Siklus Air, Molekul dan
Zoon Politicon
Banyak
sekali hal yang berkaitan satu sama lain, layaknya molekul yang satu dengan
molekul yang lainnya. Ibarat siklus air dalam konsep hidrologi yang tidak akan
terputus meskipun cahaya yang diberikan oleh sinar matahari berkurang. Sama halnya
seperti seorang Ayah yang rela menjemput bini dan anaknya selagi dia kerja,
berperikemanusiaan namun agak melanggar hak seorang Ayah jika tidak paham
hakikat antara pria dan wanita. Tulisan ini agak nakal namun cukup jelas menggambarkan realita yang terjadi
dialam kehidupan kita sehari hari. Diluar zona bebas terkukung akan kotak
sederhana yang bernama kesulitan. Seandainya
berbicara terhitung setiap katanya 1 rupiah, berapa banyak uang yang harus kita
bayarkan pada negara ini. Tapi terkadang setiap huruf, kata bahkan aksara lewat
begitu saja dengan mudahnya tanpa menghiraukan tanda baca perumpamaan keinginan
seroang manusia. Mungkin sulit dibedakan antara keinginan, ego serta rasa lewat
begitu saja. "Bicara" menjadi senjata termurah dalam menggambarkan sikap kesatria
seseorang dalam mengungkapkan sesuatu hal yang jelas. Penggambaran ini
merencanakan katak dalam tempurung, tapi kita dibuat seolah berpikir kenapa
harus katak yang ada di tempurung bukannya hewan lain yang memiliki hak yang sama. Sederhananya kita
sudah diafirmasi oleh bahasa sederhana yang mudah kita cerna sejak kita
kecil.
Lagi
lagi saya ulangi tulisan ini agak nakal. Di suatu ketika saya mencoba untuk
hadir bersama teman saya ke tempat seseorang yang ingin mendengar masukkan saya. Saya berfikir dua kali berkat kepercayaan besar yang diminta kepada
saya. Hibah sosial keuangan yang biasa
diharapkan untuk mengganti literan bensin yang mengalir sampai ke tempat tujuan
sirna begitu saja. Ini bicara aspek social dan membantu, karena saya agak
bingung ternyata memang benar kita bisa buat orang senang, kita pun akan senang
bukan oleh orang yang kita bantu tapi bisa siapa saja. Bahkan zoon politicon
tidak pernah menggambarkan dengan jelas apa makna sosial sesungguhnya dalam
keberagaman negara ini. Selanjutnya saya sampai ke rumahnya dan ternyata saya
diminta untuk memberi masukkan terkait dengan masa depan seorang anak SMA yang
sedang memilih kuliah yang terbaik. Hilir mudik kata per kata saya ceritakan,
bahkan hal pribadi yang saya umpamakan orang lain coba untuk disampaikan agar
tidak mengurangi rasa sombong akan diri ini agar tersadar saya bukan siapa siapa.
Namun kata kata perkata itu luluh ketika orangtua tersebut meminta untuk
memberikan masukkan untuk anaknya.
Hal
pertama yang saya lakukan adalah saya mendengar apa yang harus anak SMA ini
utarakan sampai selesai bahkan bisa saja dimuntahkan didepan saya asalkan
lega. Hal kedua saya akan mengikuti alur
bahasan ringan yang diinginkan oleh kedua orang tua nya. Unik memang yang satu
guru bahasa inggris dan yang satu adalah seorang kepala security di rumah ex
mentri zaman Soeharto yang juga sekarang berprofesi sebagai seorang pengacara. Hal
ketiga yang saya ucapkan adalah saya bersyukur kalian bisa berkumpul bukan
berbicara bagaimana biaya untuk kuliah tapi kuliah yang bagus dimana dan
strateginya untuk bisa ke luar negeri seperti apa.
Bersambung,,,
Ainan