1.
Agregasi Trombosit
Frekuensi kematian akibat penyumbatan pembuluh
darah di otak dan jantung meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu faktor
terpenting yang berperan dalam proses penyumbatan tersebut adalah tromboss.
Banyak peneliti melaporkan bahwa penyumbatan pembuluh darah otak dan jantung
sering terjadi akibat hiperaktifitas dari fungsi trombosit. Hiperaktifitas dari
fungsi trombosit tersebut mengakibatkan peningkatan kemampuan trombosit untuk
menggumpal dan akan menimbulkan trombosis yang menyumat pembuluh darah. Salah
satu cara untuk menilai fungsi trombosit tersebut adalah dengan memeriksa
agregasi trombosit.
Peran
trombosit didalam tubuh adalah membentuk sumbat bila terjadi luka sehingga
pendarahan terhenti. Sumbat trombosit terbentuk melalui 3 proses yaitu adhesi,
aktivasi trombosit dan agregasi.
Perlekatan
trombosit dengan pebuluh darah sebagai proses adhesi. Setelah itu terjadi
aktivasi trombosit yang menimbulkan perubahan bentuk trombosit, sehingga
trombosit melepaskan granula α dan dense granules
seperti ADP endogen, serotoni,
katekolamin serta ekspresi resepetor GPIIb-IIIa yang menumbulkan agregasi
trombosit. Pada tahap terakhir terjadi proses pembentukan sumbat trombosit yang
melibatkan fibrinogen dan faktor von Wilebrand.
Pemeriksaan
agregasi trombosit bertujuan mendeteksi gangguan fungsi trombosit yang dapat
dilakukan dengan berbagai macam cara antara lain dengan menggunakan analyzer
yang berdasarkan perubahan transmisi cahaya. Pada analyzer tersebut digunakan
plasma yang mengandung banyak trombosit atau dikenal dengan Platelet Rich Plasma (PRP) yang dicampur
dengan agregator berupa ADP pada berbagai konsentrasi.
Penilaian
hasil dilakukan dengan bentuk kurva agregasi trombosit. Pada penggunaan ADP
sebagai agregator dengan kada ADP rendah akan timbul agregasi, kemudian diikuti
dengan proses deagregasi. Bila kadar
ADO ditingkatkan akan dihasilkan agregasi bersifat irreversible dengan bentuk
kurva yang bifasik . hal ini terjadi
karena proses agregasi primer yang disebabkan oleh ADP eksogen diikuti oleh
agregasi sekunder yang dilepaskan oleh ADP endogen dari trombosit. Sedangkan
pada kadar ADP yang lebih tinggi lagi akan diperoleh kurva yang monofasik berupa gelombang primer dan menjadi satu.
Di
laboratorium Klinik Utama Bio Medika, agregasi trombosit diperiksa dengan
menggunakan agregometer dari Chrono-Log dan PACK-4 Helena dengan aggregator ADP
1,2,5 dan 10 µmol (ADP eksogen).
Hasil pemeriksaan agregasi dapat meningkat pada beberapa keadaan seperti :
-
Uremia
-
Diabetes melitus
-
Hiperlipopreteinemia
-
Pengguna kontrasepsi hormonal
-
Perokok
Agregasi trombosit dapat terhambat oleh
pengaruh obat, seperti :
-
Aspirin
-
Sulphinpyrazone
-
Diprydamol
-
Clopidogrel
-
Glikoprotein blockage seperti
abciximab
-
Pasca penggunaan dextran
Pada pasien dengan
dugaan peningkatan akticasi trombosit dan diuji dengna agregasi trombosit akan
didapatkan hasil agregasi trombosit meningkat. Untuk mengatasi keadaan tersebut
pasien menggunakan obat yang meghambat agregasi trombosit sperti yang telah
disebutkan diatas, sehingga agregasi trombosit menjadi normal atau rendah, yang
diketahui setelah melakukan pemeriksaan agregasi trombosit menjadi normal atau
rendah, yang diketahui setelah melakukan pemeriksaan agregasi ulang pasca
pengobatan. Oleh karena itu pada penggunaan obat anti agregasi dianjurkan
melakukan pemerikasaan agregasi trombosit pra dan pasca pengobatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar