Selasa, 18 April 2017
Uniknya Jakarta ku
Banyak perbedaan, namun mengharuskan persatuan tanpa paksaan.
Banyak menginginkan kebebasan berteriak dalam lingkup bungkus kebhinekaan,
Banyak memberikan pernyataan bebas di sosial media tanpa data fakta pendukung, padahal seolah olah berita itu dibuat mereka sendiri agar terlihat kesalahan massive dibuat.
Banyak pengguna sosial media lebih percaya sama 1 3 patah kata yang di tweet hingga menjadi trending topik #, padahal media cetak jelas memberitakan sesuai dengan adanya bahkan lengkap tidak hanya 1 atau 3 kalimat. Tapi kita malas untuk membaca karena lebih dimudahkan oleh teknologi yang sebenarnya mempersempir arus informasi kita.
Banyak segelintiran orang berfikir takut nanti akan terkotak kotakan oleh kelompok-kelompok tertentu, padahal jika di telisik agak dalam segelintiran orang yang takut itu tidak pernah berfikir siapa yang memicu api kericuhan.
Banyak perbedaan keyakinan namun tetap bersatu padu, tapi ini perbedaan pilihan dalam pilkada bisa menjadi efek domino internasional.
Banyak berfikir lebih teori sebab akibat didalam diri para calon, padahal tidak ada yang sempurna semua pasti ada kurang atau lebihnya.
Banyak pula rakyat diberitahu oleh hoax yang entah dibuat siapa, sehingga ada istilah lapis bawah yang bergemuruh,lapis atas aman tentram, nah ini harusnya di pikirkan kenapa bisa begitu.
Bicara ini semua tidaklah selesai, tapi inti dari persoalan yang saya tulis diatas adalah bangsa Indonesia (Rakyat Indonesia asli ) harus berdiri tegak di atas tanah sendiri tanpa harus menyerah oleh pihak asing yang ingin mengambil negara ini dari yang punya.
Ada kekhusyuan dalam doa melapis bingkai perkara kebaikan, ada pula ketidakramaian pendapat demi mencoba memberikan satu asa harapan untuk rakyat kecil kebanyakan.
Bukan kaum millenial yang perlu ditingkatkan (karena hanya berfikir bagaimana mengelola gaji punya rumah dan hidup dengan investasi di masa depan).
Bukan pula kaum atas yang sudah berfikir hidup hari ini bukan untuk makan semata, tapi untuk seluruh keinginan bukan kebutuhan orang tersebut dalam hidupnya.
Tapi kaum rakyat kecil yang benar benar butuh di berikan sentuhan magis kebaikan sehingga,
Jakarta bisa maju semuanya tanpa adanya beban.
Pompa-pompa ikhtiar itu bisa diawali dengan pendidikan secara menyeluruh, benar benar disentu bukan hanya menyuruh pihak pihak yang memang pekerjaanya karena saya yakin hasilnya akan berbeda. Pompa selanjutnya mengenai hidup layak, sejahtera sehingga dibangun derajatnya untuk menjadi manusia berkualitas dan mumpuni. Saya pribadi tidak terlalu ingin Jakarta menjadi sehebat Singapura, percuma apabila jadi Singapura tapi kualitas rakyat kecilnya tetap menderita sehingga nanti hanya kaum millenial dan menengah atas yang mumpuni untuk sanggup ke level tersebut. Jakarta saat ini, lebih kepada betul betul pembentukan akar disiram kembali sehingga jaringan meristematisnya bisa terus berfungsi mengebor tanah. Apabila itu terlaksana Jakarta akan kuat, kuat bukan karena para pendatang dari luar Jakarta tapi dari dalam Jakarta itu sendiri yaitu rakyat Indonesia asli.
Saya bukan politisi, tapi saya hanya mengkritisi Jakarta yang saya cintai jangan rusak hanya karena 1 orang. Korupsi bebas bisa dibuat oleh media, tapi bicara Akhlak media tidak bisa membohongi rakyat. Rakyat yang mana? rakyat yang tidak dibeli oleh uang dan sembako, tapi rakyat yang Indonesia. Seandainya kita tahu, bahwa kita belum sepenuhnya merdeka.
Mari Ikhtiar, doa dan tawakkal untuk esok hari tanggal 19 April 2017.
Allah SWT yang akan menentukan siapa yang berhak memimpin ibukota ini dengan seutuhnya.
Apabila tidak dimenangkan oleh muslim, pasti ada hikmah dibalik ini, maka rakyat harus terus berusaha dan tidak pesimis untuk terus berdoa dan tawakkal. Ketika sebaliknya bisa menang, rakyat tidak boleh larut bangga, namun harus tetap memberikan amanah penuh dengan fungsi kontrol untuk menagih janji janji mereka ketika kampanye. Saya pikir inisiasi bersama antara Pemerintah Provinsi Jakarta, DPRD DKI Jakarta dan rakyat bisa ikut merumuskan serta saling mengontrol untuk terbentuknya kota Jakarta sebagai simbol negara. Karena DKI Jakarta adalah Ibu kota negara Indonesia.
Gilang Ainan,
Blogger Rakyat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...
-
..............................................................................................................................................
-
Ada hikmah dalam kebersamaan Ada nikmat dalam bingkai silaturahmi Ada cinta dalam dekapan ukhuwah Bukber rasa baru, karena bebe...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar