Rabu, 07 September 2016

Agregasi Trombosit (Biomedika)

1.       Agregasi Trombosit
Frekuensi kematian akibat penyumbatan pembuluh darah di otak dan jantung meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu faktor terpenting yang berperan dalam proses penyumbatan tersebut adalah tromboss. Banyak peneliti melaporkan bahwa penyumbatan pembuluh darah otak dan jantung sering terjadi akibat hiperaktifitas dari fungsi trombosit. Hiperaktifitas dari fungsi trombosit tersebut mengakibatkan peningkatan kemampuan trombosit untuk menggumpal dan akan menimbulkan trombosis yang menyumat pembuluh darah. Salah satu cara untuk menilai fungsi trombosit tersebut adalah dengan memeriksa agregasi trombosit.
                Peran trombosit didalam tubuh adalah membentuk sumbat bila terjadi luka sehingga pendarahan terhenti. Sumbat trombosit terbentuk melalui 3 proses yaitu adhesi, aktivasi trombosit dan agregasi.
                Perlekatan trombosit dengan pebuluh darah sebagai proses adhesi. Setelah itu terjadi aktivasi trombosit yang menimbulkan perubahan bentuk trombosit, sehingga trombosit melepaskan granula α dan dense granules seperti ADP endogen, serotoni, katekolamin serta ekspresi resepetor GPIIb-IIIa yang menumbulkan agregasi trombosit. Pada tahap terakhir terjadi proses pembentukan sumbat trombosit yang melibatkan fibrinogen dan faktor von Wilebrand.
                Pemeriksaan agregasi trombosit bertujuan mendeteksi gangguan fungsi trombosit yang dapat dilakukan dengan berbagai macam cara antara lain dengan menggunakan analyzer yang berdasarkan perubahan transmisi cahaya. Pada analyzer tersebut digunakan plasma yang mengandung banyak trombosit atau dikenal dengan Platelet Rich Plasma (PRP) yang dicampur dengan agregator berupa ADP pada berbagai konsentrasi.
                Penilaian hasil dilakukan dengan bentuk kurva agregasi trombosit. Pada penggunaan ADP sebagai agregator dengan kada ADP rendah akan timbul agregasi, kemudian diikuti dengan proses deagregasi. Bila kadar ADO ditingkatkan akan dihasilkan agregasi bersifat irreversible dengan bentuk kurva yang bifasik . hal ini terjadi karena proses agregasi primer yang disebabkan oleh ADP eksogen diikuti oleh agregasi sekunder yang dilepaskan oleh ADP endogen dari trombosit. Sedangkan pada kadar ADP yang lebih tinggi lagi akan diperoleh kurva yang monofasik  berupa gelombang primer dan menjadi satu.
                Di laboratorium Klinik Utama Bio Medika, agregasi trombosit diperiksa dengan menggunakan agregometer dari Chrono-Log dan PACK-4 Helena dengan aggregator ADP 1,2,5 dan 10 µmol (ADP eksogen). Hasil pemeriksaan agregasi dapat meningkat pada beberapa keadaan seperti :
-          Uremia
-          Diabetes melitus
-          Hiperlipopreteinemia
-          Pengguna kontrasepsi hormonal
-          Perokok
Agregasi trombosit dapat terhambat oleh pengaruh obat, seperti :
-          Aspirin
-          Sulphinpyrazone
-          Diprydamol
-          Clopidogrel
-          Glikoprotein blockage seperti abciximab
-          Pasca penggunaan dextran

Pada pasien dengan dugaan peningkatan akticasi trombosit dan diuji dengna agregasi trombosit akan didapatkan hasil agregasi trombosit meningkat. Untuk mengatasi keadaan tersebut pasien menggunakan obat yang meghambat agregasi trombosit sperti yang telah disebutkan diatas, sehingga agregasi trombosit menjadi normal atau rendah, yang diketahui setelah melakukan pemeriksaan agregasi trombosit menjadi normal atau rendah, yang diketahui setelah melakukan pemeriksaan agregasi ulang pasca pengobatan. Oleh karena itu pada penggunaan obat anti agregasi dianjurkan melakukan pemerikasaan agregasi trombosit pra dan pasca pengobatan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...