Ini adalah suatu
kejadian nyata, dimana kejadian yang berulang dan baru saya sadari bahwa ini
akan terus berulang. Seketika kita sering mengandalkan rencana dalam setiap hal
yang akan kita lakukan. Rencana rencana yang diatur sesuai dengan ritme
keinginan yang dianalisa dengan segala resiko yang akan terjadi. Pada mulanya
selalu terbiasa seperti itu, kadang gagal bahkan jatuh bangun dalam menentukan
keberhasilan rencana. Tapi tanpa kita sadari ada hal diluar rencana yang kerap
datang dan lewat begitu saja tanpa memberi teguran kepada kita. Saya paham
kisah yang cukup menarik ini.
Setiap pemuda pasti
pandai dalam merencanakan segala sesuatunya karena logika lebih berperan
penting dalam mengatur kehidupan pemuda (laki-laki). Hari demi hari, bulan demi
bulan terlewat begitu saja sesuai dengan rencana yang dia buat. Jelas mengartikan
bahwa logika perencanaan yang cukup berhasil. Sadar bahwa dirinya merasa cukup
mumpuni dalam mengelola sesuatu, ia lupa ada lubang kecil yang belum tertambal
dalam perencanannya. Hal ini diikuti dengan beberapa persen hal yang dia
rencanakan hilang tanpa data yang jelas. Data ini memberikan pengaruh yang agak
besar dikarenakan terjadi secara berulang. Maka dari keadaan lubang kecil yang
belum ditambal ini, pemuda ini mencoba merekap kembali dengan tenang apa yang
menyebabkan lubang kecil ini tidak tertambal. Kembali membuka lembaran
perencanaannya,pemuda ini akhirnya sadar ada pengeluaran beberapa persen untuk
hal yang tidak masuk rencana. Lembar berikutnya dibuka dilihat dengan begitu
tenang, ternyata memang benar ada hal yang luput di luar rencana. Menyadari hal
itu pemuda ini langsung mencoba mencari perhitungan ulang dalam menentukan arah
perencanannya kedepan. Secara sadar ini mengartikan bahwa logika berpikir yang
matang belum diseimbangi dengan ketelitian realita. Akhirnya pemuda ini mencoba
berusaha kembali menata rencananya dan menutup lubang itu.
Lubang itu adalah lubang kecil yang agak sulit
ditambal. Lubang itu adalah uang yang keluar (dalam jumlah persentase) tidak
terkontrol karena dianggar remeh namun terjadi di tiap bulannya. Lubang itu ada
dikarenakan kesalahannya, bukan aspek biotik dan abiotik sekitar yang mempengaruhinya.
Teori Termodinamika belum berlaku disini sehingga mampu menjelaskan lubang itu
harus ditambal. Sehingga pemuda ini membuat satu teori kasar yang dia sebut
sebagai Infaq atau sedekah. Infaq atau sedekah ini adalah glue dan rubber untuk
menambal lubang ini. Infaq inilah yang tanpa pemuda ini sadari menjadi cikal
bakal hal yang tak terduga (lubang tadi) selalu berulang di luar perencanannya.
Maka barang tentu ini rejeki disekitar lubang itu, atau bisa jadi (pasti) Allah
SWT punya cerita lain dalam menegur pemuda ini untuk senantiasa harus bersyukur
akan apa yang ia punya. Jangan sampai kata “Istidraj”
menempel pada dirinya, yakni Allah SWT berikan dia rizki yang melimpah
padahal ia sering sekali melakukan maksiat.
Wallahu Alam,,
Only natural human
Ainan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar