Senin, 05 Januari 2015

TERIMAKASIH 2014

TERIMAKASIH 2014

            Alhamdulillah, kalimat yang patut diucapkan untuk tahun yang menurut Masehi begitu penting menganggap tahun baru saat tanggal 1 Januari tepat pukul 00.00 WIB.  Dalam Islam tahun baru Hijriyah lah yang sangat penting. Namun penulis mencoba untuk mengungkapkan secara detail tentang pengalaman baik atau pengalaman buruk di tahun 2014.
            Kerasnya mencari pekerjaan, pahitnya pengalaman dalam berkawan serta dinamika kehidupan yang bercampur aduk ada di tahun ini. Jalan yang tidak mudah serta beberapa usaha yang belum begitu keras dalam menerapkan arti kehidupan social didalam diri ini belum terlaksana maksimal. Masih banyak aspek aspek kehidupan yang belum tepat serta menyalahi aturan serta tidak sedikit untuk akhirnya kehilangan teman sementara sampai selesai apa yang diniatkan.
            Gelombang keinginan yang begitu besar lengkap tak sebanding dengan realitas keadaan yang menyapa hidup ini. Luntur namun deras bagai air yang tersapu ombak, ketika keinginan tidak ada hentinya mempengaruhi diri ini sehingga akhirnya menjadi partikel ego yang menyatu menjadi gelombang. Seolah menggambarkan keinginan yang tak terbendung, dengan nada keras ditikam ego besar untuk harus mendapatkannya. Jelas sudah inilah mengapa nabi Muhammad SAW berkata Jangan Marah! Memperjelas makna yang cukup mendalam bahwa lawan yang cukup sulit yakni melawan diri sendiri.
            Evaluasi besar yang terus termaktub dalam arti untuk perbaikan di 2015 menjadi dasar penulis mencoba untuk menuliskan, bukan untuk diriakan atau ditiru tapi untuk diambil hikmahnya. Beberapa point mendasar terkait diri ini untuk di evaluasi adalah rasa syukur. Satu kata berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan. Di 2014 kurang sekali ini mensyukuri nikmat yang diberikan oleh ALLAH SWT.
            Nikmat nikmat yang didapat bukan saja hanya nikmat yang membahagiakan, namun juga nikmat yang mengecewakan. Keduanya bagaikan dua lubang hidung yang saling melengkapi dalam menghirup dan mengeluarkan udara pernafasan. Nikmat yang membahagiakan patut disyukuri karena banyak sekali hal kecil atau pun besar lewat begitu saja tanpa kita sadari bahwa itu adalah nikmat yang Allah berikan. Nikmat yang mengecewakan, maksudnya bukan tidak bersukur tapi ada banyak kekecewaan yang kita dapati tanpa disadari itu adalah kenikmatan yang tiada tara. Allah mengajarkan satu pembelajaran besar dari menikmati rasa kecewa dengan mengambil hikmahnya.
            Kecewa tidak ada yang bahagia, kecewa itu pahit, kecewa itu satu hal yang gagal tidak memenuhi harapan. Kecewa bisa dibilang ujian cukup ringan, akan tetapi manusia menanggapi terlalu serius sehingga lupa akan kekuatan Nya. Tidak sadar bahwa ada kehendak Allah SWT yang bermain disini. Jika mengutip kalimat dari buku Ahmad Rifai Rifan, beliau memberitahu pada pembaca bukunya “Silahkan manusia menulis atau melukis sebanyak banyaknya impian dan keinginan, biarkanlah Allah SWT yang menghapusnya karena hanya Allah yang memiliki penghapusnya, sehingga tepat mana yang terbaik yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT”.
            Esok biarkan menjadi pertanyaan, namun berfikirlah esok diri kita bagaimana, jangan bagaimana besok tanpa ada usaha, kegigihan dan kepastian dalam kematangan rencana.


SEMANGAT KAWAN !!!

Ainan, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...