Senin, 29 Mei 2017

Day 3



Alhamdulillah kita berlanjut di hari ke tiga.
Hari ini  diawali dengan Shubuh yang memberikan informasi terkait  bagaimana menjadi pemimpin yang dicontohkan didalam kehidupan sehari hari. Salah satu contohnya, untuk menjadi imam Mesjid ketika salat, sebaiknya diisi misalkan oleh para pemimpin RT,  para pemimpin RT atau RW harus muslim, karena bisa memimpin salat di Masjid. Harus ada pola bergantian, agar para rakyat (masyarakat) bisa mengenal pemimpin nya.

Berlanjut ke waktu dhuha, telat sih gw kekantor nya, karena hujan yang cukup mendinginkan suhu Jakarta kemarin. Unik sih dikala hujan, jalanan tetap macet dimana para pengendara terlihat menikmati tiap buih jatuhnya air hujan. Bukan lowong, tapi gw jadi inget Ustad Fikri (Putra Zainudin MZ) pernah bilang, ketika waktu macet adalah waktu terbaik untuk berdzikir. Sabar, menjadi satu ujian dalam menghadapi kemacetan.

Disiang hari, ada informasi selepas salat Dzuhur membahas tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Al Quran. Uniknya pembahasannya jadi mengerucut ke harta warisan. Kenapa harta warisan? karena hal ini menjadi suatu permasalahan yang dapat menimbulkan masalah baru. Rasulullah SAW menjelaskan perihal ini dengan cukup detail tidak langsung terburu buru. Timbul pertanyaan jika mengingat pembagian harta warisan untuk anak pria dan wanita. Jika mengikuti hukum di pengadilan tinggi peraturan syariah islam tentang warisan tidak berlaku, ini dikarenakan mereka memperjelas persamaan gender antara wanita dan pria. Warisan harus segera di urus apabila sudah ada ahli waris. 2/3 untuk pria dan 1/3 untuk wanita. Kenapa ya? karena seorang laki laki itu harus mengurusi serta menghidupi istri anak dan ibunya. Wanita harta warisannya untuk dirinya sendiri, tapi bisa digunakan juga untuk membantu suaminya apabila membutuhkan. Selain itu sekarang ramai sekali apabila ada suatu perceraian langsung segera menghubungi pengacara khusus perceraian. Padahal perceraian adalah suatu yang halal namun tidak disukai oleh Allah SWT. Dalam Al Quran sudah dibahas bagaimana cara menyelsaikan masalah apalagi masalah hubungan rumah tangga yang menuju ke arah perceraian. Ada kalanya harus diselesaikan secara musyawarah terlebih dahulu, jangan lansung menghubungi pengacara untuk melakukan sidan perceraian. Karena apabila perceraian terjadi yang menjadi korban adalah anak. Masa depan anak tergantung kedua orangtuanya karena mereka yang bertanggung jawab dunia akhirat.

Malam hari nya, ada hal sederhana mengenai silaturahim antar pemain Futsal. Walau berbeda agama tetap saja kita teman sepermainan. Mereka tetap menghargai temannya yang muslim berpuasa.

Pola syukur akan terbentuk sebagaimana arah pikiran membentuknya.
Jika kita merasa sulit itu dikarenakan kita berfikir untuk menjadi sulit.
Namun yang baik adalah suatu hal yang diniatkan, dilakukan serta di tawakkal kan berdasarkan core kebaikan dari dalam hati yang dilindungin logika mumpuni serta analisa yang tepat.

Selamat menjalankan puasa hari ke 4 buat kawan serta lawan !!!!
Follow
IG           :@ainanstagram

TW         :@KerakTeloer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...