Minggu, 11 Januari 2015

Kita Harus ‘mau’ Belajar Banyak dari Mereka (1)



       Dahulu saya pernah memberikan suatu tantangan kepada para calon pemimpin di suatu organisasi. Saya berikan beberapa kasus analisa yang harus dipecahkan. Saya meminta untuk setiap orang pergi ke suatu tempat di beberapa titik pada 5 koridor daerah yang ada di Jakarta. Salah satunya ada rumah sakit, tanah abang, parkiran, monas dll. Beberapa hal yang diminta adalah coba pikirkan ketika anda berada di sana apa yang anda pikirkan. Waktu yang tidak begitu lama untuk melakukan suatu analisa menjadi satu hambatan besar untuk berfikir apa yang harus dijelaskan. Setelah waktu habis akhirnya mereka bisa menceritakan apa yang mereka lihat ketika mereka berada di tempat tersebut dengan latar belakan kondisi yang cukup berbeda dan jauh dari kata nyaman.
          Setiap orang masing masing menceritakan banyak hal yang berbeda dengan ragam bahasa ala kadarnya. Namun tanpa tersadar bukan permasalahan apa yang harus diselesaikan, akan tetapi ini merupakan salah satu terapi untuk bisa memberikan gambaran pada mereka bahwa kondisi realitas berbeda dengan konsep, sehingga membangun rangsangan kekuatan analisa mereka terhadap suatu keadaan karena mereka berada disana, bukan diluar jauh dari sana. Ternyata apa yang dulu pernah saya lakukan kepada mereka ini memberikan gambaran besar hari ini ketika saya menulis tulisan ini.
          Apa ya? Kenapa? Kok Bisa?
          Beragam pertanyaan muncul dengan sengaja karena sedang berada dalam koridor orang lain. Ruang yang penuh pertanyaan namun pasti besar akan mendapatkan pembelajaran. Coba kalian perhatikan deh, semua orang yang dalam arti kerja mencari pekerjaan, bekerja, dan memberikan pekerjaan menjadi satu suratan yang begitu besar dan berarti dalam hidup ketika sudah berfikir dewasa sedang.
         Apa yang begitu besar, bayangkan deh banyak orang yang mencari pekerjaan setelah lulus kuliah, banyak orang yang mengumpulkan harta kekayaannya setelah mendapa pekerjaan demi menjalankan hidupnya. Indah namun tak sama semua. Kenapa? Karena gak semua yang kita inginkan bisa tercapai, sama seperti kita makan kerupuk yang selalu bunyi ketika masih baru, tapi melempem ketika sudah tidak baru lagi. Keinginan indah karena baru diinginkan, tapi sebenarnya setelah berfikir dengan pkiran dingin, ini adalah keinginan atau ego sekejap. Sehingga menjadikan semua harus dikejar tanpa berfikir apa itu yang dibutuhkan atau apa yang diinginkan.
          Kita harus mau belajar banyak dari mereka.  Saya ambil contoh adalah tukang Koran, tukang ojek, tukang sol sepatu, dll. Jika memperhatikan tukan Koran yang ada di lampu merah, coba deh kalian tanya abang jam berapa bangun tidur nya? Kok pagi begini sudah berdiri dengan tegak untuk berjualan Koran ketika lampu merah. Semua mobil dia tawari berharap ada mobil yang membukakan kaca mereka untuk membeli Koran itu. Cuaca pagi nan terik kadang panas atau hujan, mereka tetap berdiri tegak untuk menjual korannya. Saya pikir untuk mengejar mobil yang sudah jalan jauh dan memanggil abang tukang Koran itu, abang itu rela untuk berlari mengejar sang pelanggan tanpa melihat kiri kanan atau depan belakang apa ada kendaraan yang melintas atau tidak ini penuh resiko. Coba hitung deh berapa sih sebenarnya untung bersih yang  mereka dapatkan? Mungkin hanya bisa memenuhi untuk satu hari makan, akan tetapi kenapa mereka rela bangun pagi dengan segala resiko di jalanan pada saat mereka berjualan Koran tersebut?
Menurut kalian yang baca tulisan ini apa alasannya?
Insyaallah jika sudah menemukan jawabannya saya akan beri kelanjutan dari beberapa analisa bodoh saya terhadap suatu keadaan.

Terimakasih

Ainan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...