Sambil ditemani kopi favorit “Coffemix” dan disahabati oleh lagu The Rasmus “In The Shadow”
saya kembali mencoba melanjutkan beberapa tulisan saya yang agak kurang berguna
ini.
Ada beberapa hal
menarik diwaktu sebelum, disaat dan sesudah bulan Ramadhan, tentunya yang saya
coba tulis bukanlah pengalaman yang baik tapi sebeliknya. Jika kalian menemukan
hal yang identik sementara itu saya coba untuk menggambarkannya dengan jernih
sesuai dengan sisi subjektif yang agak mendalam. Kenapa?
Karena disetiap
cerita dibutuhkan imaginasi yang cukup lugas untuk bisa memaknai setiap tulisan
yang dibuat dalam pembacaannya.
Pertama, waktu
itu dimana anak anak PekA mencoba untukb berkumpul, tema kumpulnya aja
berkumpul sebelum mudik masing –masing. Sudah tidak ada lagi pesta budjang ust
Magriby, karena tepat ketika saya menuliskan tulisan ini pak ust yang satu ini
sudah ada foto nya di Padang sedang melangsungkan akad resepsi ala ala padang
yang memakan waktu kurang lebih 1 minggu penuh. Luarrr biasa, pa Ust ini,.
Lanjut lah, ke
yang tadi ya. Ini begini kami akhirnya memutuskan untuk berkumpul di tempat
favorit tahun lalu, dengan tingkat memorable besar dimana pada tahun kemarin
salah seorang teman yang bernama Aditya Wardhana mentraktir saya, RD 1, dan
Bang Jukli. Maka atas perencanaan itulah apalagi bung Thorik sudah mendapatkan
kerjaan yang super dengan gaji super. Maka kita jadikan sajalah makan makan di
daerah bilangan setiabudi, Mie Atjeh. Syarat dan ketentuan yang berlaku tetap
diberlakukan dalam PERPU kami, yang mana setiap anak harus memilih jenis
makanan yang berbeda minuman boleh tetap sama tapi makanan harus beda.
Tujuannya apa ? Tujuannya adalah agar kita bisa menikmati lebih dari satu menu
jadi di iderin gitu basa betawinya.
Seinget saya pak
Amir memesan roti cane keju coklat, Adit Chombro memesan nasi goreng aceh dagng
<namun gak pedas jadi kurang mantap>. Om RD 1 aka BOS memesan nasi goreng
kalo tidak salah namun dengan menu atasan yang berbeda. Thoriq aka Jendral
Alfamart memesan mie atjeh dengan tumis teknik, lalu Nazar aka anak The Jack
Kampus memesan Mie atjeh rebus kari kalo gasalah. Saya sendiri memesan roti
cane kari dengan harga yang paling murah, kenapa murah >? Karena tidak ada
dagingnya, dicatat ya tidak pake daging jadi ketika makan roti cane kari ada
dagingnya berarti itu rezeki sang pemakan roti cane kuah kari. Lalu pak
wartawan Doni datang secara terlambat mungkin habis menyelesaikan laporan yang
harus segera di upload ke web beliau sih enteng karena hanya memesan jus jambu
(anak yang satu ini anti Daging, IKAn dan kerabatnya). Oh ya bang Jukli juga
telat karena habis ada acara dengan teman kantornya di Setiabudi One dia hanya
memsan kopi gayo atau teh tarik dingin ya. Saya lupa.
Penikmatan proses
memamah biak pun terlaksana dengan tempo sederhana ketukan 4 per 4. Banyak
sekali diskusi ringan yang dibahas mulai dari persiapan Adit Chombro untuk
menikah (akhir bulan ini atau bulan depan), sampe permasalahan kecil yang
dibahas besar karena ya biasa,,,semua punya pendapat.
Selanjutnya saya
merencanakan untuk dibuatnya foto permohonan maaf ank2 PekA menjelang lebaran.
Mumpun disaat itu ada kamera Nganggur Nikon D 3300 black standard. Maka monas
menjadi tata letak tempat pemotretan yang akan saya anggap luar biasa karena
ini foto nya nyaris jam 11 malam. Oh ya sebelumnya anak anak yang berangkat
makan ini insyaallah sudah pada salat Isya dan Tarawih jama’ah insyaallah.
Perjalanan pun
dimulai dari Setia Budi menuju Monas terhubung dengan 3 motor, jukli pulang
karena harus jemput mama mia. Dasar anak anaking pasti saja ada yang tidak
terkomunikasikan dengan baik maka terpecah lah jalur menuju ke monas itu. Bang
thoriq yang sungguh sangat khawatir karena sudah hampir jam 11, maklum besok
beliau kerja. Kita tunggu deh Si ndut nazar dan RD di seberang tempat waktu
kejadian tabrak lari apa ya nama daerah nya lupa? Setelah
bertemu,,perjalanannya pun kami lanjutkan ke Monas.
Bersambung,,,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar