Pemberitaan mengenai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meruap akhir-akhir ini. Sebagian masyarakat, mempertanyakan kredibilitas lembaga superbody tersebut. Integritas komisionernya pun disorot. Panitia Seleksi (Pansel) pimpinan KPK juga tidak luput dari perhatian, terlebih setelah mereka menjegal Ade Rahardja, Chandra dan Johan Budi. Ketiganya merupakan calon pimpinan dari internal KPK. Pada tulisan ini saya tidak ingin mengomentari silang sengkarut di tubuh KPK. Saya hanya ingin menceritakan pengalaman saat mengikuti seleksi pegawai KPK pada 2008 silam. Lembaga penegak hukum ini tidak pernah main-main dalam merekrut pegawainya! Total jenderal, ada 6 tahap yang harus saya lalui di tes tersebut. Itu baru tes untuk calon pegawai. Untuk calon pimpinan tentu deretannya lebih panjang. Informasi lowongan kerja di KPK terpampang di koran, serta disiarkan secara daring. Saat itu saya melamar untuk posisi Calon Tenaga Fungsional (CTF). Prosesnya tidak rumit, calon pelamar hanya diminta mengirimkan biodata serta ijazah yang sudah dipindai. Berkas-berkas tersebut dikirim melalui email, KPK tidak menerima surat menyurat. Sangat simpel. Melamar jadi pegawai KPK aku anggap sekedar mencoba. Pasalnya, aku sudah menjadi wartawan tetap di kelompok media terbesar di tanah air, posisiku cukup nyaman. Namun sebagian besar teman ku mencoba melamar ke lembaga tersebut, Aku seolah latah. Apalagi iklan lowongannya begitu menggoda. “Indonesia Memanggil” begitulah bunyi informasi lowongan di KPK. Lamaran saya berbalas, nomor ujian pun saya kantongi. Ada sekitar 28 ribu orang yang lolos seleksi administrasi saat itu. Tahap selanjutnya, kami harus mengikuti psikotes dan wawasan umum. Tes itu dilaksanakan di gedung Lembaga Administrasi Negara (LAN) Pejompongan, dari jam 8 sampai 12 siang! Sekitar pukul 11.30 aku sudah menutup lembar ujian, aku orang pertama yang keluar ruangan. Bukan karena aku bisa mengerjakan, tapi karena otak ku sudah panas. Bayangkan, ada ratusan soal psikotes, matematika, bahasa, dan wawasan umum yang harus dilahap. Seumur hidup, belum pernah aku mengikuti tes dengan soal sebanyak itu. Pusing. Sekitar dua minggu KPK mengumumkan peserta yang lolos. Dewi fortuna baik padaku, nomor ujianku muncul di deretan daftar yang berhak mengikuti tahap selanjutnya. Aku terkejut. Jumlah kandidiat mengerucut menjadi sekitar 5.000 orang. Focus Group Discussion Tahap selanjutnya adalah Focus Group Discussion (FGD). Ujian ini digelar di kampus UI salemba. Maklum, KPK menunjuk UI sebagai konsultan perekrutan saat itu. Aku ditempatkan di ruang kelas bersama dua kandidat lain. Ada dua konsultan UI yang mengawasi jalannya diskusi. Kami disodorkan tema tentang upaya pemberantasan korupsi. Pesaing pertama ku di FGD itu juga lulusan Unpad dan bekerja di pabrik tekstil. Sedang yang satu lagi, mahasiswa IPB yang baru saja lulus. Keduanya mantan aktivis kampus. Dalam diskusi sekitar satu jam itu, aku diserang habis-habisan. Aku bertutur bahwa korupsi terbagai dua, karena kebutuhan (by need) dan karena keserakahan (by greed). Keduanya harus ditangani berbeda. Aku bilang, korupsi karena kebutuhan sebaiknya jangan ditindak secara pidana, tapi harus ditangani dengan perbaikan kesejahteraan. Mereka tidak sependapat. “Korupsi apapun bentuknya harus ditumpas,” tegas salah satu kompetitor ku di FGD itu. Aku sejatinya bersepakat, tetapi caranya yang berbeda. Konsultan UI yang mengawasi jalannya FGD tersebut juga menanyakan argumentasi yang aku ucapkan. Tapi semuanya lancar ku balas. Sebelum mengikuti FGD aku sudah membaca berita-berita tentang KPK, serta UU yang mengatur lembaga tersebut. Jadi, seluruh ucapan ku berdasar. Tak disangka, aku lolos ke tahap selanjutnya. Para pesaingku justru gagal. Di hari yang sama, aku harus mengikuti tes wawancara. Pewawancaranya adalah konsultan dari UI. Ia menanyakan latar belakang keluarga dan pengalaman organisasi sejak sekolah hingga bekerja. Standar. Tapi ada beberapa pertanyaan yang khas, Pewawancara itu menanyakan apa hal paling gila atau berani yang pernah aku lakukan? Ia juga menanyakan tentang prestasi kerja serta pengalaman bekerja dalam sebuah tim. Wawancara Akhir oleh KPK Berselang sekitar satu minggu, pengumuman tersiar di situs KPK. Ada sekitar 80 orang yang lolos, aku termasuk diantara mereka. Tahap selanjutnya adalah wawancara akhir. Tes digelar di kantor KPK, Kuningan. Saat menunggu dipanggil masuk ke ruangan tes, aku berkenalan dengan beberapa kandidat. Mereka hebat-hebat. Ada yang sudah menjadi manager di perusahaan migas asing, ada yang menjadi konsultan IT. Gaji mereka puluhan juta. Apa lagi yang mereka cari di KPK? “Pengabdian. Saya tidak nyaman bekerja di perusahaan asing. Saya ingin punya kontribusi untuk negara,” ucap sang manajer perusahaan migas yang saya sudah lupa namanya. Terdengar idealis, tapi orang-orang seperti itulah yang dibutuhkan negeri ini. Nomor ujian saya disebutkan melalui pelantang suara. Saya pun masuk ke ruang tes. Ada tiga orang yang menunggu. Mereka semua pegawai KPK. Saya dicecar berbagai pertanyaan sekitar 1,5 jam. Beberapa pertanyaan sama dengan wawancara tahap sebelumnya. Beberapa pertanyaan cukup menohok, “Apakah kamu bisa menjaga rahasia KPK,” lalu “Risiko kerja di KPK sangat tinggi, siapkah kamu dibenci, diteror, bahkan ditembak,” tegas pewawancara. Aku jawab Siap! Oya, pertanyaan yang beberapa kali ditanyakan adalah apa motivasi Anda melamar menjadi pegawai KPK. Beberapa pekan kemudian hasil tes wawancara akhir diumumkan. Ada 50 kandidat yang lolos. Aha, nomor ujian ku muncul. Aku berhak mengikuti tes kesehatan sebagai calon pegawai KPK. Tes dilaksanakan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Sayang, karena kelalaian, aku urung mengikuti tes tersebut. Tes digelar hari Sabtu, tapi aku justru datang hari Minggu. Aku salah melihat tanggal. Seluruh rangkaian tes menggunakan sistem gugur. Jadi, kalau ada kandidat yang tidak hadir, maka dianggap gugur. Aku menyesal luar biasa. Tes yang begitu panjang, sulit, dan melelahkan kandas hanya karena kelalaian. Meskipun sudah gagal menjadi pegawai KPK, aku masih penasaran menunggu pengumuman hasil tes kesehatan. Ternyata 48 orang dinyatakan lulus. Hampir sebagian besar peserta tes kesehatan lulus menjadi Calon Tenaga Fungsional KPK. Itulah sedikit gambaran tentang proses seleksi pegawai di KPK. Tahapannya cukup panjang dan sulit. Itulah mengapa saya sebut KPK tidak main-main merekrut pegawainya. Jadi, saya tidak sepaham jika ada yang mengusulkan KPK dibubarkan. Sebagai sebuah lembaga besar, saya yakin ada oknum yang bercokol disana. Tapi secara garis besar, kinerja KPK lebih baik dibanding saudaranya, Kepolisian dan Kejaksaan. KPK lebih kalis dibanding penegak hukum lainnya. Karena itu, segala bentuk upaya pemeberangusan KPK harus kita tentang. Wassalam
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/yohanrubiyantoro/pengalaman-mengikuti-seleksi-pegawai-kpk_55019d62a333115318511415
Sedangkan saya memiliki nasib yang kurang baik dikarenakan ketika saya iseng melamar di KPK padahal saya jurusan Biologi, ternyata saya lolos tes administrasi. Bayangkan malam diberitahukan sekitar pukul 20.00 wib besoknya harus tes online pukul 13.00-14.00. Semua syarat untuk tes online sudah saya ikuti dari a-f,,,namun pada kkenyataannya saya gagal di tes karena tidak boleh memencet refresh f5 karena akan keluar dan tidak bisa log ini kembali. Namun hal bodoh ini dilakukan karena saya pada saat tes online sudah bisa masuk log ini eh ternyata ada permintaan mohon aktifkan cookies anda. Lucunya saya sudah cek bahkan cek dengan betul bwah cokies saya sudah aktif dalam chrome. Apa daya mungkin belum rejekinya. maka saya gagal mengikuti tes menjadi pegawai KPK. Hikmahanya adalah mungkin KPK belum menjadi future saya dan Allah SWT belum memberikan izin untuk bisa bekerja disana. Semoga mama ga kecewa....tapi saya tetap bersyukur dan bahagia memiliki tim kerja di Cellsafe saat ini (Mas Ikbal, Om Rudi, mas Bram dan mas Wahyu)...
Semoga kedepan saya bisa lebih baik dalam mmemaksimalkan potensi kerja.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...
-
..............................................................................................................................................
-
Ada hikmah dalam kebersamaan Ada nikmat dalam bingkai silaturahmi Ada cinta dalam dekapan ukhuwah Bukber rasa baru, karena bebe...
Maaf sekedar info,
BalasHapussaya juga hari ini, gagal dan terhambat,
login tp tidak bisa,
jadi saya tadi iseng cari di google,
membaca berita
"KPK Tes Ulang 400 Pelamar Spesialis Muda "
https://nasional.tempo.co/read/news/2016/10/21/173814050/kpk-tes-ulang-400-pelamar-spesialis-muda
Silakan dibaca, mudah2an bener2 ada tes ulang,
Oh iya mba Putri,,,terimakasih infonya,alhamdulillah saya juga diundang tes ulang hari ini...mudah mudahan sama sama bisa lolos ke tahap selanjutnya ya mba,,,
Hapus