Senin, 26 Januari 2015

Siklus Air, Molekul dan Zoon Politicon (1)


Siklus Air, Molekul dan Zoon Politicon
Banyak sekali hal yang berkaitan satu sama lain, layaknya molekul yang satu dengan molekul yang lainnya. Ibarat siklus air dalam konsep hidrologi yang tidak akan terputus meskipun cahaya yang diberikan oleh sinar matahari berkurang. Sama halnya seperti seorang Ayah yang rela menjemput bini dan anaknya selagi dia kerja, berperikemanusiaan namun agak melanggar hak seorang Ayah jika tidak paham hakikat antara pria dan wanita. Tulisan ini agak nakal namun cukup jelas menggambarkan realita yang terjadi dialam kehidupan kita sehari hari. Diluar zona bebas terkukung akan kotak sederhana yang bernama kesulitan. Seandainya berbicara terhitung setiap katanya 1 rupiah, berapa banyak uang yang harus kita bayarkan pada negara ini. Tapi terkadang setiap huruf, kata bahkan aksara lewat begitu saja dengan mudahnya tanpa menghiraukan tanda baca perumpamaan keinginan seroang manusia. Mungkin sulit dibedakan antara keinginan, ego serta rasa lewat begitu saja. "Bicara" menjadi senjata termurah dalam menggambarkan sikap kesatria seseorang dalam mengungkapkan sesuatu hal yang jelas. Penggambaran ini merencanakan katak dalam tempurung, tapi kita dibuat seolah berpikir kenapa harus katak yang ada di tempurung bukannya hewan lain yang memiliki hak yang sama. Sederhananya kita sudah diafirmasi oleh bahasa sederhana yang mudah kita cerna sejak kita kecil.
Lagi lagi saya ulangi tulisan ini agak nakal. Di suatu ketika saya mencoba untuk hadir bersama teman saya ke tempat seseorang yang ingin mendengar masukkan saya. Saya berfikir dua kali berkat kepercayaan besar yang diminta kepada saya.  Hibah sosial keuangan yang biasa diharapkan untuk mengganti literan bensin yang mengalir sampai ke tempat tujuan sirna begitu saja. Ini bicara aspek social dan membantu, karena saya agak bingung ternyata memang benar kita bisa buat orang senang, kita pun akan senang bukan oleh orang yang kita bantu tapi bisa siapa saja. Bahkan zoon politicon tidak pernah menggambarkan dengan jelas apa makna sosial sesungguhnya dalam keberagaman negara ini. Selanjutnya saya sampai ke rumahnya dan ternyata saya diminta untuk memberi masukkan terkait dengan masa depan seorang anak SMA yang sedang memilih kuliah yang terbaik. Hilir mudik kata per kata saya ceritakan, bahkan hal pribadi yang saya umpamakan orang lain coba untuk disampaikan agar tidak mengurangi rasa sombong akan diri ini agar tersadar saya bukan siapa siapa. Namun kata kata perkata itu luluh ketika orangtua tersebut meminta untuk memberikan masukkan untuk anaknya.
Hal pertama yang saya lakukan adalah saya mendengar apa yang harus anak SMA ini utarakan sampai selesai bahkan bisa saja dimuntahkan didepan saya asalkan lega.  Hal kedua saya akan mengikuti alur bahasan ringan yang diinginkan oleh kedua orang tua nya. Unik memang yang satu guru bahasa inggris dan yang satu adalah seorang kepala security di rumah ex mentri zaman Soeharto yang juga sekarang berprofesi sebagai seorang pengacara. Hal ketiga yang saya ucapkan adalah saya bersyukur kalian bisa berkumpul bukan berbicara bagaimana biaya untuk kuliah tapi kuliah yang bagus dimana dan strateginya untuk bisa ke luar negeri seperti apa.

Bersambung,,,








Ainan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...