Selasa, 16 Juni 2015

Dunia kerjaku (1)

Tulisan hari ini dibuat karena ada kekesalan, ketidak tahuan serta rasa ingin tahu tentang kehidupan dalam dunia. Dunia yang disebut pekerjaan,
Baru satu tahun beberapa hari saya merasakan apa yang disebut bekerja di kantoran. Sebelumnya kegemaran saya adalah bekerja berpindah tempat setidaknya ada 3 kegiatan dalam kegiatan saya. Sejauh ini kegiatan meskipun mencakup tiga, tapi mungkin dua yang masih efektif. Kegiatan mempunyai pekerjaan di ruang kantor, mengajar dan menjadi MC (EO) itu adalah kegiatan efektif yang saya dambakan dan saya senang melaksanakannya.
Dahulu saya bekerja di sebuah Bimbel yang hampir 4 tahun membantu saya dalam hal menambah penghasilan ketika saya berkuliah. Dunia Bimbel juga mengajarkan tentang bagaimana penerapan psikologi anak dalam lingkup kelas kecil. Sangat berbeda dengan dunia sekolah. Kita diminta untuk memiliki apresiasi lebih terhadap murid, karena mereka spesial setelah orang tuanya percaya dan menentukan Bimbel kita untuk menitipkan anaknya. Kepercayaan belajar tambahan di suatu bimbel menjadi guarantee yang harus diberikan kepada orang tua murid. Terkejut ketika mengetahui anaknya tidak maksimal di sekolah, maka bimbel lah yang harus bisa membantu meningkatkan kapasitas belajar mereka sampai dapat meraih nilai maksimal. Nilai bukan menjadi suatu acuan bimbel dengan target mumpuni. Terhindar dari nilai, ada aspek usaha, doa serta tawakkal yang harus terus disisipkan kepada murid, apabila dibayangkan di sekolah belum tentu seorang guru dapat intens memberikan dorongan positif kepada anaknya satu per satu.
Bimbingan belajar merupakan pekerjaan yang tidak mudah (red:guru) untuk bisa berjuang disini. Dunia ini unik. Karena ekslusif namun tuntutan Premium, belum lagi terkait kondisi bimbel itu sendiri. Kita harus sadar bahwa suatu perusahan pasti memiliki kelemahan dan kelebihan. Baik yang dilihat atau yang tertutupi, bimbel tetaplah suatu organisasi pendidikan provit yang mencari keuntungan untuk bisa memberikan hak kepada guru yang telah mengajar di bimbel. Prioritas utama dalam hal mengajar, saya sadar bahwa seorang guru sangat mencintai pekerjaannya sebagai guru. Guru tidak pandan berapa gaji mereka, karena mereka sadar ade harga yang lebih mahal dibanding besarnya gaji mereka, yakni ilmu mereka yang terus diamalkan menjadi kalkulasi pahala yang indah.
Bimbel memberikan arti lebih tentang bagaimana mengelola,mengarahkan dan memberikan saran terhadap seorang anak murid. Penjagaan seorang guru mapel bimbel terhadap murid menjadi hal penting yang menjanjikan untuk terus di kembangkan. Psikologi anak didik menjadikan seberapa penting bimbel berpengaruh terhadap seorang murid. Saran atau masukkan terhadap orang tua yang aranya timbal balik menjadi prasyarat dalam mendikte kondisi psikologi anak didik. Tak heran ada kata “kenyamanan” yang dijadikan target objektif dari pengelola bimbel untuk daya kembang anak didik.
Keberhasilan guru mendidik menjadi satu alasan keberlangsungan hidup guru tersebut. Benar atau tidak realita nya memang seperti itu. Beberapa pengelola dalam mengelola Bimbel yang mandiri tanpa aspek pendukung seperti komisaris atau dukungan keuangan yang mumpuni bisa menjadikan suatu bangunan itu runtuh tanpe bentuk. Harapan income yang masuk dari biaya anak saja belum dapat menjanjikan suatu bangunan kokoh tanpa bentuk. Butuh kerja keras ekstra dalam membangun suatu bangunan tanpa bentuk jika diibaratkan sebuah Bimbel. Pengalaman 8 tahun atau jatuh duduk bukan menjadi satu kebesaran hati dalam menjual produk tapi harus dijadikan sebagai acuan diamana alasan kenapa kita memulai untuk berbisinis Bimbel. Biaya bangunan yang setiap tahunnya meningkat, serta asumsi menaikkan harga yang kurang masuk akal karena harus bersaing dengan bimbel lain yang memiliki kualitas lebih wahid bahkan pertimbangan harga bbm yang terus naik semenjak pemerintah baru di tahun ini. Ini bukan saja dirasakan oleh saya sebagai penikmat dunia bimbel. Tapi saya akui orang yang berani berjuang di usaha ini harus memliki nilai kesabaran tak hingga serta kreatifitas tanpa batas untuk bagaimana caranya mendapatkan murid sebanyak banyak nya agar seluruh kebutuhan dalam pengembangan suatu usaha bisa maksimal.


Berlanjut......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...