Senin, 12 April 2021

Day 1 (Tentang Keraguan)

     Malam itu, hujan cukup deras diringi posisi menunggu pengumuman dari KEMENAG tentang apakah 1 Ramadhan jatuh malam ini. Sampai adzan Isya terdengar hujan pun tak kunjung reda, mengingat waktu untuk segera melakukan salat setelah adzan. Awal tadi sebelum magrib, sudah mulai mempertimbangkan apakah ke Masjid untuk tarawih atau tidak. Kebimbangan ini bukan tanpa alasan, karena posisi orang orang dirumah sedang dalam kondisi tidak salat. Biasanya apabila ada jamaah nya dirumah kita pasti bisa melaksanakan salat tarawih berjamaah bersama keluarga. 

    Bumbu bumbu dalam merekatkan kekeluargaan dalam lingkup beribadah bisa diikuti dengan melaksanakan shalat berjamaah dirumah. Tahun lalu ini kejadian, kita berusaha untuk tidak bolong 1 hari pun taraweh walau dirumah. 2020 dilarang untuk melaksanakan salat berjamaah di Masjid.

    2021 pemerintah telah memberikan izin untuk bisa melaksanakan kegiatan salat tarawih berjamah di masjid. Tadi shubuh pun Khotib menjelaskan mengenai diperbolehkan nya salat berjamaah tarawih di mesjid namun tanpa khotbah atau kultum. Khotib shubuh tadi pun agak berbeda beliau ingin memanfaatkan momen 5 menit untuk bisa menyampaikan serta mengingatkan sesama tentang point penting puasa di bulan Ramadhan. Namun tidak bersifat memaksa, khotib juga menyampaikan apabila ada yang takut untuk berlama lama di mesjid juga dipersilahkan untuk pulang. Beberapa jamaah ada yag menahan pulang nya sebentar sambil mendengarkan kultum ada juga yang bergegas pulang kembali ke rumah. 

    Kembali melanjutkan paragraf 2 di atas, hujan yang cukup deras menimbulkan KERAGUAN. Baiknya saya salat tarawih sendiri dirumah, atau hujan hujanan untuk bisa salat tarawih berjamaah di mesjid. Seperti ada pertarungan hati, antara menutup menggembok pintu depan dengan mencari kunci motor untuk bisa menerobos hujan berangkat ke mesjid. Kita memiliki prinsip mengenai keraguan yang alangkah baiknya ketika memiliki keraguan untuk tidak bisa melakukan sesuatu lebih baik ditinggalkan. Jadi dilanjutkan maju atau tidak, lebih baik tidak.

    Namun momen malam itu keraguan yang hadir seperti berlawanan dengan konsep pemahaman selama ini. Dari kita kecil biasanya hari pertama sebelum pendemi orang salat tarawih di mesjid bisa sampai keluar luar area masjid. Sebenarnya apa yang dikejar? Kenikmatan berjamaah tarawih di mesjid. Memang tidak semua merasakan, marilah coba untuk bisa meresapi sebenarnya ngapain kita ke mesjid untuk salat sunnah toh dirumah juga bisa. Ada kenikmatan, kenikmatan itu biasanya tidak semua orang bisa menikmatinya tergantung bagaimana fenomena nikmat itu bisa dirasakan diri sendiri. Kenikmatan berjamaah di mesjid tidak bisa dipaksakan agar orang lain bisa merasakan. Jelas, kecenderungan untuk bisa menikmati kenikmatan salat tarawih berjamaah di mesjid bisa dirasakan semua orang. 

    Keraguan muncul dari dalam diri sendiri, bukan dari orang lain. Orang lain biasanya muncul memberikan afirmasi, pendapat bahkan kritikan. Tinggal bagaimana kita bisa memilih satu pilihan dalam keraguan tersebut. Maka, cobalah untuk memilih suatu hal baik diatara beberapa hal baik yang banyak terlihat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...