Senin, 12 Juni 2017

Day 15

Hikmah hari ini engak sederhana.

Kalo masih ingat ramadhan yang lalu emosi saya terpancing ketika ribut dengan satpam di salah satun Bank BTPN di Bandung. Ternyata Allah menguji saya lagi, tapi emosi saya masih bisa menghajar sabar saya.


Begini ceritanya, ketika waktu buka bersama Biologi angkatan 2008 (kelas), kami menetapkan tempat bukber di Comic Cafe (Tebet Utara) Jakarta. Tempat ini dipilih berdasarkan musyawarah di grup WA. Mempertimbangkan beberapa hal seperti asap rokok, ada yang sedang hamil, bahkan ada yang membawa anak. Comic cafe sendiri dipilih diurutan terakhir karena beberapa tempat sebelumnya dipilih ketika coba di booking, ternyata penuh semua. Ya dipilih lah comic cafe. Alhamdulillah.

Saya berangkat dari Jakarta Barat sekitar pukul 17.00 karena melihat info di WA grup belum ada yang sampai. Anak-anak biologi ini unik, mereka membagi menjadi 3 clan. Clan Bekasi, Clan Depok dan Clan Tanggerang. Tapi siapa sangka ternyata clan Bekasi bisa sampai duluan. Terus Clan Jakarta kemana? santai donk jalannya menikmati kemacetan. Ada yang bawa mobil sampai saat buka pun belum sampai karena terjebak macet. KRL pada lancar, Transjakarta juga terjebak macet. Saya sih setia dengan my Vixioblack.

Sepanjang perjalanan saya pribadi agak sanksi, banyak banget kendaraan di sabtu ini. Untungnnya hanya sekitar Bunderan Slipi dan Semanggi. Tapi ketia sampai daerah dekat Tebet. Saya melihat para mahasiswa entah kampus apa membagikan takjil. Terbesit harapan bakal mendapat takjil tersebut, namun apa daya cuma lewat aja. Huft.

Sampai lah saya tepat di Comic Cafe pukul 17.30 WIB. Juru parkir muda meminta Vixioblack tidak di kunci stang. Oke saya nurutin. Acara pun berlangsung, saya tidak mengkritisi bagaimana kinerja dari Comic Cafe, alhamdulillah pada bawa air putih karena pas beduk belum ada minuman sama sekali. Syukurnya bisa mebatalkan dengan air putih, kita masih bisa salat Magrib berjamaah terlebih dahulu sebelum makan. Acara bukber berlangsung sekitar 1-2  jam, namun saya izin pulang duluan.

Ternyata disini saya di uji emosinya, dengan posisi maskeran. Ketika saya mengeluarkan motor ada juru parkir tua (seorang bapak2). Saya sudah menyiapkan uang 2 ribu rupiah, saya kasih kan ketika memundurkan motor. Kemudian bapak itu bilang 5 ribu dek!, saya bilang kok mahal banget pak! bapaknya terlebih dulu nyulut emosi saya dengan nada agak ngeselin dikit, "Saya bilang motor gede jangan masuk, berat dorong-dorongnya" (padahal vixioblack gak termasuk moge). Terus respon sederhana saya bertanya, kalo mobil memangnya kena berapa pak? 5 ribu jawabnya. Disitu saya terpancing langsung mengambil uang 2 ribu dalam genggaman bapaknya dengan sedikit kasar. Lalu bapaknya bilang "Dek! Jangan marah marah saya sudah bapak-bapak!". Disini saya langsung istigfar, ya Allah saya marah nih sama bapak nya. Meskipun saya sulit mengontrol momen emosi ini dengan baik managemen emosinya masih berantakan. Lalu saya keluarkan uang 50 ribu karena tidak ada 5 ribuan. Juru parkir bapak itu ketemu sama teman nya juru parkir lain( ini juru parkir yang menyuruh masuk motor saya), saya melihat gerak gerik bapak juru parkir itu ngobrol sama juru parkir muda. Saya sudah berfikir wah bakal berantem nih gw.... Lalu akhirnya dikembalikan uang kembalian saya. 40 ribu dengan sisa 5 ribu yang masih digenggam. Saya bilang mugkin terdengar masih dengan nada tinggi udah pak 5 ribu nya buat bapak saja. Bapaknya bilang saya gak mau, saya juga bilang saya juga ga mau pak. Ini buat bapak, saya bilang dengan sedikit agak tenang, pak saya tadi udah marah sama bapak, saya juga jarang sekali kesini, udah ini buat bapak aja ambil, Assalammualaikum dan saya melaju vixio black ke arah jalan. Mendengar sih sedikit bapaknya jawab salam saya. Syukur...

Dimana sih hikmahnya, ada statement saya sudah bapak bapak. In case saya anak Yatim dan ga punya ayah lagi. Kedua, saya ga mau karena cuma gara gara uang 5 ribu rezeki saya terhambat. Saya ingat beberapa tahun lalu kita anak PEkA juga sempat ribut dengan preman di Monas gara gara uang parkiran. Ketiga, saya gak ngebayangin kalo akhirnya berantem gara gara masalah parkir.

Memang sih disini saya mencium ketidak adilan, namun saya mencoba cepat sadar. Bersyukur sekali ketemu bapak ini, mengalikan 2 x dari jumlah yang dibayar itu dilakukan bukan untuk sombong, tapi punya tujuan memberi suatu alasan maaf agar diterima. Mungkin rejeki bapaknya markir itu bukan buat dirinya sendiri (Husnudzon) ada anak dan keluarga yang harus dinafkahi. Sedangkan diri saya, percaya ketika diniatkan baik, pasti Allah akan mengembalikannya dengan lebih baik. Semoga selau diberi kesehatan bapak (orang tua) juru parkir Comic Cafe.


Alhamdulillah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Hari ke 7 Ada pertanyaan untuk apa Puasa? Pertanyaan dari seorang ustad ketika ceramah pada saat sebelum salat tarawih berjamaah di ma...