Rabu, 10 Mei 2017

Beda bayar Parkir di Indomaret atau Alfamaret ,ngerasa gak?

Melelahkan memang, disaat kalian bayar parkir 2000 rupiah atau 1000 rupiah di area indomaret/alfamaret. Bedanya, kalo bayar nya cuma 1000 kalian hanya ditiupkan priwitan sekali sambil bapaknya menunggu dibelakang motor. Tapi begitu melihat anda akan memberikan 2000 rupiah bapak itu bergegas untuk membantu merapihkan mengeluarkan motor. Bukan masalah infaq atau bukan, toh infaq ada tempat lebih baik dan butuh. Mereka bisa hidup loh sekeluarga karena kerjaan mereka menjaga parkiran. Saya pun sempat diskusi dengan teman main saya waktu kecil yang setiap pagi menjaga parkiran di Indomaret. Ada kah kalian punya pengalaman yang sama dengan gw terkait kejadian ini. Dinamika yang terjadi di warung modern berupa alfamart indomaret dan kawan kawannya. Gw ga menyalahkan terbukti dengan beberapa warung warung kecil yang ada di sekitar tempat tinggal kita. Coba deh kalian bayangin satu minimarket modern memiliki tim perusahaan yang bekerja mati matian untuk mengelola sistem perbelanjaan yang ada. Bagaimana bayar petugas, pekerja, tim ti, ceo dll sehingga harga yang cukup agak sedikit timpang mempengaruhi pilihan konsumen tentang kemudahan serta kepraktisan dalam berbelanja. Mengingat hal ini penting, apasih sebenarnya warung itu jadi merugi atau jadi kurang? sebenarnya tidak, pola konsumen memilih bareng, refresh barang serta harga harga diskon yang menggiurkan membuat minimarket modern lebih transaksional untuk dipilih ketimbang warung. Harga barang barang yang di jual di warung tradisional lebih mengedepankan harga sesungguhnya, atau ranah jual untuk jajajanan anak kecil, kopi atau rokok. Ya sekedarnya, padahal bahan sembako menjadi penting sekali bagi para konsumen disekitarnya. Saya pernah mendengar cerita dari teman saya yang Om nya memiliki usaha toko warung kelontong yang bisa mendapatkan omzet bisa untuk berbelanja dan memutarkan barang dagangannya sebanyak 20 juta rupiah. Menarik betul, coba diingat berapa modal warung warung sederhana yang ingin menjual barangnya pastinya banyak.
Warung tradisional menjadi pekerjaan sampingan keluarga kecil yang istrinya bisa mendapatkan penghasilan sambil menjaga anak. Pola ini cukup diterapkan di beberapa wilayah perumahan perumahan baru dengan keluarga kecil yang baru menikah memiliki anak satu. Teringat juga omongan bibi saya asal Bandung, "Uang itu kayak jenggot, semakin dipotong semakin tumbuh". Melekat sih di otak gw, betul memang selama uang yang dibayar/digunakan di arah yang positif serta barokah. Jauh kedalam, saya ingat bacaan terakhir saya di salah satu koran, menyampaikan bahwa manusia hari ini sudah mulai mengalihkan asuransi kehidupan ke dalam zakat  infaq dan shodaqoh.
Mulai mengetahui kondisi  di parargraph 2, di paragraph 3 ini gw mencoba menggambarkan kondisi dimana apabila hukum ekonomi sudah menjadi rimba. mengingatkan kita akan pengeluaran membengkak difondasikan dengan gaya hidup ingin dilihat orang bukan karena manfaat. Coba deh pake pola hidup karena manfaat. Semua barang yang kita miliki itu ada bukan karena gaya tapi manfaat. Jelas memang pola marketing yang membuka pikiran dipermudah dengan mengiklan dimana saja. Hasrat ingin beli pun keluar untuk memenuhi nafsu jangka pendek untuk karena ingin memiliki.


Berlanjut nanti,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...