Selasa, 26 Juli 2016

Ujian kala Bertemu hari yang suci

Bandoeng, 3 Juli 2016

Parkiran depan gedung BTPN,

Dengan kondisi lingkungan yang kurang mendukung, sambil mencoba mengendarai mbl, membawa beberapa barang berupa dus besar, ditemani oleh tante dan 2 keponakan SD kelas 3. Kedua keponakan terlelap dalam tidurnya diperjalanan menuju rumah nenek. Salah satu keponakan benar benar tidak kuat menahan kantuk bahkan sampai posisi tidurnya pun menyender pada pintu, untung saja pintu di kunci.

Masuklah agak kedalam posisi mbl untuk memarkirkan tepat di depan garasi bank BTPN.
sebagai anak laki saya mengutamakan keluarga terlebih dahulu yakni dengan membangunkan anak anak serta mencoba untuk menurunkan barang. Namun ada hal yang kurang mengenakan terjadi sesaat menurnkan anak anak. Satpam bank BTPN menegur saya dengan muka yang agak kurang bersahabat tanpa baju satpam dan berkata dengan nada yang tak indah " Bapak parkir disini?"
Saya akui dikala itu saya langsung naik emosi untuk mengatakan iya pak sabar saya menurunkan anak anak dan barang dahulu, baru saya ngborl dengan bapak. Itu niatan saya. Namun si satpam nyolot bukan kepalang, dia berkata bapak kalau tidak saya tegur mungkin bapak men masuk aja kesini.
Saya katakan kepada satpam bahwa pak, saya akan izin ke bapak setelah saya menurunkan, namun yang diharap satpam adalah sebelum mbl di masukkan ke garasi bank BTPN sebaiknya turun dari mobil didepan lalu meminta izin kepadanya. Mungkin dikarenakan plat B nih satpam nyolot atau mungkin sampingan dia dari parkir sedang sepi.

Dengan nafas terengah menandakan emosi yang kurang stabil lalu saya mencoba untuk tidak meladeni satpam tersebut sambil fokus untuk segera membawa barang barang di dalam dus untuk keperluan lebaran ke rumah nenek. Disitu, saya tidak sampai 10 menit karena saya berniat ingin kembali mengambil mobil sambil mencoba ingin menjelaskan permasalahan yang tadi menurut saya belum selesai.

Sebelumnya sambil kesal saya melakukan salaman dengan satpam sambil mengucapkan nama saya, tapi rupanya diawal sang satpam tidak menyebutkan nama dia siapa. Lalu perdebatan kembali terjadi, saya pun dengan emosi mengatakan bapak punya anak tidak? kalo memang iya, apa yang bapak lalukan jika jadi saya pada saat turun dari mobil. Satpam yang akhirnya mengaku bernama Rizki itu pun tetap ngotot dengan alasan apabila bank ini adalah rumahnya tiba tiba ada yang masuk tanpa bilang bilang, padahal saya pasti akan bilang ke si satpam, saya melakukan hal ini dikarenakan saya menaruh si merah bukan kali pertama disini, mungkin sudah 3 atau 4 kali. Namun tetap saja akhirnya satpam tetap dengan merasa benar nya, saya pun demikian. Tante turun dari merah sambil bilang ayo bang pulang aja orang kayak gini ga usah diladenin. Padahal di kala itu saya sudah memberikan uang rokok sebesar 10 ribu dalam jangka nitip mbl tidak sampai 15 menit. Sang satpam tidak mau menerima, dan bilang saya tidak butuh yang beginian pak. Yasudah dengan ini saya coba untuk menaruh uang rokok itu di laci motor vario nya. Saat itu setelah berantem debat agak lama lalu saya ambil uangnya lalu saya taruh diatas jok, si satpam pun sedikit melirik matanya ke arah uang. (ini yang menjadikan alasan untuk kembali menyerang sang satpam) dengan argumen saya (sangat egois) untuk membuktikan bahwa saya tidak salah. Lalu sudah lah saya sambil emosi ditarik tante saya untuk kembali ke mbl dan pulang ke rumahnya.

Di perjalanan saya pun cerita kepada tante kenapa saya berani karena yang pertama saya kritis berfikir bahwa yang saya lakukan sesuai dengan adanya , walau dengan berpikiran jernih seharusnya saya sadar mungkin itu satpam baru, tapi pada waktu beberapa bulan atau tahun pernah taruh mbl disana dan tetap memberikan uang rokok, sang satpam malah dengan sopan dan berterimakasih,, tapi satpam yang ini sungguh beda. Selain itu saya juga sering diskusi ringan dengan satpam lain di RSCM bahwa ada satpam yang dapat surat tugas dari kepolisian atau ada yang outsorcing ( satpam asal2an pun juga ada)

Kemudian saya berniat untuk memberikan sembako berupa beras kepadanya tapi tidak secara langsung namun menitipkan nya ke satpam yang sedang bertugas di hari yang berbeda sambil memastikan apakah benar ada satpam yang bernama Pak Rizki.

Akhirnya hari lebaran pun tiba,,,
selesai salat ied di masjid Agung,,,kami pulang kembali ke rumah nenek.

siangnya ketika ingin mengambil mbl, saya melewati Pak Rizki yang sedang berjaga, disitu saya pura pura asyik ngobrol dengan Denis, sambil ada harap pa Rizki menegur saya untuk berterimakasih karena sudah terima sembako atau bahkan kita bisa bermaafan. (namun itu semua ujian keikhlasan buat saya, ada sesuatu yang diberi maka ada sesuatu yang diharapkan pada manusia, harusnya saya ikhlas serahkan semua kepada Allah SWT tanpa harap lebih dari manusia )

walau ada 2 kemungkinan, 1 amanah titipan sembako kepada teman satpam tidak disampaikan atau yang ke 2 Pa Rizki tetap merasa benar walau sudah diberikan suatu hal yang manfaat untuk keluarganya,


Tapi terimakasih , saya belajar banyak dari peristiwa ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...