Selasa, 21 Maret 2017

Jasa tukang parkir di dunia perkantoran, mall atau jalan liar sekalipun, Gimana pengalaman kalian?

Guys,
mungkin ini tulisan yang harusnya gw buat di Bulan Desember 2016. Melihat realita yang terjadi para juru parkir yang legal dan non legal, walaupun keduanaya menjunjung tinggi nilai kerja keras dalam kesungguhan. Jangan membodohi terkait dengan pekerjaan ini, menurut gw orang yang kerja sebagai juru parkir ilegal bisa menikah bahkan menafkahi anak istrinya. Jakarta dan Bandung sebagai lokasi sampling gw melihat realita juru parkir. Ada yang mengenakan pakaian dinas atau pun baju seadanya. Bermodalkan pluit, serta tangan kiri memegang segenggam uang 1000 atau 2000 rupiah, dengan kesungguhan mereka beraksi dengan berani memotong laju kendaraan hanya untuk 1 mobil yang ingin belok atau putar balik. Jangan berhenti disini. Ada 3 pola juru parkir yang gw pelajari : Pertama adalah juru parkir yang ada sambil menjaga kendaraan yang diparkirkannya. Kedua adalah juru parkir yang bekerja hanya untuk di lokasi belokan atau putaran. Ketiga adalah tipe juru parkir yang tidak ada sosoknya, namun ketika kita ingin mngambil motor kita dia tiba tiba muncul dan menagih uang parkir.

Maaf kalo gw menyamakan disini posisi polisi cepek sebagai juru parkir tipe 2. Kenapa dimasukkan ke dalam juru, menurut gw mereka 1 profesi menjual jasa untuk memberikan service kepada pengguna.


Untuk juru parkir kantoran, pasti teman teman pernah melihat beberapa juru parkir resmi misal seperti CSS atau lainnya. Pada baju bagian belakang tertulis dengan jelas tulisan No Tipping. 

Pada kenyataannya adalah mereka yang bisa parkir di tempat kantor adalah orang orang yang bisa membayar lebih ke penjaga parkir di area tertentu, bahkan beberapa dokter sudah ada yang mengetem langganan untuk bisa mendapatkan area parkir. Karena untuk orang umum tidak bisa dikasih oleh pihak parkir, kejam sih bahkan gw bilangnya adanya ketidak adilan, coba deh kalian bayangin kalo misalnya ada orang yang harus membuthkan parkiran karena kondisi sedang darurat harus di bawa ke IGD mau bagaimana coba?
Dunia kecil perparkiran tidak adil memang, saya kira. Saya mellihat ini bukan hanya pada sudut pandang kota Jakarta tetapi juga RS yang ada di Bandung. Contoh seksamanya adalah ada orang yang mau parkir ditanya deh itu sama penjaganya, mau lama sama sebentar? tapi ini merupakan kode sederhana yang mengharuskan orang yang ada di mobil tersebut untuk memberikan uang lebih. Halal atau engga ? gw ga paham sampe hukum kearah ini. Namun itulah realitanya. Bahkan kalau kalian jalan ke mall, ada satpam yang menutup dengan bumper orange (lambang VLC) tapi giliran kita tanya pak ada parkiran kosong, oh ada mas ayo ikut saya. Sampe selesai pak satpma membantu memarkirkan, doi menunggu di depan mobil berharap diberikan uang tip. Yah gitu deh, salam tempel pun beraksi.


Pahit betul memang, tapi karena mungkin mereka butuh dan kita butuh. Akhirnya ada hukum keseimbangan dimana sama sama butuh untuk kebutuhan bersama. Terpenting adalah bagaimana menguasai keadaan dengan realita sederhana namun mengakar hingga kini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...