TERIMAKASIH 2014
Alhamdulillah, kalimat yang patut diucapkan untuk tahun
yang menurut Masehi begitu penting menganggap tahun baru saat tanggal 1 Januari
tepat pukul 00.00 WIB. Dalam Islam tahun
baru Hijriyah lah yang sangat penting. Namun penulis mencoba untuk mengungkapkan
secara detail tentang pengalaman baik atau pengalaman buruk di tahun 2014.
Kerasnya mencari pekerjaan, pahitnya pengalaman dalam
berkawan serta dinamika kehidupan yang bercampur aduk ada di tahun ini. Jalan
yang tidak mudah serta beberapa usaha yang belum begitu keras dalam menerapkan
arti kehidupan social didalam diri ini belum terlaksana maksimal. Masih banyak
aspek aspek kehidupan yang belum tepat serta menyalahi aturan serta tidak
sedikit untuk akhirnya kehilangan teman sementara sampai selesai apa yang
diniatkan.
Gelombang keinginan yang begitu besar lengkap tak
sebanding dengan realitas keadaan yang menyapa hidup ini. Luntur namun deras
bagai air yang tersapu ombak, ketika keinginan tidak ada hentinya mempengaruhi
diri ini sehingga akhirnya menjadi partikel ego yang menyatu menjadi gelombang.
Seolah menggambarkan keinginan yang tak terbendung, dengan nada keras ditikam
ego besar untuk harus mendapatkannya. Jelas sudah inilah mengapa nabi Muhammad
SAW berkata Jangan Marah! Memperjelas makna yang cukup mendalam bahwa lawan
yang cukup sulit yakni melawan diri sendiri.
Evaluasi besar yang terus termaktub dalam arti untuk
perbaikan di 2015 menjadi dasar penulis mencoba untuk menuliskan, bukan untuk
diriakan atau ditiru tapi untuk diambil hikmahnya. Beberapa point mendasar
terkait diri ini untuk di evaluasi adalah rasa syukur. Satu kata berpengaruh
pada seluruh aspek kehidupan. Di 2014 kurang sekali ini mensyukuri nikmat yang
diberikan oleh ALLAH SWT.
Nikmat nikmat yang didapat bukan saja hanya nikmat yang
membahagiakan, namun juga nikmat yang mengecewakan. Keduanya bagaikan dua
lubang hidung yang saling melengkapi dalam menghirup dan mengeluarkan udara
pernafasan. Nikmat yang membahagiakan patut disyukuri karena banyak sekali hal
kecil atau pun besar lewat begitu saja tanpa kita sadari bahwa itu adalah
nikmat yang Allah berikan. Nikmat yang mengecewakan, maksudnya bukan tidak
bersukur tapi ada banyak kekecewaan yang kita dapati tanpa disadari itu adalah
kenikmatan yang tiada tara. Allah mengajarkan satu pembelajaran besar dari
menikmati rasa kecewa dengan mengambil hikmahnya.
Kecewa tidak ada yang bahagia, kecewa itu pahit, kecewa
itu satu hal yang gagal tidak memenuhi harapan. Kecewa bisa dibilang ujian
cukup ringan, akan tetapi manusia menanggapi terlalu serius sehingga lupa akan
kekuatan Nya. Tidak sadar bahwa ada kehendak Allah SWT yang bermain disini.
Jika mengutip kalimat dari buku Ahmad Rifai Rifan, beliau memberitahu pada
pembaca bukunya “Silahkan manusia menulis atau melukis sebanyak banyaknya
impian dan keinginan, biarkanlah Allah SWT yang menghapusnya karena hanya Allah
yang memiliki penghapusnya, sehingga tepat mana yang terbaik yang sudah
ditakdirkan oleh Allah SWT”.
Esok biarkan menjadi pertanyaan, namun berfikirlah esok
diri kita bagaimana, jangan bagaimana besok tanpa ada usaha, kegigihan dan
kepastian dalam kematangan rencana.
SEMANGAT KAWAN !!!
Ainan, 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar