Minggu, 30 Oktober 2016

Pengalaman pertama dan terakhir di LotteMart Wholesale Ciputat

hari ahad kemarin,
pengalaman pertama mencoba masuk belok kiri setelah jalanan dari arah UIN Ciputat. Iseng untuk mencari perlengkapan tool seperti WD 40, Kanebo dan tempat sampah karpet. Maka dari itu bayangan yang ada di otak adalah bagai Care4 yang kenyamanan cukup terbayar. Walau ketika masuk begitu senang karena ada tulisan parkiran gratis, dengan parkir landscape yang luas. Mushola terletak di pojok kanan area. Di tengah terdapat Pujasera, makanan jajanan sederhana ada disini, namun saya agak kurang cocok.


awal masuk ke dalam Lotte Mart Wholesale, konsep yang saya lihat mirip sekali dengan IKEA bagian bawah. Kenapa> ? karena barang barang yang masih dibungkus didalam dus diletakkan diatas tumpukkan display jualan nya. Dengan dinding atas terbuka, AC yang agak kurang mumpuni dalam mendinginkan badan para pengunjung. Namun unik dan kaget karena beberapa perbandingan harga, yang agak lebih murah menandai keunggulan dari mart yang satu ini. Dengan kemudahan berbelanja yang menjadi tatanan orang orang reseller belanja di Lotte Mart ini. Kagetnya ketika ada di casier, tidak ada kantok plastik sama sekali untuk membawa barang belanjaan ini. Troli sangat banyak beredar di area Lotte Mart ini,




itu aja sederhana namun bernilai pengalaman, setidaknya saya pernah kesini dan mengetahui konsep nya.

Untuk pertama dan terakhir. Terimakasih

Rabu, 26 Oktober 2016

Adanya panggilan tes ulang KPK memanggil 12

Alhamdulillah,,
itulah yang mungkin kata sakral yang bisa saya ucapkan,
kenapa?
Minggu lalu tepat tanggal 20 Oktober 2016, saya diumumkan lolos berkas admin utk KPK memanggil 12. Namun apa daya, saya terlena dengan syarat yang sudah saya lengkapi namun ternyata pada saat pelaksanaannya tepat hari Kamis pukul 13.00-14.00 saya mengalami kegagalan. Kegagalan yang menurut saya unik yakni masalah cookies pada laptop saya. Pada kasus ini saya mengguakan Google Chrome, dengan setting cookies sudah di allow, javascript ok bahkan adobe flash sudah terupdate maksimal. Pilihan kecewa menjadi satu jawaban pasti ketika pasword dan username yang digunakan dalam tes online (terbagi menjadi 2 tes yakni tes kecerdasan dan tes kepribadian) ini gagal. Gagal karena cookies, saya agak kecewa. Saya dengan cepatnnya mem bbm ibu saya dan bilang bahwa tes online nya gagal karenan ada kesalahan di chromenya terkait cookies. Ibu bilang, mungkin belum rejekinya disana yang.

Selang 5 hari tepatnya  hari Senin pukul 20.00 saya mendapatkan sms dari nomor 0815******** yang memberitahukan agar saya dapat mengecek email saya. Malam itu saya langsung check email untuk memastikan infonya valid dan tidak failed lagi dalam masuk gara gara cookies yang tidak aktif. Adanya pemberitahuan ulang ini mengingatkan diskusi ringan saya dengan anak anak PEkA malam senin kemarin, salah satu teman saya bilang ada file bug yang bermasalah pada saat tes online KPK kemarin. Ini yang bicara anak IT yang cukup bisa dipegang omonganya karena teman teman dia juga cukup banyak yang lolos beberapa tes PNS atau BUMN. Eh ternyata benar, sebelumnya saya kirim email ke pihak panitia penyelenggara tes bahwa saya meminta untuk dilakukan nya tes online ulang, karena saya merasa sudah melakukan perintah a-f yang diminta oleh pihak panitia. Alhamdulillah tercapai tes ulangnya.

Tes ulangnya ya hari ini tadi pukul 10.30-11.30 saya melakukan tes online ulang di ruangan ini dengan online support Smartfren Andromax M3Z (Antilelet). Untungnya semalem didalam email tersebut diberikan beberapa langkah nyata untuk mengetes apakah cookies kita sudah bisa aktif atau belum, bahkan diberikan tutorial membersihkan cookies dengan lengkap. Semua saya ikuti pastinya agar tes ini tidak gagal lagi. Uniknya adalah ada latihan soal Demo yang diberikan oleh panitia untuk mencoba log in ke web ini bisa atau tidak. Ini menjadi nyata ternyata memang tidak terjadi masalah dalam program chrome saya atau kecepatan internet yang slow. Sudah dikerjakan walau ada 1 atau 2 soal yang tidak terkerjakan karena waktunya hanya beberapa menit dengan soal yang cukup signifikan memaksa Cereblum berfikir keras dan tangkas.

Sekarang tinggal menunggu,,,,menunggu hasil...semoga bisa menjemput future lebih baik tentunya.
Pengumuman akan keluar pada tanggal 4 November 2016..

ada 1 lagi confuse, saya mengirim cv ke pihak NF karena ingin iseng ngajar freelance di NF belakang RSCM. Gak ngerti udah kirim emailnya 1 bulan yang lalu sehingga respon pun tak ada saya fikir saya gagal. Malah ini sabtu pekan ini ada panggilan untuk datang ke NF pusat di Dekat Ragunan. Saya bingung,,,karena saya iseng melamar hanya untuk freelance,,, bukan pekerja tetap. Karena hari ini saya menikmati disini,,di dunia yang berbau Biologi ini.

Namun,,,perubahan itu nyata adanya,,,semoga Allah mudahkan.....

Kamis, 20 Oktober 2016

Ini cerita pengalaman orang yang lebih kecewa gagal tes KPK memanggil dibanding gw !!!

Pemberitaan mengenai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meruap akhir-akhir ini. Sebagian masyarakat, mempertanyakan kredibilitas lembaga superbody tersebut. Integritas komisionernya pun disorot. Panitia Seleksi (Pansel) pimpinan KPK juga tidak luput dari perhatian, terlebih setelah mereka menjegal Ade Rahardja, Chandra dan Johan Budi. Ketiganya merupakan calon pimpinan dari internal KPK. Pada tulisan ini saya tidak ingin mengomentari silang sengkarut di tubuh KPK. Saya hanya ingin menceritakan pengalaman saat mengikuti seleksi pegawai KPK pada 2008 silam. Lembaga penegak hukum ini tidak pernah main-main dalam merekrut pegawainya! Total jenderal, ada 6 tahap yang harus saya lalui di tes tersebut. Itu baru tes untuk calon pegawai. Untuk calon pimpinan tentu deretannya lebih panjang. Informasi lowongan kerja di KPK terpampang di koran, serta disiarkan secara daring. Saat itu saya melamar untuk posisi Calon Tenaga Fungsional (CTF). Prosesnya tidak rumit, calon pelamar hanya diminta mengirimkan biodata serta ijazah yang sudah dipindai. Berkas-berkas tersebut dikirim melalui email, KPK tidak menerima surat menyurat. Sangat simpel. Melamar jadi pegawai KPK aku anggap sekedar mencoba. Pasalnya, aku sudah menjadi wartawan tetap di kelompok media terbesar di tanah air, posisiku cukup nyaman. Namun sebagian besar teman ku mencoba melamar ke lembaga tersebut, Aku seolah latah. Apalagi iklan lowongannya begitu menggoda. “Indonesia Memanggil” begitulah bunyi informasi lowongan di KPK. Lamaran saya berbalas, nomor ujian pun saya kantongi. Ada sekitar 28 ribu orang yang lolos seleksi administrasi saat itu. Tahap selanjutnya, kami harus mengikuti psikotes dan wawasan umum. Tes itu dilaksanakan di gedung Lembaga Administrasi Negara (LAN) Pejompongan, dari jam 8 sampai 12 siang! Sekitar pukul 11.30 aku sudah menutup lembar ujian, aku orang pertama yang keluar ruangan. Bukan karena aku bisa mengerjakan, tapi karena otak ku sudah panas. Bayangkan, ada ratusan soal psikotes, matematika, bahasa, dan wawasan umum yang harus dilahap. Seumur hidup, belum pernah aku mengikuti tes dengan soal sebanyak itu. Pusing. Sekitar dua minggu KPK mengumumkan peserta yang lolos. Dewi fortuna baik padaku, nomor ujianku muncul di deretan daftar yang berhak mengikuti tahap selanjutnya. Aku terkejut. Jumlah kandidiat mengerucut menjadi sekitar 5.000 orang. Focus Group Discussion Tahap selanjutnya adalah Focus Group Discussion (FGD). Ujian ini digelar di kampus UI salemba. Maklum, KPK menunjuk UI sebagai konsultan perekrutan saat itu. Aku ditempatkan di ruang kelas bersama dua kandidat lain. Ada dua konsultan UI yang mengawasi jalannya diskusi. Kami disodorkan tema tentang upaya pemberantasan korupsi. Pesaing pertama ku di FGD itu juga lulusan Unpad dan bekerja di pabrik tekstil. Sedang yang satu lagi, mahasiswa IPB yang baru saja lulus. Keduanya mantan aktivis kampus. Dalam diskusi sekitar satu jam itu, aku diserang habis-habisan. Aku bertutur bahwa korupsi terbagai dua, karena kebutuhan (by need) dan karena keserakahan (by greed). Keduanya harus ditangani berbeda. Aku bilang, korupsi karena kebutuhan sebaiknya jangan ditindak secara pidana, tapi harus ditangani dengan perbaikan kesejahteraan. Mereka tidak sependapat. “Korupsi apapun bentuknya harus ditumpas,” tegas salah satu kompetitor ku di FGD itu. Aku sejatinya bersepakat, tetapi caranya yang berbeda. Konsultan UI yang mengawasi jalannya FGD tersebut juga menanyakan argumentasi yang aku ucapkan. Tapi semuanya lancar ku balas. Sebelum mengikuti FGD aku sudah membaca berita-berita tentang KPK, serta UU yang mengatur lembaga tersebut. Jadi, seluruh ucapan ku berdasar. Tak disangka, aku lolos ke tahap selanjutnya. Para pesaingku justru gagal. Di hari yang sama, aku harus mengikuti tes wawancara. Pewawancaranya adalah konsultan dari UI. Ia menanyakan latar belakang keluarga dan pengalaman organisasi sejak sekolah hingga bekerja. Standar. Tapi ada beberapa pertanyaan yang khas, Pewawancara itu menanyakan apa hal paling gila atau berani yang pernah aku lakukan? Ia juga menanyakan tentang prestasi kerja serta pengalaman bekerja dalam sebuah tim. Wawancara Akhir oleh KPK Berselang sekitar satu minggu, pengumuman tersiar di situs KPK. Ada sekitar 80 orang yang lolos, aku termasuk diantara mereka. Tahap selanjutnya adalah wawancara akhir. Tes digelar di kantor KPK, Kuningan. Saat menunggu dipanggil masuk ke ruangan tes, aku berkenalan dengan beberapa kandidat. Mereka hebat-hebat. Ada yang sudah menjadi manager di perusahaan migas asing, ada yang menjadi konsultan IT. Gaji mereka puluhan juta. Apa lagi yang mereka cari di KPK? “Pengabdian. Saya tidak nyaman bekerja di perusahaan asing. Saya ingin punya kontribusi untuk negara,” ucap sang manajer perusahaan migas yang saya sudah lupa namanya. Terdengar idealis, tapi orang-orang seperti itulah yang dibutuhkan negeri ini. Nomor ujian saya disebutkan melalui pelantang suara. Saya pun masuk ke ruang tes. Ada tiga orang yang menunggu. Mereka semua pegawai KPK. Saya dicecar berbagai pertanyaan sekitar 1,5 jam. Beberapa pertanyaan sama dengan wawancara tahap sebelumnya. Beberapa pertanyaan cukup menohok, “Apakah kamu bisa menjaga rahasia KPK,” lalu “Risiko kerja di KPK sangat tinggi, siapkah kamu dibenci, diteror, bahkan ditembak,” tegas pewawancara. Aku jawab Siap! Oya, pertanyaan yang beberapa kali ditanyakan adalah apa motivasi Anda melamar menjadi pegawai KPK. Beberapa pekan kemudian hasil tes wawancara akhir diumumkan. Ada 50 kandidat yang lolos. Aha, nomor ujian ku muncul. Aku berhak mengikuti tes kesehatan sebagai calon pegawai KPK. Tes dilaksanakan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Sayang, karena kelalaian, aku urung mengikuti tes tersebut. Tes digelar hari Sabtu, tapi aku justru datang hari Minggu. Aku salah melihat tanggal. Seluruh rangkaian tes menggunakan sistem gugur. Jadi, kalau ada kandidat yang tidak hadir, maka dianggap gugur. Aku menyesal luar biasa. Tes yang begitu panjang, sulit, dan melelahkan kandas hanya karena kelalaian. Meskipun sudah gagal menjadi pegawai KPK, aku masih penasaran menunggu pengumuman hasil tes kesehatan. Ternyata 48 orang dinyatakan lulus. Hampir sebagian besar peserta tes kesehatan lulus menjadi Calon Tenaga Fungsional KPK. Itulah sedikit gambaran tentang proses seleksi pegawai di KPK. Tahapannya cukup panjang dan sulit. Itulah mengapa saya sebut KPK tidak main-main merekrut pegawainya. Jadi, saya tidak sepaham jika ada yang mengusulkan KPK dibubarkan. Sebagai sebuah lembaga besar, saya yakin ada oknum yang bercokol disana. Tapi secara garis besar, kinerja KPK lebih baik dibanding saudaranya, Kepolisian dan Kejaksaan. KPK lebih kalis dibanding penegak hukum lainnya. Karena itu, segala bentuk upaya pemeberangusan KPK harus kita tentang. Wassalam

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/yohanrubiyantoro/pengalaman-mengikuti-seleksi-pegawai-kpk_55019d62a333115318511415



Sedangkan saya memiliki nasib yang kurang baik dikarenakan ketika saya iseng melamar di KPK padahal saya jurusan Biologi, ternyata saya lolos tes administrasi. Bayangkan malam diberitahukan sekitar pukul 20.00 wib besoknya harus tes online pukul 13.00-14.00. Semua syarat untuk tes online sudah saya ikuti dari a-f,,,namun pada kkenyataannya saya gagal di tes karena tidak boleh memencet refresh f5 karena akan keluar dan tidak bisa log ini kembali. Namun hal bodoh ini dilakukan karena saya pada saat tes online sudah bisa masuk log ini eh ternyata ada permintaan mohon aktifkan cookies anda. Lucunya saya sudah cek bahkan cek dengan betul bwah cokies saya sudah aktif dalam chrome. Apa daya mungkin belum rejekinya. maka saya gagal mengikuti tes menjadi pegawai KPK. Hikmahanya adalah mungkin KPK belum menjadi future saya dan Allah SWT belum memberikan izin untuk bisa bekerja disana. Semoga mama ga kecewa....tapi saya tetap bersyukur dan bahagia memiliki tim kerja di Cellsafe saat ini (Mas Ikbal, Om Rudi, mas Bram dan mas Wahyu)...


Semoga kedepan saya bisa lebih baik dalam mmemaksimalkan potensi kerja.

Kamis, 13 Oktober 2016

Merugilah,,,,

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Shamsi Ali *) Saya cukup terkejut dan sangat terusik dengan sikap Nusron di acara ILC TV One semalam. Baik pada sikap pikirannya maupun sikap bahasa lisan dan tubuh (body language) menunjukkan kerendahan yang sangat. Ketidakmampuan seseorang menyampaikan pemikiran secara elok, walaupun seandainya benar, menunjukkan adanya sesuatu yang salah. Apalagi, ketika pemikiran atau pemahaman itu memang, selain ignorant, arrogant, juga memang "blunder". Saya banyak tidak setuju dengan pola pikir kaum liberal. Karena, liberalisme berbeda dengan logika dalam pemikiran. Logika itu sehat dan perlu. Tapi, liberal bisa berarti ketidakinginan terikat dengan batas-batas keagamaan, bahkan yang disetujui sebagai batas fundamental sekalipun. Saya sangat logis. Bahkan, menganggap bahwa agama dan iman sekalipun itu memiliki basis logika yang kuat. Tapi, tidak berarti batas-batas atau dalam bahasa agama "huduud" harus diinjak-injak atas nama logika. Karena, selogis apapun pemikiran manusia, niscaya memiliki keterbatasan, bahkan cenderung menjadi perangkap kekeliruan. Oleh karenanya, memang pada akhirnya, logika tetap harus dipergunakan pada batas-batas yang telah ditetap oleh ketetapan langit (wahyu). Nusron tidak saja liberal. Tapi karakter yang mengekpresikan liberalisme dia dibangun di atas karakter yang tidak berakhlak. Kata-kata kasar, mimik wajah, mata terbelalak, dan jelas menampakkan emosi yang tidak terkontrol, semuanya menunjukkan siapa Nusron sesungguhnya. Sejujurnya, saya tidak terlalu kenal Nusron. Dan saya juga tidak terlalu ingin membuang energi, waktu dan pemikiran untuk membicarakannya. Karena sesungguhnya tidak terlalu bermutu untuk dibahas. Tapi, dalam acara ILC itu, terdapat beberapa hal yang sangat menggelitik, bahkan mengusik intelektualitas, bahkan sensitivitas iman saya. Pertama, pernyataan bahwa yang berhak memahami Alquran adalah hanya Allah dan Rasul-Nya. Pernyataan ini sangat paradoks dengan posisi keagamaan Nusron yang selau mengatakan bahwa teks-teks agama itu harus dengan logika. Bahkan yang menentukan kebenaran adalah logika manusia, seperti pada posisi dasar liberalisme. Kedua, pernyataan di atas sejatinya bertentangan dengan tujuan dasar Al-Quran untuk dipahami oleh manusia: "inna anzalnaahu Qur'aanan Arabiyan la'allakuk ta'qiluun". Intinya Alquran diturunkan untuk dipahami. Dan kalau hanya Allah dan RasulNya yang paham makna Alquran, untuk apa diturunkan kepada manusia? Apalagi jika memang Alquran itu ditujukan sebagai petunjuk (hudan linnas). Bisakah manusia menjadikannya sebagai manual hidup jika tidak memahaminya? Ketiga, pernyataannya tentang pernyataan Ahok bahwa hanya Ahok-lah yang paham. Nusron secara tidak langsung mengatakan semua orang harus menutup telinga dan mata dari sikap dan kata Ahok. Ada dua kemungkinan dalam hal ini. Pertama, boleh jadi karena kebutaan dan ketulian Nusron menghendaki semua manusia buta dan tuli. Sehingga tidak perlu lagi atau berpura-pura tidak tahu lagi apa yang diucapkan oleh Ahok. Kedua, boleh juga karena Nusron sudah menempatkan Ahok pada posisi Tuhan yang firman-Nya absolut dan hanya dia yang paham. Keempat, penampilan Yusron dengan mimik wajah yang emosional, kata-kata yang tidak terkontrol, tampaknya memang satu karakter dengan orang yang ingin dimenangkannya. Tampil dalam setting diskusi, apalagi disiarkan secara langsung le seluruh pelosok tanah air melalui televisi nasional, sangatlah tidak pantas dengan emosi yang tidak terkontrol. Biasanya, sikap seperti itu, sekaligus menjadi ukuran kedalaman ilmu dan kematangan kejiwaan seseorang. Kelima, mungkin yang paling mengusik adalah sebagai kader NU (semoga benar) sikap Nusron adalah antithesis dari karakater NU yang tradisinya menghormati para ulama. Ketika Nusron berteriak-teriak menunjuk-nunjuk ulama, langsung atau tidak, maka dalam bahasa jalanan itu namanya "kurang ajar". Oleh karenanya, semua pihak harus mencari cara agar Nusron ini tidak lagi mengulangi. Perbedaan pendapat oke lah. Saya mendukung adanya perbedaan pendapat, termasuk dalam penafsiran teks-teks agama. Tapi, hendaknya dilakukan pada batas-batas syar'i, dan yang lebih penting dibangun di atas dasar "khuluqi". Wallahu al-Muwaffiq ilaa aqwamit thoriq (penutup ala NU).

Senin, 03 Oktober 2016

Ketidakprofesionalan dalam bekerja

Bismillah,,

Kali ini penulis ingin mencoba mengungkapkan beberapa kejadian yang dialami secara pribadi.
Pertama mengenai mekanisme manner dalam bekerja,
Kedua mengenai pola pikir, pandangan dan juga akal pada orang yang berbeda strata
Ketiga mengenai kebijakan yang dibuat sepihak tanpa ada pola uji coba

Perlahan namun pasti dewasa ini semua orang penuh dengan rutinitasnya masing-masing. Setiap gelombang kehidupan dihempaskan oleh kesibukan yang tanpa ada batas dalam mengejar materi. Materi yang dikejar pun tidak pula menghilangkan rasa lelah untuk menggapainya. Uang sebagai pengganti kata materi menjadi berguna begitu kata orang yang bisa menggunakannya sebagai alat tukar. Semua orang hidup butuh uang, tapi bukan uang yang didewakan, tapi sembahlah Allah sebagai pemberi rezeki.  Rezeki berupa uang memang tidak langsung diturunkan, melalui beberapa konektor yang Allah sudah atur. Menikmati rizki nya dengan bersyukur menjadi salah satu upaya terbaik untuk menghargai serta bersungguh sungguh beribadah kepada Nya.
Dimensi dunia dalam mengembangkan kepribadian ditopang dengan perbedaan softskill masing masing pelaku kerja. Kenikmatan dalam menikmati pekerjaan bukan jadi hambatan dalam meningkatkan performa. Terapi kebosanan membuang waktu bahkan menjadi satu kebiasaan yang mengakar dari dalam diri. Ambil beberapa contoh: tapi dilihat dari kata iri dalam melihat sesorang memompa rasa syirik yang berlebihan atas dasar itulah mencoba berbagai hal instan untuk menggapainya.
Teringat pesan kaka tingkat sewaktu kuliah, jangan lihat sekarang dia, tapi kamu harus tau seberapa besar perjuangan yang tidak dia tampilkan untuk mendapatkan “dia” yang sekarang.
Semua orang sudah diatur rezekinya sama Allah sang penulis langit. Tutur kata lembut nan tegas tertulis semua dalam Al Quran, tinggal bagaimana mau atau tidak untuk mengamalkannya. Selebihnya orientasi lingkungan manusiawi serta persamaan toleransi masyarakat menjadi usaha terkecil untuk membuat orientasi zoon politicon. Ketegasan dalam syair syair rindu yang dilantunkan menjadi contoh tidak tertulis yang menuangkan peluhan arti untuk mau terus berikhtiar, berdoa dan tawakkal.
Dimensi Manusia saat ini mulai berandai terlau besar, tapi tidak punya daya lelah juang yang besar. Formula matematikanya sama saja hasilnya tak hingga, apanya? Keinginannya tak hingga. Ya betul, karena apa? Karena manusia tidak akan pernah puas apabila Rem ABS bersyukur tidak pernah ia gunakan.
Mula-mula pantauan umum seorang pelaku kerja terhadap lawan kerjanya adalah partner, teman, bos, anak buah, saudara. Tapi berhati hatilah dengan hati yang tidak utuh dalam bercengkrama soal pekerjaan. Ada sisi egois besar nan terbendung mengambil alih kata persaudaraan demi memuaskan keinginan pribadi yang merugikan orang banyak. Duhai saudara nan jauh disana, seseorang tidak bisa menerima semua kekuranganmu tanpa kamu mau menerima apa yang mereka punya.
Dalam lingkungan ekosistem yang rigid, banyak sekali keteraturan dalam kebutuhan. Faktor biotik abiotik berlawanan namun tetap memiliki satu tujuan untuk menunjang kehidupan yang sehat. Ekosistem kerja pun demikian, karakter, asal muasal memang beda, tapi pahamilah ada satu fase perbuatan yang bisa membuat penilaian orang ini layak atau tidak untuk dikawani. Fase itu sederhana, sesederhana dalam mengucapkannya. Fase itu adalah ikhlas. Ikhlas dalam bekerja, ikhlas dalam menjalankan amanah, ikhlas dalam bertranformasi kerjaan untuk tujuan bersama yang elegan nan gagah.
Tempurung kura kura tidak akan rusak apabila dihancurkan secara perlahan, bahkan bisa rusaknya hanya dengan tangan tangan kuat yang punya niatan merusaknya. Maafkan apabila tidak sempurna, cinta ini tidak mungkin kujaga, ayat ayat cinta bercerita, cinta ku padamu. Lirik ini cukup meyakinkan apabila kita cinta pada kura kura, maka jagalah, biarlah ayat ayat cinta Allah bercerita untuk menjagamu.
Kembali ke fase ikhlas, saking gampangnya ujian pun pasti akan datang dengan tergesa sambil melihat seberapa jauh para newbie membendung keegoisan yang tak hingga.
Atas dasar ini lah penulis cukup berat memikirkan keadilan, walau dalam perusahaan yang tidak besar, namun diisi oleh beberapa orang yang bukan pribumi. Secara keilmuan ingin bertambah, secara kemaluan untuk membutuhkan uang itu tidak dipungkiri walau sadar yang akan kaya nantinya pada posisi top management, karna cecurut cecurut pekerja ini hanya sebagai pekerja yang bekerja ikhlas untuk berjuang memperjuangkan mimpinya, ada impian ingin menikah, ada impian ingin mempersiapkan persalinan anak, ingin membeli motor vixion yang belum terbeli sampai mimpi ingin membahagiakan orang tuanya dan ingin menikah diumur yang sudah diujung tsb. Lagi lagi fase ikhlas sedang diuji, diuji untuk dibenturkan dengan para pemegang kebijakan sepihak yang tidak mau mengakui kesalahanya. Tidak diajarkan meminta maaf terlebih dahulu, atau bahkan merasa benar karena jabatan yang diembannya. Layaknya kudanil yang sering mandi tapi tidak pernah terlihat ganteng. Karena kesalahan yang dibuat maka melebar ke segala aspek hingga peraturan yang dibuat berbelit. Padahal kesalahannya ditutup dengan diksi diksi lain yang seolah tim kami yang salah. Penulis ingin mempertegas melalui tulisan ini, bahwa berjagalah pada teman kerja, karena mereka berteman karena untuk kebutuhan, bukan untuk kesetiakawanan. Buat apa susah dibuat ribet, kata yang paling saya tidak suka dikarenakan ada beberapa kebenaran yang harus berani untuk diperjuangkan, karena jika sudah diperjuangkan baik benar atau salah akan ketahuan hasilnya dan kepuasan batin makin menjadi. Dalam tulisan ini bergetar saya membayangkan posisi para penggojek Gojek yang mendemo mas Nadiem Makarim selaku CEO Gojek, terkait kebijakan yang dibuat tanpa mengajak atau mengindahkan hak driver. GOJEK saja bisa demo, kenapa kita enggak>tapi kita perusahaan kecil dengan peraturan besar selayaknya perusaan yang menggaji 10-30 juta per bulannya. Sela akan kami perbaiki, menjadi konten indah untuk diserang oleh pengacara (apabila ada), karena hak pekerja diganggu oleh kesalahan bodoh yang tak termpampang mukanya, hanya terlihat oleh tulisan TEXT email saja.
Beginilah kehidupan kerja, bukan masalah uang dibayar atau tidak. Tapi masalah Manner yang menjadi dasar pintu kebaikan bersama bisa terbuka. Terimakasih atas pelajaran awal bulan Oktober ini, maaf keluar kata kasar di Twitter. Tapi inilah saya, karena saya punya kualitas diri dalam pekerjaanya yang saya kerjakan, karena saya yakin rejeki bukan manusia yang atur. Allah SWT yang mengatur rezeki setiap orang yang mau beribadah, bersyukur dan melakukan kebaikan.

Penulis tulis tulisan ini diumur 26 tahun, di tempat kerja yang ketiga dengan tingkat pengalaman rendah namun pemahaman untuk menganalisa masalah mumpuni untuk berkembang mencari jawaban.
Semoga pengalaman ini berhujung pada kebaikan bukan keburukan.
Gilang Ainan D

Rakyat Jakarta

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...