Senin, 25 Juli 2016

Cerita kala itu

Sambil ditemani kopi favorit “Coffemix” dan disahabati oleh lagu The Rasmus “In The Shadow” saya kembali mencoba melanjutkan beberapa tulisan saya yang agak kurang berguna ini.

Ada beberapa hal menarik diwaktu sebelum, disaat dan sesudah bulan Ramadhan, tentunya yang saya coba tulis bukanlah pengalaman yang baik tapi sebeliknya. Jika kalian menemukan hal yang identik sementara itu saya coba untuk menggambarkannya dengan jernih sesuai dengan sisi subjektif yang agak mendalam. Kenapa?
Karena disetiap cerita dibutuhkan imaginasi yang cukup lugas untuk bisa memaknai setiap tulisan yang dibuat dalam pembacaannya.
Pertama, waktu itu dimana anak anak PekA mencoba untukb berkumpul, tema kumpulnya aja berkumpul sebelum mudik masing –masing. Sudah tidak ada lagi pesta budjang ust Magriby, karena tepat ketika saya menuliskan tulisan ini pak ust yang satu ini sudah ada foto nya di Padang sedang melangsungkan akad resepsi ala ala padang yang memakan waktu kurang lebih 1 minggu penuh. Luarrr biasa, pa Ust ini,.
Lanjut lah, ke yang tadi ya. Ini begini kami akhirnya memutuskan untuk berkumpul di tempat favorit tahun lalu, dengan tingkat memorable besar dimana pada tahun kemarin salah seorang teman yang bernama Aditya Wardhana mentraktir saya, RD 1, dan Bang Jukli. Maka atas perencanaan itulah apalagi bung Thorik sudah mendapatkan kerjaan yang super dengan gaji super. Maka kita jadikan sajalah makan makan di daerah bilangan setiabudi, Mie Atjeh. Syarat dan ketentuan yang berlaku tetap diberlakukan dalam PERPU kami, yang mana setiap anak harus memilih jenis makanan yang berbeda minuman boleh tetap sama tapi makanan harus beda. Tujuannya apa ? Tujuannya adalah agar kita bisa menikmati lebih dari satu menu jadi di iderin gitu basa betawinya.
Seinget saya pak Amir memesan roti cane keju coklat, Adit Chombro memesan nasi goreng aceh dagng <namun gak pedas jadi kurang mantap>. Om RD 1 aka BOS memesan nasi goreng kalo tidak salah namun dengan menu atasan yang berbeda. Thoriq aka Jendral Alfamart memesan mie atjeh dengan tumis teknik, lalu Nazar aka anak The Jack Kampus memesan Mie atjeh rebus kari kalo gasalah. Saya sendiri memesan roti cane kari dengan harga yang paling murah, kenapa murah >? Karena tidak ada dagingnya, dicatat ya tidak pake daging jadi ketika makan roti cane kari ada dagingnya berarti itu rezeki sang pemakan roti cane kuah kari. Lalu pak wartawan Doni datang secara terlambat mungkin habis menyelesaikan laporan yang harus segera di upload ke web beliau sih enteng karena hanya memesan jus jambu (anak yang satu ini anti Daging, IKAn dan kerabatnya). Oh ya bang Jukli juga telat karena habis ada acara dengan teman kantornya di Setiabudi One dia hanya memsan kopi gayo atau teh tarik dingin ya. Saya lupa.
Penikmatan proses memamah biak pun terlaksana dengan tempo sederhana ketukan 4 per 4. Banyak sekali diskusi ringan yang dibahas mulai dari persiapan Adit Chombro untuk menikah (akhir bulan ini atau bulan depan), sampe permasalahan kecil yang dibahas besar karena ya biasa,,,semua punya pendapat.
Selanjutnya saya merencanakan untuk dibuatnya foto permohonan maaf ank2 PekA menjelang lebaran. Mumpun disaat itu ada kamera Nganggur Nikon D 3300 black standard. Maka monas menjadi tata letak tempat pemotretan yang akan saya anggap luar biasa karena ini foto nya nyaris jam 11 malam. Oh ya sebelumnya anak anak yang berangkat makan ini insyaallah sudah pada salat Isya dan Tarawih jama’ah insyaallah.
Perjalanan pun dimulai dari Setia Budi menuju Monas terhubung dengan 3 motor, jukli pulang karena harus jemput mama mia. Dasar anak anaking pasti saja ada yang tidak terkomunikasikan dengan baik maka terpecah lah jalur menuju ke monas itu. Bang thoriq yang sungguh sangat khawatir karena sudah hampir jam 11, maklum besok beliau kerja. Kita tunggu deh Si ndut nazar dan RD di seberang tempat waktu kejadian tabrak lari apa ya nama daerah nya lupa? Setelah bertemu,,perjalanannya pun kami lanjutkan ke Monas.


Bersambung,,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...