Rabu, 21 Juni 2017

Day 27

Ketika pamit menjadi satu alasan untuk kembali ke kampung halaman, maka Bulan Ramadhan diibaratkan proses management yang berkelanjutan.
Sesuai dengan Surat Al Baqarah 183 : bahwa ada input > proses > output.
Bagaimana maksudnya ?

Inputnya adalah kita sebagai orang yang mengaku beriman sudah sepatutnya menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan beserta dengan ibadah ibadah sunnah,zakat dan amalan baik lainnya. Proses disini maksudnya adalah dilakukannya selama 1 bulan penuh menjadikan suatu proses pembelajaran yang kaya akan pahala. Output yakni dijadikanlah kita orang yang bertakwa seperti orang orang sebelum kamu, yang sepemahan saya kita bisa menambah kualitas ibadah kita pasca ramadhan.

Seusai itu pula, pimpinan Bin Roh RSCM, Asy Syifa dan Departemen Orthopaedi FK UI selaku pelaksana (panitia) Semarak Ramadhan memohon maaf yang sebesar besarnya apabila sampai saat ini masih banyak sekali kekurangan dalam pengaplikasian kepada para Jamaah.

Maka atas dasar inilah mari kita terus mensyukuri apa saja nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita. Jika ada suatu masalah coba ingat kembali bagaimana kita memulai komitmen tersebut. Teringat kajian yang disampaikan Ust Hanan Attaki bahwa kita tak boleh membandingkan istri (Saya sih belum) dengan istri Rasul. Pertama adalah karena wanita perfeksionis di dunia ini ada 4 yakni Ibunda Rasul, Siti Khadijah, Siti Aisyah, dan istri Firaun. Apabila membandingkan istri dengan mereka ber empat jelas tidak adil. Karena setiap manusia memiliki kekurangan bahkan kita harus membiasakan memupuk kebaikan yang telah diberikan oleh istri (begitu kata nya).

Selanjutnya, malam suntuk kemarin ditemani diskusi dengan sahabat Amirullah. Ada 1 kalimat dimana kita sepakat bahwa rezeki yang kita dapat itu bernilai baik dan manfaat yakni sejak kita berani membagikan rezeki yang kita punya untuk kebahagiaan orang lain. Karena disitulah titik barokah atau tidaknya rezeki kita.

Selain itu evaluasi besar pada diri saya yakni harus terus belajar untuk berani menjalani kehidupan meskipun gambaran kemungkinan serta ancer ancer yang dikhawatirkan sudah diketahui, tapi namanya manusia hanya bisa menulis dengan pena di kertas kosong, Allah SWT lah yang memiliki penghapusnya. Allah lah yang nanti akan meng acc atau tuidak keinginan yang kita tulis.

Maka bersegeralah beristighfar.
Karena tidak banyak orang yang mau menerima kekurangan kita.
Apabila ada orang yang hanya mau dengan kelebihan kita, sudah barang tentu itu bukan orang yang accepted buat kita.
Maka teruslah berevaluasi diri dan minta masukan sahabat terdekat untuk kebaikan diri kita.
Karena seseorang terus merasa benar dan baik pada diri sendiri, maka haram baginya untuk bisa memperbaiki diri.
Buku itu dibaca bukan ditaruh begitu saja, begitu pula hidup bukan hanya melihat dan acuh begitu saja.
Buku harus jadikan sumber acuan untuk dibuka tiap lembarnya, memberikan suatu informasi tiap untai kalimatnya.
Maka jadilah pembaca buku agar tahu tentang isi dunia. Karena kata sabahab Umar Bin Khattab kita harus menggenggam dunia, bukan dunia menggenggam kita.

Selamat mudik bagi yang mudik hari ini,,,,

Untuk kalian kawan maupun lawan....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...