Selasa, 11 Agustus 2015

Mulai dari gigi bolong dan kacamata silinder (1)

Alhamdulillah angka 25 di tahun ini jadi perumpamaan jagung yang mulai matang namun belum enak rasanya. Pemaknaan sederhana ini membantu kita untuk faham bagaimana arti matang dalam asumsi awam. Layak diperhitungkan apabila jagung yang tumbuh dan akan dijual di pasar. Pastinya rasa jagung yang dijual tidak boleh mengecewakan pelanggan yang membelinya. Pernahkah kita berfikir apa pelanggan itu tau bagaimana proses jagung itu bisa menjadi makanan yang enak dan berkualitas?

Awali dengan kisah gigi bolong yang jadi tamparan sederhana, karena begitu tahu rasa sakitnya gigi bolong serta besar biaya pengobatannya. Makan makanan yang enak dan lupa akan kesehatan gigi dimana tidak pernah ingat untuk menyikatnya dengan tingkat disiplin maksimal. Termakanlah usia, barangkali kata sederahana yang terbesit di dalam otak ini untuk mendeskripsikan mengapa gigi ini harus berlubang/bolong. Ada Teknik unik yang saya gunakan untuk mendeteksi bolongan tersebut yakni dengan mengunyah permen karet Happydent White".  Tepat dibagian yang berlubang ketika menggigit permen karet ini terasa enak terhadap gigi yang berlubang ini. Makanan makanan yang menyelinap juga bisa terangkat karena harus menempel dengan bubble gum tersebut. Di malam itu sakit yang terasa sampai obat yang namanya Pondstan pun ditenggak oleh tenggorokan ini. Keeseokan harinya saya mencoba untuk memeriksa gigi saya ini ke klinik rumah sehat di Slipi (dekat tokem).

Proses pemeriksaan berlangsung cepat namun sebelumnya saya bersama dokter gigi menyempatkan diri untuk salat Isya di Masjid Attakwa sebelum akhirnya melakukan pemeriksaan gigi saya. Pengalaman sebelumnya saya ke dokter gigi hanya untuk membersihkan karang gigi yang ada menempel sekuat karang di gigi saya. Pembersihan karang ini dilakukan demi tuntutan job pada saat itu yang harus sering terlihat didepan umum untuk memimpin suatu acara non formal. Setelah itu saya baru sadar untuk pentingya merawat gigi. Kembali ke cerita tadi, usai salat Isya berjamaah saya bersama dokter kembali ke klinik untuk dilakukannya pemeriksaan gigi.
Nah ternyata betul dokter langsung menganalisa dengan cepat serta menyimpulkan bahwa gigi saya bolong dan harus ditambal. Proses penambalan yang lumayan lama, karena harus membersihkan kotoran yang menyempil di gigi bagian graham sebelah kiri. Satu setengah jam,cukup lama jika dibandingkan harus menonto pertandingan bola tanpa perpanjangan waktu. Masih belum selesai, karena diharuskan penambalan dobel dengan bahan GC(kalo tidak salah) dan proses pengidentifikasian dengan laser (gak ngerti saya ) karena yang saya kerjakan adalah membuka mulut selebarnya sambil berkali kali membuang air ludah hasil pengeboran dan pembersihan kotoran yang menyempil di lubang.
Selesai, gigi saya menjadi aneh lalu dokternya bilang nanti kalo terasa sakit segera bilang dan kembali kesini ya (itu garansi yang diberikan sepertinya). Ok dok!
Itu saya langsung to the point  berapa dok besar biayanya? . Dokter tersebut mengambil list biaya pengobatan. Lalu dia bilang dengan disertai penjelasan, maka Rp.  300.000,-  harga yang cukup berat sebagai diri saya( alhamdulillah tapi di rembous oleh kantor) .



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...