Kamis, 11 Juni 2015

Hal yang tidak disadari namun kerap terulang


                Ini adalah suatu kejadian nyata, dimana kejadian yang berulang dan baru saya sadari bahwa ini akan terus berulang. Seketika kita sering mengandalkan rencana dalam setiap hal yang akan kita lakukan. Rencana rencana yang diatur sesuai dengan ritme keinginan yang dianalisa dengan segala resiko yang akan terjadi. Pada mulanya selalu terbiasa seperti itu, kadang gagal bahkan jatuh bangun dalam menentukan keberhasilan rencana. Tapi tanpa kita sadari ada hal diluar rencana yang kerap datang dan lewat begitu saja tanpa memberi teguran kepada kita. Saya paham kisah yang cukup menarik ini.
                Setiap pemuda pasti pandai dalam merencanakan segala sesuatunya karena logika lebih berperan penting dalam mengatur kehidupan pemuda (laki-laki). Hari demi hari, bulan demi bulan terlewat begitu saja sesuai dengan rencana yang dia buat. Jelas mengartikan bahwa logika perencanaan yang cukup berhasil. Sadar bahwa dirinya merasa cukup mumpuni dalam mengelola sesuatu, ia lupa ada lubang kecil yang belum tertambal dalam perencanannya. Hal ini diikuti dengan beberapa persen hal yang dia rencanakan hilang tanpa data yang jelas. Data ini memberikan pengaruh yang agak besar dikarenakan terjadi secara berulang. Maka dari keadaan lubang kecil yang belum ditambal ini, pemuda ini mencoba merekap kembali dengan tenang apa yang menyebabkan lubang kecil ini tidak tertambal. Kembali membuka lembaran perencanaannya,pemuda ini akhirnya sadar ada pengeluaran beberapa persen untuk hal yang tidak masuk rencana. Lembar berikutnya dibuka dilihat dengan begitu tenang, ternyata memang benar ada hal yang luput di luar rencana. Menyadari hal itu pemuda ini langsung mencoba mencari perhitungan ulang dalam menentukan arah perencanannya kedepan. Secara sadar ini mengartikan bahwa logika berpikir yang matang belum diseimbangi dengan ketelitian realita. Akhirnya pemuda ini mencoba berusaha kembali menata rencananya dan menutup lubang itu.
Lubang itu adalah lubang kecil yang agak sulit ditambal. Lubang itu adalah uang yang keluar (dalam jumlah persentase) tidak terkontrol karena dianggar remeh namun terjadi di tiap bulannya. Lubang itu ada dikarenakan kesalahannya, bukan aspek biotik dan abiotik sekitar yang mempengaruhinya. Teori Termodinamika belum berlaku disini sehingga mampu menjelaskan lubang itu harus ditambal. Sehingga pemuda ini membuat satu teori kasar yang dia sebut sebagai Infaq atau sedekah. Infaq atau sedekah ini adalah glue dan rubber untuk menambal lubang ini. Infaq inilah yang tanpa pemuda ini sadari menjadi cikal bakal hal yang tak terduga (lubang tadi) selalu berulang di luar perencanannya. Maka barang tentu ini rejeki disekitar lubang itu, atau bisa jadi (pasti) Allah SWT punya cerita lain dalam menegur pemuda ini untuk senantiasa harus bersyukur akan apa yang ia punya. Jangan sampai kata “Istidraj” menempel pada dirinya, yakni Allah SWT berikan dia rizki yang melimpah padahal ia sering sekali melakukan maksiat.

Wallahu Alam,,
Only natural human


Ainan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...