Sepuluh hari pertama telah usai menandakan pekan pertama di
bulan Ramadhan berhasil dilewati. Doa penuh harap agar segala hal baik yang
dilakukan di pekan pertama menjadi awalan amalan pahala yang dihitung baik
dikemudian hari. Pernyataannya sudah jelas bahwa 10 hari pertama di bulan
ramadhan (saya lebih enjoy bilang pekan walau salah kaprah) merupakan 10 hari
yang penuh akan "rahmat".
Gw sendiri berasa banget apa yang didapatkan di 10 hari
pertama penuh dengan hikmah. Terlebih
isu Indonesia yang dijadikan pokok untuk dijadikan rahmat yakni pesan
Pancasila. Betul, karena tanggal 1 Juni 2017 Presiden Republik Indonesia
menjadikannya hari lahir Pancasila. Banyak meme meme bertebaran yang
menyebutkan saya Pancasila. Padahal gw yang awam dalam pancasila mencoba
mencari tahu apa sih sebenarnya rumusan pancasila itu digagas. Gw mencoba
mengutip tulisan Ust Salim A Fillah berikut ini :
PANTJA-SILA dan AL MAQASHID
"Seorang kawan ahli bahasa". demikian konon
dikatakan Ir.Soekarno dalam pidatonya di hadapan Sidang BPUPKI 1 Juni 1945,
"Menyarankan agar kelima pokok hal ini disebut Pancasila".
Pidat Bung Besar, rahimahumullah, kala itu memang menjawab
pertanyaan Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Sang Ketua, yakni jika nanti negara
kita berdiri, diatas dasar apakah ia akan tegak?
Kawan ahli bahasa itu tentu saja adalah Mr.M. Yamin. Tokoh
dahsyat yang mengemukakan gagasan kesatuan Indonesia-nya dengan
membesar-jayakan Majapahit hingga tokoh Gajah Mada-pun wajah ilustrasinya
meminjam potret beliau.
Sesederhana itukah lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945?
Tentu saja tidak.
Pancasila rumusan Bung Karno meletakkan kebangsaan sebagai
sila pertama dan ketuhanan sila terakhir. Lengkapnya adalah sebagai berikut :
1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau peri kemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan yang berkebudayaan
Sehari sebelumnya pada 31 Mei, Mr Soepomo mengajukan
rancangan lain :
1. Persatuan
2. Kekeluargaan
3. Keseimbangan lahir dan bathin
4. Musyawarah
5. Keadilan rakyat
Adapun gagasan Mr. M Yamin pada 29 Mei berisi :
1. Peri kebangsaan
2. Peri kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan sosial
Kesemua rumusan ini berbeda dengan yang akan ditetapkan
sebagai Dasar Negara pada 18 Agustus 1945. Untuk diketahui, selain Ir.
Soekarno, Panitia Sembilan Perumusan Dasar Negara sebagai amanat PPKI yang
menghasilkan piagam Djakarta beranggotakan pula Drs. Moh Hatta, KHA Wahid
Hasyim, Prof. KH Abdul Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, Abikusno Tjokrosuroso,
Ahmad Subardjo, Mr M Yamin dan A.A Maramis. Dari kentalnya komposisi
"Ulama dan Zu'ama ini, tak heran bahwa yang disahkan kemudian -sebelum
insiden dihapusnya 7 kata- adalah :
1. Ketoehanan dengan kewadjiban mendjalankan sjari;at islam
bagi pemeloek-pemeloek nja
2. Kemanoesiaan jang adil dan beradab
3. Persatoean Indonesia
4. Kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat, kebidjaksanaan
dalam permoesyawaratan/perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seloeroeh Rakjat Indonesia
Dari tulisan diatas setidaknya menjelaskan bahwa ada peran
Ulama dalam merumuskan pancasila. Bahkan ada yang dikaitkan dengan ayat Al
Quran di setiap sila nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar