Selasa, 04 April 2017

Antara Kebutuhan, Teknologi, dan Kemacetan

Baik,
di pagi hari ini saya ingin mencoba untuk mengemukakan pendapat serta kritis saya terkait dengan kehidupan pagi di pusat kota Jakarta.

Kejadian ini membuat saya berfikir sederhana ketika dahulu saya SMA diajarkan tentang Bioteknologi. Bioteknologi yakni ilmu biologi yang dapat diterapkan untuk pengembangan teknologi terkini dari suatu sumber di proses kemudian mendapatkan hasil. Penerapannya dapat dikerjakan secara 2 cara yakni secara konvensional atau modern. Menariknya konsep bioteknologi dimana ada input-proses-output menjadi satu gagasan tersendiri ketika saya harus mencerna kejadian yang terjadi di Jakarta.
Kemudahan dalam proses dijadikan salah satu acuan kuat dalam penerapan teknologi masa kini. Bahkan, orang-orang merasa sangat dipermudah dengan adanya perkembangan teknologi masa kini. Proses yang dilakukan para investor untuk memasok dana pendukung agar suatu perusahaan teknologi ini besar yakni dengan memperbanyak promo serta bekerjasama dengan beberapa artis agar mau menggunakan fasilitas ini. Ada yang membuat mudah, dengan tarif diskon nya atau dengan menggunakan cara berbayar elektornik supaya bisa lebih murah. Semakin hari semua dipermudah dengan adanya perkembangan teknologi. Indonesia bukan negara munafik yang hanya diam, tapi Indonesia setia dalam mengikuti perkembangan teknologi di dunia. Tidak mudah menjadi Indonesia, saya tidak memperolok negara saya tercinta, namun pola komsumtif rakyat di negara ini amatlah besar. Apalagi adanya fasilitas kredit atau cicilan 0% yang membuat para konsumen semangat dalam membeli suatu barang atau produk (termasuk saya karena saya Indonesia). Pola seperti inilah yang kerap membuat rakyat semakin menderita. Jepang sebagai salah satu negara pembuat mobil atau motor, mereka benar benar memanfaatkan transportasi massal. Mobil atau motor disana menjadi barang yang amat mewah karena memiliki nilai pajak yang cukup tinggi. Beda dengan Indonesia dimana 1 keluarga bisa memiliki banyak kendaraan, maka POLRI lewat Samsat menetapkan kenaikan pajak kendaraan bermotor. Cukup cerdas mengingat beberapa aplikasi motor atau mobil online banyak yang mengambil motor baru /mobil baru dengan program cicilan. Bayangkan apabila cicilan mobil tiap bulan nya mencapai 4 juta rupiah, berapa uang yang harus dibawa setiap harinya agar cicilan tiap bulannya tertutup, belum lagi bensin atau pt cash dibawa pulang kerumah untuk anak istri. Padahal secara sadar ini telah di sandera dengan suatu syarat 5 tahun dari tahun sekarang, yang berarti para driver mobil online ini hanya memiliki waktu selama 5 tahun (mobil dari baru) untuk bisa melunasi kendaraannya dan mencari penghasilan lebih. Cukup adilkah?
Tetapan pemerintah dalam hal regulasi tarif taksi online ini juga sedang menjadi polemik, mereka berfikir cukup keras membuat satu sama lainnya saling terikat tanpa dibatasi. Istilah kampungnya sama sama untung aja. Saya cukup kaget ketika Mantan kapolri bapak Badrodin Haiti nyaris menjadi komisaris di salah satu perusahan taksi online.

Motor pun sama layaknya, semakin banyak warna hijau yang menangkring dijalan. Saya lebih senang menyebutnya sebagi ONEPANG (Ojek Online Pangkalan) mereka juga mangkal, bahkan mangkal nya sesuka mereka. Saya tidak mengerti baru baru ini di twitter saya melihat Polisi sedang memberikan penyuluhan kepada para driver ojek online. Kenapa tidak di awal, atau apakah polisi baru melihat makin menjamurnya ojek online, sehingga ini dilakukan. Belum lagi beberapa driver menggunakan teknik mumpuni untuk melawan arus atau bahkan menerobos lampu merah dengan gagahnya.

Saya belum membahas bagaimana padatnya, saya masih bicara secara manusiawinya. Orang disini bahkan saya juga sangat tertarik untuk ikut dalam pekerjaan ini, kita bisa mendapatkan uang lebih dari pekerjaan tetap kita. Namun diikat dari aturan yang dibuat regulasi dari pemerintah, belum jelas bahkan belum menentukan nafas panjang kedepannya. Jika ditelusuri secara hemat daya, ada pihak pihak yang diuntungkan bahkan ada yang dirugikan. Para ojek online pun kenapa mereka berani, karena semakin banyak bagai buih di lautan, mereka layaknya komunitas besar saat waktu yang tepat akan meledak meminta hak mereka. Bahkan blue bird, saat ini melakukan manuver untuk menjual oli dengan namanya sendiri bekerja sama dengan perusahaan minyak malaysia. Di claim cocok untuk mobil taksi dll. Menterjemahkan keinginan blue bird cukup ringkas untuk kembali menjual mobil yang sudah dipakai dengan KM yang tinggi namun dengan harga yang miring. Entah sampai kapan blue bird bisa bersaing dengan beberapa perusahaan. Tapi gedung baru Blue Bird sudah jadi entah bagaimana kedepannya.

Kembali ke perorangan, mereka yang ada diluar Jakarta datang ke jakarta hanya untuk menjadi driver online. Driver online juga tidak banyak yang hafal jalan, ketika ditanya saya baru 1 bulan di Jakarta. Kurang padat apalagi kota Jakarta ini ?

MRT dan LRT akan dibangun dibeberapa area sesuai dengan pak Gubernur sebelumnya, bukan yang saat ini. Lebak bulus ke pondok indah terlihat membentan jalur MRT/LRT yang cukup tinggi. Kurun waktu hampir 6 atau 7 tahun Jakarta akan terus macet. Pohon menjadi salah satu organisme biotik yang menjadi korban dalam pembangunan ini. Saya agak kecewa ketika RTH tidak dibangun selayaknya. Pada kemana kah orang orang BPLHD? apa sibuk dengan tugas ringannya, atau terbentur oleh aturan pemda yang fokus betul ke Kalijodo atau daerah daerah yang bisa dijual ke media dan membuat pencitraan besar atas kerja kerasnya. Padahal skenario itu gundah gulana, hampa karena tidak didasari rasa ikhlas dalam membangun bangsanya.

Padat atau tidak nya Jakarta menurut hemat saya di jam jam tertentu ketika anak anak bersekolah. Kenapa? Karena anak-anak bersekolah dari SD SMP dan SMA itu dianter jemput oleh supir. Satu orang murid 1 supir 1 mobil, coba deh hitung. Kalkulasinya cuma bisa disamakan sama para anak anak sekolah yang bersekolah diantar jemput motor (saya pun mengalaminya). Karena ketika anak anak masih pada libur sekolah sedangkan para pekerja masuk kantor, kemacetan tidak terlalu parah ini faktanya. Subjektivitas penulis cuma dari pandangan semata tanpa diperkuat data data setiap hari atau bahkan fase perubahan waktu nya. Disini hanya pendapat yang bisa dikemukakan, mengingat ada undang undang ITE yang cukup membatasi ruang mengeluarkan pendapat dan berfikir kritis.

Cuma itu saja, tolong pikirkan semakin banyak ojek online, taksi online apakah menjadi solusi dalam hingar bingar kemacetan Jakarta atau sebaliknya?
Para pelaku disini perlu berpikir cerdas apakah LRT /MRT betul betul akan menyelesaikan permasalahan ini?
Para orang yang mengambil rumah dengan proses KPR pun beberapa tahun kedepan akan berfikir lagi bagaimana bisa mengambil rumah sedangkan jarak diJakarta saja cukup padat dan sulit bergerak.
KRL sebagai solusi selama ini dengan dibukanya jalur jalur baru, bukan mempersepi tapi memperpadat para pengguna KRL.

Apa yang salah ? siapa yang salah? mengapa salah? Kenapa bisa salah? Dimana letak salahnya?

BAGAIMANA MENYELESAIKAN PERMASALAHANNYA?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...