Selasa, 19 Februari 2013

ketika sulit, pasti ada jalan


Wahai manusia, setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan, setelah begadang ada tidur pulas, dan setelah sakit ada kesembuhan. Setiap yang hilang pasti ketemu, dalam kesesatan akan dating petunjuk, dalam kesulitan ada kemudahan, dan setiap kegelapan akan terang benderang.
“Mudah-mudahan ALLAH akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-NYA) atau keputusan dari sisi-NYA” (QS. Al-Ma’idah: 52)
Sampaikan kabar gembira kepada malam hari bahwa sang fajar pasti dating mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah. Kabarkan juga kepada ornag yang dilanda kesusahan, bahwa pertolongan akan dating secepat kelebatan cahaya dan kedipan mata. Kabarkan juga kepada orang yang ditindas bahwa kelembutan dan dekapan hangat akan segera tiba.
Saat anda melihat hamparan padang sahara yang seolah memanjang tanpa batas, ketahuilah bahwa dibalik kejauhan itu terdapat kebun yang rimbun penuh hijau dedaunan.
Ketika anda melihat seutas tali meregang kencang, ketahuilah bahwa, tali itu akan segera putus.
Setiap tangisan akan berujung dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa aman dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian.
Kobaran api tidak akan mampu mebakar tubuh nabi Ibrahim A.S. dan itu, karena pertolongan Ilahi membuka “jendela” seraya berkata
“Hai api menjaddi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS. Al-Anbiya: 69)
Lautan luas taj kuasa menenggelamkan Kalimur Rahman (nabi Musa A.S). Itu, tak lain karena suara agungkala itu telah bertitah,
“Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya, RABB-ku besertaku, kelak DIA akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 62)
Ketika bersembunyi dari kejaran kaum kafir dalam sebuah gua, Nabi Muhammad S.A.W yang ma’shum mengabarkan kepada Abu Bakar, bahwa ALLAH Yang Maha Tunggal dan MAha Tinggi ada bersama mereka. Sehingga rasa aman, tenteram dan tenang pun dating menyelimuti Abu Bakar.
Mereka yang terpaku pada waktu yang terbatas dan pada kondisi yang (mungkin) sangat kelam, umumnya hanya akan merasakan kesusahan, kesengsaraan dan keputusan dalam hidup mereka. Itu, karena mereka hanya menatap dinding-dinding kamar dan pintu-pintu rumah mereka. Padahal, mereka seharusnya menembuskan pandangan sampai ke belakang tabir dan berpikir lebih jauh tentang hal-hal yang berada di luar pagar rumahnya.
Maka dari itu, jangan pernah merasa terhimpit sejengakalpun, karena setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baiknya ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar. Betapapun, hari demi hari akan terus bergulir, tahun demi tahun akan terus berganti, malam demi malam pun datang silih berganti. Meski demikian, yang gaib akan tetap tersembunyi, dan Sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-NYA, dan ALLAH mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru stetelah itu semua. Tetapi sesungguhnya, setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemudahan.
Disadur dari buku berjudul La-Tahzan karya Dr. ‘Aidh al-Qarni (#1 buku terlaris di dunia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...