Bismillah,,
Kali ini penulis
ingin mencoba mengungkapkan beberapa kejadian yang dialami secara pribadi.
Pertama mengenai
mekanisme manner dalam bekerja,
Kedua mengenai
pola pikir, pandangan dan juga akal pada orang yang berbeda strata
Ketiga mengenai
kebijakan yang dibuat sepihak tanpa ada pola uji coba
Perlahan namun
pasti dewasa ini semua orang penuh dengan rutinitasnya masing-masing. Setiap
gelombang kehidupan dihempaskan oleh kesibukan yang tanpa ada batas dalam
mengejar materi. Materi yang dikejar pun tidak pula menghilangkan rasa lelah
untuk menggapainya. Uang sebagai pengganti kata materi menjadi berguna begitu
kata orang yang bisa menggunakannya sebagai alat tukar. Semua orang hidup butuh
uang, tapi bukan uang yang didewakan, tapi sembahlah Allah sebagai pemberi
rezeki. Rezeki berupa uang memang tidak
langsung diturunkan, melalui beberapa konektor yang Allah sudah atur. Menikmati
rizki nya dengan bersyukur menjadi salah satu upaya terbaik untuk menghargai
serta bersungguh sungguh beribadah kepada Nya.
Dimensi dunia
dalam mengembangkan kepribadian ditopang dengan perbedaan softskill masing
masing pelaku kerja. Kenikmatan dalam menikmati pekerjaan bukan jadi hambatan
dalam meningkatkan performa. Terapi kebosanan membuang waktu bahkan menjadi
satu kebiasaan yang mengakar dari dalam diri. Ambil beberapa contoh: tapi
dilihat dari kata iri dalam melihat sesorang memompa rasa syirik yang
berlebihan atas dasar itulah mencoba berbagai hal instan untuk menggapainya.
Teringat pesan
kaka tingkat sewaktu kuliah, jangan lihat sekarang dia, tapi kamu harus tau
seberapa besar perjuangan yang tidak dia tampilkan untuk mendapatkan “dia” yang
sekarang.
Semua orang sudah
diatur rezekinya sama Allah sang penulis langit. Tutur kata lembut nan tegas
tertulis semua dalam Al Quran, tinggal bagaimana mau atau tidak untuk
mengamalkannya. Selebihnya orientasi lingkungan manusiawi serta persamaan
toleransi masyarakat menjadi usaha terkecil untuk membuat orientasi zoon politicon. Ketegasan dalam syair
syair rindu yang dilantunkan menjadi contoh tidak tertulis yang menuangkan
peluhan arti untuk mau terus berikhtiar, berdoa dan tawakkal.
Dimensi Manusia
saat ini mulai berandai terlau besar, tapi tidak punya daya lelah juang yang
besar. Formula matematikanya sama saja hasilnya tak hingga, apanya? Keinginannya
tak hingga. Ya betul, karena apa? Karena manusia tidak akan pernah puas apabila
Rem ABS bersyukur tidak pernah ia gunakan.
Mula-mula
pantauan umum seorang pelaku kerja terhadap lawan kerjanya adalah partner,
teman, bos, anak buah, saudara. Tapi berhati hatilah dengan hati yang tidak
utuh dalam bercengkrama soal pekerjaan. Ada sisi egois besar nan terbendung
mengambil alih kata persaudaraan demi memuaskan keinginan pribadi yang
merugikan orang banyak. Duhai saudara nan jauh disana, seseorang tidak bisa
menerima semua kekuranganmu tanpa kamu mau menerima apa yang mereka punya.
Dalam lingkungan
ekosistem yang rigid, banyak sekali keteraturan dalam kebutuhan. Faktor biotik
abiotik berlawanan namun tetap memiliki satu tujuan untuk menunjang kehidupan
yang sehat. Ekosistem kerja pun demikian, karakter, asal muasal memang beda,
tapi pahamilah ada satu fase perbuatan yang bisa membuat penilaian orang ini
layak atau tidak untuk dikawani. Fase itu sederhana, sesederhana dalam
mengucapkannya. Fase itu adalah ikhlas. Ikhlas dalam bekerja, ikhlas dalam
menjalankan amanah, ikhlas dalam bertranformasi kerjaan untuk tujuan bersama
yang elegan nan gagah.
Tempurung kura
kura tidak akan rusak apabila dihancurkan secara perlahan, bahkan bisa rusaknya
hanya dengan tangan tangan kuat yang punya niatan merusaknya. Maafkan apabila
tidak sempurna, cinta ini tidak mungkin kujaga, ayat ayat cinta bercerita,
cinta ku padamu. Lirik ini cukup meyakinkan apabila kita cinta pada kura kura,
maka jagalah, biarlah ayat ayat cinta Allah bercerita untuk menjagamu.
Kembali ke fase
ikhlas, saking gampangnya ujian pun pasti akan datang dengan tergesa sambil
melihat seberapa jauh para newbie membendung keegoisan yang tak hingga.
Atas dasar ini
lah penulis cukup berat memikirkan keadilan, walau dalam perusahaan yang tidak
besar, namun diisi oleh beberapa orang yang bukan pribumi. Secara keilmuan
ingin bertambah, secara kemaluan untuk membutuhkan uang itu tidak dipungkiri
walau sadar yang akan kaya nantinya pada posisi top management, karna cecurut
cecurut pekerja ini hanya sebagai pekerja yang bekerja ikhlas untuk berjuang
memperjuangkan mimpinya, ada impian ingin menikah, ada impian ingin
mempersiapkan persalinan anak, ingin membeli motor vixion yang belum terbeli
sampai mimpi ingin membahagiakan orang tuanya dan ingin menikah diumur yang
sudah diujung tsb. Lagi lagi fase ikhlas sedang diuji, diuji untuk dibenturkan
dengan para pemegang kebijakan sepihak yang tidak mau mengakui kesalahanya.
Tidak diajarkan meminta maaf terlebih dahulu, atau bahkan merasa benar karena
jabatan yang diembannya. Layaknya kudanil yang sering mandi tapi tidak pernah
terlihat ganteng. Karena kesalahan yang dibuat maka melebar ke segala aspek
hingga peraturan yang dibuat berbelit. Padahal kesalahannya ditutup dengan
diksi diksi lain yang seolah tim kami yang salah. Penulis ingin mempertegas
melalui tulisan ini, bahwa berjagalah pada teman kerja, karena mereka berteman
karena untuk kebutuhan, bukan untuk kesetiakawanan. Buat apa susah dibuat
ribet, kata yang paling saya tidak suka dikarenakan ada beberapa kebenaran yang
harus berani untuk diperjuangkan, karena jika sudah diperjuangkan baik benar
atau salah akan ketahuan hasilnya dan kepuasan batin makin menjadi. Dalam
tulisan ini bergetar saya membayangkan posisi para penggojek Gojek yang mendemo
mas Nadiem Makarim selaku CEO Gojek, terkait kebijakan yang dibuat tanpa
mengajak atau mengindahkan hak driver. GOJEK saja bisa demo, kenapa kita
enggak>tapi kita perusahaan kecil dengan peraturan besar selayaknya perusaan
yang menggaji 10-30 juta per bulannya. Sela akan kami perbaiki, menjadi konten
indah untuk diserang oleh pengacara (apabila ada), karena hak pekerja diganggu
oleh kesalahan bodoh yang tak termpampang mukanya, hanya terlihat oleh tulisan
TEXT email saja.
Beginilah
kehidupan kerja, bukan masalah uang dibayar atau tidak. Tapi masalah Manner
yang menjadi dasar pintu kebaikan bersama bisa terbuka. Terimakasih atas
pelajaran awal bulan Oktober ini, maaf keluar kata kasar di Twitter. Tapi inilah
saya, karena saya punya kualitas diri dalam pekerjaanya yang saya kerjakan,
karena saya yakin rejeki bukan manusia yang atur. Allah SWT yang mengatur
rezeki setiap orang yang mau beribadah, bersyukur dan melakukan kebaikan.
Penulis tulis
tulisan ini diumur 26 tahun, di tempat kerja yang ketiga dengan tingkat
pengalaman rendah namun pemahaman untuk menganalisa masalah mumpuni untuk
berkembang mencari jawaban.
Semoga pengalaman
ini berhujung pada kebaikan bukan keburukan.
Gilang Ainan D
Rakyat Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar