selamat
siang,,,
Semoga
dimudahkan dalam setiap rangkaian kata, iringan kalimat serta segenggam
parapraph tentang cerita follow up dari Hazaka Plant.
Pertama,
diawali dengan kepulang dari Sendai,Japan menuju Jakarta. Ada banyak sekali
harapan tentang bagaimana masa depan bisa ditatap lebih baik. Sinar harapan itu
kian jelas,ketika banyak hal berbeda yang didapat setelah pulang dari Jepang.
Sifat bangga pernah menginjakkan kaki di negeri orang yang bahkan tidak
tercatat dalam 100 keinginan yang saya tulis ketika kuliah semeseter 1.
Begini
kisahnya, tiba di Bandara Soetta di siang hari WIB(lupa jamnya) ibu dan pak
agus (kawan papah) menjemput dan dengan haru mama terlihat bahagia melihat
anaknya dalam keadaan sehat wal’afiat. Nafsu makan ku akan masakan Indonesia menjadi
bergelora sehingga langsung meminta untuk makan masakan padang di restauran
sederhana (sekali kali boleh lah). Sesampainya disana langsung merasakan
rendang,ayam pop dan masakan khas padang yang saya suka. Saya berniat setelah
saya sampai Jakarta saya akan melakukan puasa sunnah untuk membersihkan makanan
yang masuk kedalam tubuh saya khawatir makanan yang di makan tercampur dengan
minyak babi. ( alhamdulillah terasa membaik setelah melakukan puasa untuk membersihkan
diri ini dari masakan yang tidak halal). Namun disela itu ada kabar buruk berat
badan saya menjadi 91kg, pipi chuby dan perut tambah buncit. Disaat itu pula
saya berniat untuk membeli sepeda untuk bisa berolahraga dan kembali
memperbaiki berat badan saya menjadi ideal (karena belum nikah, kalo belum
nikah buncit ya bagaimana nanti ? )
Setelah sampai
dirumah aku langsung menghubungi ke sepuluh teman baik alias temen temen
seperjuangan selama sma. Dan disaat itu saya mencoba untuk sharing pengalaman
dan seperti biasa anak anak main PES sampai shubuh, saya mah tidur aja.
(kisah
kejadian diatas diperkirakan bulan November tahun lalu ketika penulis menulis
tulisan ini< jadi tahun berapa tebak? > hehehe)
UNJ
meminta kami untuk melakukan follow up terhadap kegiatan yang kami lakukan
(red: Isnin,Gilang,Irfan dan Nabila) namun khusus Nabila sang
entrepreteur/penterjemah, setelah pulang dari Jepang dan terakhir bertemu
dengan keluarganya di Bandara kami semua tidak menemukan kabar dia, dan sangat
sulit dihubungi untuk bisa membantu dalam kegiatan follow up kegiatan dari
Jepang.
