Rabu, 22 November 2017

Ada etika dalam penyampaian teguran

Sore itu, di tempat bulu tangkis. Kami seperti biasa latihan sesuai dengan jadwal dan hari nya. Adzan Magrib berkumandang, kami pun langsung mengambil air wudhu kemudian melakukan salat. Saya, Al dan salah satu orang yang berjenggot menjadi makmum (masbuk tapinya) sebut saja X. Memang apabila melihat ke arah kenyataannya, kami pun melakukan kesalahan.

Begini ceritanya, Al menjadi imam salat magrib ketika itu. Makmum nya saya, mas Fajar kemudian X ikut gabung menjadi makmum masbuk. Namun setelah salam, X melanjutkan salat nya disaat mas Wahyu mulai masuk setelah wudhu sambil menunggu om Rk. Kami pun kloter pertama setelah selesai solat keluar kembali ke area lapangan.

Permasalahannya disini, mas Whyu di dalam ngobrol agak teriak dan becanda bareng Al yang di lapangan berbarengan dengan X yang masih salat. Saya sedang menggunakan sepatu di lapangan melihat ke arah mushola dimana mas Whyu seperti sedang ditegur. Saya ketawa, kenapa ketawa karena melihat ekspresi muka mas Whyu. Setelah selesai Mr X pun mengarahkan pandangannya ke kami agak ketus memang. Saya menanyakan pertannyaan tersebut ke Mas Whyu, apa yang terjadi? "Iya, gw di tegor sama orang itu (mr X), dia bilang orang lagi ngaji aja berhenti menghargai orang solat, lah kok ente malah bercanda." Yah menurut saya itu wajar sih.

Om RK pun datang setelah mas Whyu ke lapangan. Di saat mas Whyu pergi ngerokok sejenak. Saya tanyakan ke om Rk apa yang terjadi. Begini ceritanya versi om Rk, Ente kok ga ngelihat orang lagi salat malah bercanda teriak teriak dan ketawa tawa yang mengaji aja diem kalo orang lagi salat, kayak orang KAFIR ENTE! Ente ngaji ga?

Setelah itu saya sendiri agak kacewa sih, kenapa ya?
Padahal orang tersebut berjenggot dan celana isbal, mukanya bersih dan terlihat soleh rajin salat.
Pendapat saya sih, harusnya orang tersebut bisa menegur dengan etika yang lebih sopan dengan kapasitas penampilan dia yang lebih baik secara akhirat. Karena sudah barang tentu kapasitas orang yang ditegur memang tidak lebih baik dari beliau (mr X) akan tetapi apa harus menyebut kata kata itu.

Saya hanya berpendapat, karena penulis pun masih belajar.
Semoga permasalahan ini bisa selesai karena pekan depan pun akan ketemu Mr X karenan  latihan bultang di jam yang sama.

Klarifikasi, dan adanya permohonan maaf, itu lebih menenangkan. Terlebih karena kita sesama muslim dengan Tuhan yang sama.


Wallahu alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...