Dahulu saya pernah
memberikan suatu tantangan kepada para calon pemimpin di suatu organisasi. Saya
berikan beberapa kasus analisa yang harus dipecahkan. Saya meminta untuk setiap
orang pergi ke suatu tempat di beberapa titik pada 5 koridor daerah yang ada di
Jakarta. Salah satunya ada rumah sakit, tanah abang, parkiran, monas dll. Beberapa
hal yang diminta adalah coba pikirkan ketika anda berada di sana apa yang anda
pikirkan. Waktu yang tidak begitu lama untuk melakukan suatu analisa menjadi
satu hambatan besar untuk berfikir apa yang harus dijelaskan. Setelah waktu
habis akhirnya mereka bisa menceritakan apa yang mereka lihat ketika mereka
berada di tempat tersebut dengan latar belakan kondisi yang cukup berbeda dan
jauh dari kata nyaman.
Setiap orang
masing masing menceritakan banyak hal yang berbeda dengan ragam bahasa ala
kadarnya. Namun tanpa tersadar bukan permasalahan apa yang harus diselesaikan,
akan tetapi ini merupakan salah satu terapi untuk bisa memberikan gambaran pada
mereka bahwa kondisi realitas berbeda dengan konsep, sehingga membangun
rangsangan kekuatan analisa mereka terhadap suatu keadaan karena mereka berada disana, bukan diluar jauh dari sana. Ternyata apa yang dulu pernah saya
lakukan kepada mereka ini memberikan gambaran besar hari ini ketika saya
menulis tulisan ini.
Apa ya? Kenapa?
Kok Bisa?
Beragam
pertanyaan muncul dengan sengaja karena sedang berada dalam koridor orang lain.
Ruang yang penuh pertanyaan namun pasti besar akan mendapatkan pembelajaran. Coba
kalian perhatikan deh, semua orang yang dalam arti kerja mencari pekerjaan,
bekerja, dan memberikan pekerjaan menjadi satu suratan yang begitu besar dan
berarti dalam hidup ketika sudah berfikir dewasa sedang.
Apa yang begitu
besar, bayangkan deh banyak orang yang mencari pekerjaan setelah lulus kuliah,
banyak orang yang mengumpulkan harta kekayaannya setelah mendapa pekerjaan demi
menjalankan hidupnya. Indah namun tak sama semua. Kenapa? Karena gak semua yang
kita inginkan bisa tercapai, sama seperti kita makan kerupuk yang selalu bunyi
ketika masih baru, tapi melempem ketika sudah tidak baru lagi. Keinginan indah
karena baru diinginkan, tapi sebenarnya setelah berfikir dengan pkiran dingin,
ini adalah keinginan atau ego sekejap. Sehingga menjadikan semua harus dikejar
tanpa berfikir apa itu yang dibutuhkan atau apa yang diinginkan.
Kita harus mau
belajar banyak dari mereka. Saya ambil
contoh adalah tukang Koran, tukang ojek, tukang sol sepatu, dll. Jika
memperhatikan tukan Koran yang ada di lampu merah, coba deh kalian tanya abang
jam berapa bangun tidur nya? Kok pagi begini sudah berdiri dengan tegak untuk
berjualan Koran ketika lampu merah. Semua mobil dia tawari berharap ada mobil
yang membukakan kaca mereka untuk membeli Koran itu. Cuaca pagi nan terik
kadang panas atau hujan, mereka tetap berdiri tegak untuk menjual korannya.
Saya pikir untuk mengejar mobil yang sudah jalan jauh dan memanggil abang
tukang Koran itu, abang itu rela untuk berlari mengejar sang pelanggan tanpa
melihat kiri kanan atau depan belakang apa ada kendaraan yang melintas atau
tidak ini penuh resiko. Coba hitung deh berapa sih sebenarnya untung bersih
yang mereka dapatkan? Mungkin hanya bisa
memenuhi untuk satu hari makan, akan tetapi kenapa mereka rela bangun pagi
dengan segala resiko di jalanan pada saat mereka berjualan Koran tersebut?
Menurut kalian yang baca tulisan ini apa alasannya?
Insyaallah jika sudah menemukan jawabannya saya akan beri
kelanjutan dari beberapa analisa bodoh saya terhadap suatu keadaan.
Terimakasih
Ainan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar