Tulisan hari ini dibuat karena ada kekesalan, ketidak tahuan serta rasa
ingin tahu tentang kehidupan dalam dunia. Dunia yang disebut pekerjaan,
Baru satu tahun beberapa hari saya merasakan apa
yang disebut bekerja di kantoran. Sebelumnya kegemaran saya adalah bekerja
berpindah tempat setidaknya ada 3 kegiatan dalam kegiatan saya. Sejauh ini
kegiatan meskipun mencakup tiga, tapi mungkin dua yang masih efektif. Kegiatan
mempunyai pekerjaan di ruang kantor, mengajar dan menjadi MC (EO) itu adalah
kegiatan efektif yang saya dambakan dan saya senang melaksanakannya.
Dahulu saya bekerja di sebuah Bimbel yang hampir 4
tahun membantu saya dalam hal menambah penghasilan ketika saya berkuliah. Dunia
Bimbel juga mengajarkan tentang bagaimana penerapan psikologi anak dalam
lingkup kelas kecil. Sangat berbeda dengan dunia sekolah. Kita diminta untuk
memiliki apresiasi lebih terhadap murid, karena mereka spesial setelah orang
tuanya percaya dan menentukan Bimbel kita untuk menitipkan anaknya. Kepercayaan
belajar tambahan di suatu bimbel menjadi guarantee
yang harus diberikan kepada orang tua murid. Terkejut ketika mengetahui
anaknya tidak maksimal di sekolah, maka bimbel lah yang harus bisa membantu
meningkatkan kapasitas belajar mereka sampai dapat meraih nilai maksimal. Nilai
bukan menjadi suatu acuan bimbel dengan target mumpuni. Terhindar dari nilai,
ada aspek usaha, doa serta tawakkal yang harus terus disisipkan kepada murid,
apabila dibayangkan di sekolah belum tentu seorang guru dapat intens memberikan
dorongan positif kepada anaknya satu per satu.
Bimbingan belajar merupakan pekerjaan yang tidak
mudah (red:guru) untuk bisa berjuang disini. Dunia ini unik. Karena ekslusif
namun tuntutan Premium, belum lagi terkait kondisi bimbel itu sendiri. Kita
harus sadar bahwa suatu perusahan pasti memiliki kelemahan dan kelebihan. Baik
yang dilihat atau yang tertutupi, bimbel tetaplah suatu organisasi pendidikan
provit yang mencari keuntungan untuk bisa memberikan hak kepada guru yang telah
mengajar di bimbel. Prioritas utama dalam hal mengajar, saya sadar bahwa
seorang guru sangat mencintai pekerjaannya sebagai guru. Guru tidak pandan
berapa gaji mereka, karena mereka sadar ade harga yang lebih mahal dibanding
besarnya gaji mereka, yakni ilmu mereka yang terus diamalkan menjadi kalkulasi
pahala yang indah.
Bimbel memberikan arti lebih tentang bagaimana
mengelola,mengarahkan dan memberikan saran terhadap seorang anak murid.
Penjagaan seorang guru mapel bimbel terhadap murid menjadi hal penting yang
menjanjikan untuk terus di kembangkan. Psikologi anak didik menjadikan seberapa
penting bimbel berpengaruh terhadap seorang murid. Saran atau masukkan terhadap
orang tua yang aranya timbal balik menjadi prasyarat dalam mendikte kondisi
psikologi anak didik. Tak heran ada kata “kenyamanan” yang dijadikan target
objektif dari pengelola bimbel untuk daya kembang anak didik.
Keberhasilan guru mendidik menjadi satu alasan
keberlangsungan hidup guru tersebut. Benar atau tidak realita nya memang
seperti itu. Beberapa pengelola dalam mengelola Bimbel yang mandiri tanpa aspek
pendukung seperti komisaris atau dukungan keuangan yang mumpuni bisa menjadikan
suatu bangunan itu runtuh tanpe bentuk. Harapan income yang masuk dari biaya anak saja belum dapat menjanjikan
suatu bangunan kokoh tanpa bentuk. Butuh kerja keras ekstra dalam membangun
suatu bangunan tanpa bentuk jika diibaratkan sebuah Bimbel. Pengalaman 8 tahun
atau jatuh duduk bukan menjadi satu kebesaran hati dalam menjual produk tapi
harus dijadikan sebagai acuan diamana alasan kenapa kita memulai untuk
berbisinis Bimbel. Biaya bangunan yang setiap tahunnya meningkat, serta asumsi
menaikkan harga yang kurang masuk akal karena harus bersaing dengan bimbel lain
yang memiliki kualitas lebih wahid bahkan pertimbangan harga bbm yang terus
naik semenjak pemerintah baru di tahun ini. Ini bukan saja dirasakan oleh saya
sebagai penikmat dunia bimbel. Tapi saya akui orang yang berani berjuang di
usaha ini harus memliki nilai kesabaran tak hingga serta kreatifitas tanpa
batas untuk bagaimana caranya mendapatkan murid sebanyak banyak nya agar
seluruh kebutuhan dalam pengembangan suatu usaha bisa maksimal.
Berlanjut......

