di jam yang sama.
Klarifikasi, dan adanya permohonan maaf, itu lebih menenangkan. Terlebih karena kita sesama muslim dengan Tuhan yang sama.
Wallahu alam
Rabu, 22 November 2017
Senin, 13 November 2017
Ayo donk, Level Up kamu !!!
Ini tentang Level UP diri !
Pagi, tidak hujan dibawah atap asbes
kering saya mencoba duduk sambil menatapi 3 ekor ikan koi dalam
aquarium. Suara yang tenang didendangkan oleh air mengalir
serta buih gelembung udara yang dimainkan oleh mesin filter aquarium.
Suasana diri saat itu sedang gundah, bahkan hati ini seperti remuk
dihantam perkataan yang tajam. Walau tidak langsung mendengar apa
yang telah diucapkan sekiranya membayangkan sikap unmood
ini bukan soal perkara harian. Angin bertiup tenang, tidak ada kopi
di meja itu. Seandainya ada burung pun ia hanya lewat diantara pohon
mangga arumanis yang lebat tak berbuah dan pohon jambu air tunggal
dengan cabang lebat penuh buah. Hati seperti sebuah kotak box kecil
yang coba dibuka pelan-pelan untuk melihat isi didalamnya.
Kemarin
malam, ketika kata level up sudah muncul kemarin lusa dari hari ini.
Saya tidak paham akan kesederhanaan dalam mendengarkan orang
berbicara. Saya diajarkan saat mahasiswa bahwa mengangguk
menyatakan suatu paham terhadap apa yang disampaikan, atau bisa
bermakna bias menandakan 'nurut'. Mohon izin untuk cerita sejenak, ketika masa lalu
dihadapkan diskusi enam mata dengan Bu Dekan, PD3 tentang
menyampaikan aspirasi mahasiswa dari bawah ke atas (bottom up). Saya
mencoba untuk tenang dan sabar menghadapi orang yang lebih dewasa
dengan jabatan yang cukup besar di Fakultas MIPA. Namun disini saya
mendapatkan bagaimana kehati hatian bu Dekan serta pa PD3 untuk
berdiskusi kepada saya selaku perwakilan mahasiswa MIPA kala itu.
Tidak ada kesan merendahkan, ada penyamaan rata dalam bicara, alur
bicara yang tidak menggurui, bahkan ada ketenangan dalam penyampaian
kata demi kata. Walau pada kenyataannya bu Dekan saat itu sangatlah
sulit untuk diajak diskusi oleh mahasiswa.
2012
kala itu, saya berasama ketua BEMUNJ juga beberapa kadept menghadap
untuk diskusi dengan pak Rektor (Pak Bedjo) ditemani Kabag
kemahasiswaan dan bagian bagiannya. Saya tidak bisa cerita panjang
soal kejadian ini, namun ada keharmonisan dalam tutur kata
penyampaian. Ini saya catat!
Menangguhkan
cerita diatas, sedikit review tentang film THOR Ragnarok. Ada adegan
Hulk yang mudah tersulut emosinya serta mudah Baper istilah bahasa
anak kekinian. Baper bisa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan
suatu emosi. Menurut saya awal mulanya seperti itu hingga pada
akhirnya jadi semacam source bully. Contoh : Ah baper lu ! Dsb.
Antara realita dan bayangan baper diartikan sebagai suatu sikap mudah
tersinggung, mudah masuk di hati, gampang ngambek serta tidak lapang
dada. Kata terakhir yakni lapang dada menjadi hal menarik, yang bisa
dikorelasikan dengan kata sabar. Orang yang lapang dada apa sudah
menemukan arti sabar nya. Orang yang hebat adalah orang yang dapat
melawan amarahnya sendiri. Sandhi Sandoro bilang Tak Pernah Padam,
sama seperti emosi yang akan padam ketika tiba waktunya untuk reda.
Mengacu
pada beberapa saran dalam menanggapi pandangan diatas. Ada salah satu
teman yang sering dipanggil om Rk. Om yang satu ini memberikan
pandangannya atas dasar pengalaman pribadinya yang malang melintang
di dunia marketing. Bro, lu baru dibilang beloon, gw
didepan bos gw di tai tai ini (gw langsung mau resign ) abis itu gw
diajak makan juga bareng tim yang lain. Hati gw donkol dan bener
bener pengen resign. Agak
mengerat dahi saya, bener juga sih apa yang saya alami memang tidak
ada apa apanya. Efek domino yang terjadi adalah terlalu besarnya saya
menganggap ekspektasi besar terhadap beliau, namun disaat ada kalimat
yang merendahkan saya seolah saya tidak dihargai saya mulai merasa
tidak ingin lagi bekerja membantu anaknya disini. Setelah kejadian
kalimat terlontar tanpa perduli swing mood atau tidak, saya langsung
ambil air wudhu untuk salat Dzhur dan mencoba mengadu kepada sang
pencipta. Menurut saya ini bukan hal sederhana, tetapi ini menusuk
seolah manusia bodoh yang tidak memberikan kontribusi apa apa untuk
anaknya,
Demikian
cerpen singkat tentang suatu peristiwa yang minta untuk Level Up,
namun ada sarkasme TIDAK MENGHARGAI JERIH PAYAH SAYA(sorry to say)
terucap. Saya peduli pada anaknya, saya juga yakin bahwa setiap
usaha maksimal tidak akan mengkhianati hasil.
Langganan:
Komentar (Atom)
Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...
-
..............................................................................................................................................
-
Ada hikmah dalam kebersamaan Ada nikmat dalam bingkai silaturahmi Ada cinta dalam dekapan ukhuwah Bukber rasa baru, karena bebe...