Rizky
Hadyanto
“Telah
pasti datangnya ketetapan ALLAH, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan
(datang)nya” (QS. An-Nahl: 1)
Jangan
pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah anda mau mengeluarkan
kandungan sebelum waktunya dilahirkan, atau memetik buah-buahan sebelum masak?
Hari
esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, karena belum berwujud,
dan tidak memiliki rasa dan warna. Jika demikian, mengapa kita harus
menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin
akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, dan
meramalkan bencana-bencana yang bakal ada didalamnya? Bukankah kita juga tidak
tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok itu
kita akan berwujud kesenangan atau kesedihan?
Yang
jelas hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun ke bumi. Maka, tidak
sepantaasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai diatasnya. Sebeb,
siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi
kita akan terhenti jalan kita sebelum sampai ke jembatan itu,atau mungkin pula
jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai diatasnya.
Dan bisa jadi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian
menyeberanginya.
Dalam
syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan
membuka-buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang
baru diduga darinya, adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Pasalnya, hal itu
termasuk thuful amal (angan-angan yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan
itu pun tidak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan
baying-bayang. Namun ironisnya, kebanyakan manusia di dunia ini justru termakan
oleh ramalan-ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit, dan krisis
ekonomi yang kabarnya akan menimpa mereka. Padahal semua itu hanyalah bagian
dari kurikulum yang diajarkan di “sekolah-sekolah setan”.
“Setan
menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat
kejahatan (kikir), sedang ALLAH menjanjikan untukmu ampunan daripada-NYA dan
karunia” (QS. Al-Baqarah: 268)
Mereka
yang menangis sedih menatap masa depan adalah yang menyangka diri mereka akan
hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia
ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal, orang yang sadar bahwa usia hidupnya
berada di ‘genggaman yang lain’ tentu tidak akan menggadaikannya untuk sesuatu
yang tidak ada. Dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar
bila justru menyibukkan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak berwujud.
Biarkan
hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah menanyakan kabar
beritanya, dan janganlah pernah menanti serangan petakanya. Sebab hari ini anda
sudah sangat sibuk.
Jika
anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang berani menebus
kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit didalamnya dengan
bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah angan-angan yang
berlebihan.
Disadur
dari buku berjudul La-Tahzan karya Dr. ‘Aidh al-Qarni (#1 buku terlaris di
dunia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar