Melelahkan memang, disaat kalian bayar parkir 2000 rupiah
atau 1000 rupiah di area indomaret/alfamaret. Bedanya, kalo bayar nya cuma 1000 kalian hanya ditiupkan priwitan sekali sambil bapaknya menunggu dibelakang motor. Tapi begitu melihat anda akan memberikan 2000 rupiah bapak itu bergegas untuk membantu merapihkan mengeluarkan motor. Bukan masalah infaq atau bukan, toh infaq ada tempat lebih baik dan butuh. Mereka bisa hidup loh sekeluarga karena kerjaan mereka menjaga parkiran. Saya pun sempat diskusi dengan teman main saya waktu kecil yang setiap pagi menjaga parkiran di Indomaret. Ada kah kalian punya pengalaman
yang sama dengan gw terkait kejadian ini. Dinamika yang terjadi di warung
modern berupa alfamart indomaret dan kawan kawannya. Gw ga menyalahkan terbukti
dengan beberapa warung warung kecil yang ada di sekitar tempat tinggal kita.
Coba deh kalian bayangin satu minimarket modern memiliki tim perusahaan yang
bekerja mati matian untuk mengelola sistem perbelanjaan yang ada. Bagaimana
bayar petugas, pekerja, tim ti, ceo dll sehingga harga yang cukup agak sedikit
timpang mempengaruhi pilihan konsumen tentang kemudahan serta kepraktisan dalam
berbelanja. Mengingat hal ini penting, apasih sebenarnya warung itu jadi merugi
atau jadi kurang? sebenarnya tidak, pola konsumen memilih bareng, refresh
barang serta harga harga diskon yang menggiurkan membuat minimarket modern
lebih transaksional untuk dipilih ketimbang warung. Harga barang barang yang di
jual di warung tradisional lebih mengedepankan harga sesungguhnya, atau ranah
jual untuk jajajanan anak kecil, kopi atau rokok. Ya sekedarnya, padahal bahan
sembako menjadi penting sekali bagi para konsumen disekitarnya. Saya pernah
mendengar cerita dari teman saya yang Om nya memiliki usaha toko warung
kelontong yang bisa mendapatkan omzet bisa untuk berbelanja dan memutarkan
barang dagangannya sebanyak 20 juta rupiah. Menarik betul, coba diingat berapa
modal warung warung sederhana yang ingin menjual barangnya pastinya banyak.
Warung tradisional menjadi pekerjaan sampingan keluarga
kecil yang istrinya bisa mendapatkan penghasilan sambil menjaga anak. Pola ini
cukup diterapkan di beberapa wilayah perumahan perumahan baru dengan keluarga
kecil yang baru menikah memiliki anak satu. Teringat juga omongan bibi saya
asal Bandung, "Uang itu kayak jenggot, semakin dipotong semakin
tumbuh". Melekat sih di otak gw, betul memang selama uang yang
dibayar/digunakan di arah yang positif serta barokah. Jauh kedalam, saya ingat
bacaan terakhir saya di salah satu koran, menyampaikan bahwa manusia hari ini
sudah mulai mengalihkan asuransi kehidupan ke dalam zakat infaq dan shodaqoh.
Mulai mengetahui kondisi
di parargraph 2, di paragraph 3 ini gw mencoba menggambarkan kondisi
dimana apabila hukum ekonomi sudah menjadi rimba. mengingatkan kita akan
pengeluaran membengkak difondasikan dengan gaya hidup ingin dilihat orang bukan
karena manfaat. Coba deh pake pola hidup karena manfaat. Semua barang yang kita
miliki itu ada bukan karena gaya tapi manfaat. Jelas memang pola marketing yang
membuka pikiran dipermudah dengan mengiklan dimana saja. Hasrat ingin beli pun
keluar untuk memenuhi nafsu jangka pendek untuk karena ingin memiliki.
Berlanjut nanti,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar